Zaenuddin Endy
Koordinator PKPNU Sulawesi Selatan
Nahdlatul Ulama lahir dari ikhtiar para ulama yang mengabdikan hidupnya untuk agama, bangsa, dan kemaslahatan umat. Sejak berdiri pada tahun 1926, NU dibangun di atas semangat kebersamaan, musyawarah, dan pengabdian. Karena itu, NU bukanlah milik individu, kelompok, atau golongan tertentu, melainkan milik seluruh jamaah yang selama ini menjaga, menghidupkan, dan membesarkannya.
Jamaah adalah kekuatan utama NU. Dari desa hingga kota, dari pesantren hingga perguruan tinggi, dari majelis taklim hingga ruang-ruang pengabdian sosial, denyut kehidupan NU selalu hadir melalui pengabdian para kiai, santri, pengurus, dan warga nahdliyin. Mereka adalah fondasi yang membuat NU tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.
Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi. Di dalamnya, para peserta tidak hanya memilih pemimpin, tetapi juga merumuskan arah perjuangan organisasi untuk masa depan. Oleh sebab itu, muktamar harus dipahami sebagai momentum konsolidasi, bukan arena perpecahan.
Perbedaan pandangan dan pilihan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar seperti NU. Beragam aspirasi justru menunjukkan bahwa organisasi ini hidup dan memiliki tradisi demokrasi yang sehat. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh perbedaan itu tetap berada dalam bingkai ukhuwah an-nahdliyah.
Semangat musyawarah telah menjadi warisan para muassis NU. Mereka mengajarkan bahwa setiap persoalan diselesaikan dengan kebijaksanaan, dialog, dan sikap saling menghormati. Tradisi inilah yang harus terus dijaga menjelang dan selama pelaksanaan muktamar.
Siapa pun yang kelak dipercaya memimpin PBNU sesungguhnya sedang memikul amanah yang besar. Jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk melayani umat, memperkuat organisasi, dan menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Karena itu, seluruh kandidat yang memiliki niat baik untuk mengabdi patut dihormati. Perbedaan pilihan tidak boleh menghilangkan rasa persaudaraan. Setelah muktamar selesai, semua kembali menjadi keluarga besar Nahdlatul Ulama yang memiliki cita-cita yang sama.
Para kiai memiliki peran penting dalam menjaga kesejukan suasana. Nasihat, keteladanan, dan kebijaksanaan mereka menjadi penyejuk ketika muncul perbedaan pendapat. Tradisi tawaduk kepada ulama merupakan kekuatan moral yang selama ini menjaga persatuan NU.
Generasi muda NU juga memiliki tanggung jawab besar. Mereka perlu menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan aspirasi, menghindari penyebaran informasi yang memecah belah, serta mengedepankan etika dalam berdiskusi, baik di ruang nyata maupun di media sosial.
NU telah melewati berbagai fase sejarah yang penuh tantangan. Organisasi ini tetap bertahan karena selalu mengutamakan persatuan di atas kepentingan sesaat. Pengalaman sejarah tersebut menjadi pelajaran berharga agar setiap dinamika organisasi tidak merusak bangunan besar yang telah diwariskan para pendiri.
Muktamar juga harus menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan baru. Tantangan umat semakin kompleks, mulai dari pendidikan, ekonomi, lingkungan hidup, hingga perkembangan teknologi. NU memerlukan kepemimpinan yang mampu merespons perubahan tersebut tanpa meninggalkan jati dirinya.
Di sisi lain, muktamar perlu memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Pesantren adalah jantung NU yang telah melahirkan banyak ulama, intelektual, dan pemimpin bangsa.
Kebersamaan seluruh elemen NU akan menjadi modal terbesar dalam menyongsong masa depan organisasi. Ketika semua pihak mengedepankan kepentingan jamaah, maka setiap keputusan yang dihasilkan akan lebih mudah diterima dan dijalankan bersama.
Sudah saatnya seluruh warga nahdliyin mengurangi narasi yang memicu polarisasi. Perbedaan pilihan hendaknya tidak berubah menjadi permusuhan. Yang menang tidak perlu berlebihan dalam merayakan kemenangan, dan yang belum mendapatkan amanah tetap memberikan dukungan demi kemajuan organisasi.
NU akan tetap besar apabila seluruh warganya merasa memiliki organisasi ini. Rasa memiliki itulah yang melahirkan pengorbanan, keikhlasan, dan kesediaan untuk terus mengabdi tanpa mengharapkan imbalan apa pun selain ridha Allah Swt.
Marilah kita menjadikan Muktamar NU sebagai pesta demokrasi yang bermartabat, santun, dan penuh persaudaraan. Setiap proses hendaknya berlangsung secara jujur, adil, transparan, dan menjunjung tinggi aturan organisasi yang telah disepakati bersama.
Semoga seluruh rangkaian Muktamar NU berjalan dengan aman, tertib, dan penuh keberkahan. Semoga Allah Swt. memberikan petunjuk kepada seluruh peserta untuk memilih pemimpin terbaik yang mampu menjaga marwah organisasi, memperkuat persatuan, serta membawa NU semakin bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Akhirnya, kita semua perlu mengingat bahwa NU adalah milik jamaah. Kepemimpinan boleh berganti, tetapi pengabdian tidak boleh berhenti. Muktamar akan usai, namun tugas besar untuk merawat persaudaraan, menjaga warisan para ulama, dan mengabdi kepada umat akan terus berlanjut. Semoga Nahdlatul Ulama senantiasa diberi kekuatan untuk menjadi rahmat bagi Indonesia dan dunia.