160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Sisi Lain Pelantikan Raja Siri Sori Islam (4). Hentakan Kaki, Kegelapan, dan Rumah Tua

Sejarah tidak lagi diceritakan dengan cara menggurui, tapi bisa melalui penuturan secara personal di media sosial!!!

Makassar, Pedomanku,id:

Jumat 26 Juni hari ini begitu berkah. Pertama, tim kesayangan Belanda menang 3:1 atas Tunesia. Pukul 07.00 WITA tadi tim Orange ini berlaga di Kansas City Stadium. Negeri Kincir angin itu sudah unggul di menit ke-3. Ellyes Skhiri bermaksud menyapu umpan silang Denzel Dumfries dari sisi kanan, namun tendangannya malah membuat bola melaju ke gawang sendiri.

Brian Brobbey lalu menggandakan keunggulan Belanda pada menit ke-7. Bermula dari situasi tendangan bebas, Virgil van Dijk meneruskan bola umpan Tijjani Reijnders kepada Brobbey yang menuntaskan dengan tembakan keras untuk menaklukkan kiper Aymen Dahmen. Hingga babak 2 berakhir negara Kingcir Angin itu menang 3:1.

Kedua melaksanakan puasa 10 Muharam, dan ketiga menyerahkan 150 paket menu bergizi kepada dua panti asuhan, masing masing Al-Muslimun Timor Indonesia dan Al-Khaer. Keduanya panti asuhan ini berlokasi di ORW 2, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Usai sahur dan salat subuh, saya diajak mantan pacar—Ama Kaplale di depan TV. Kami berdua kepingin menyaksikan secara langsung laga tanding Belanda vs Tunesia di kediaman kami, Kompleks Taman Rianvina Blok TR 3 No 10 Minasaupa. Betapa gembiranya, saat grup kebanggaan saya Belanda menang 3:1.

Di sela sela kegembiraan itu, ingatan saya tertujuh kepada catatan bersambung ‘Sisi lain Pelantikan Raja Siri Sori Islam, edisi ke 4. Saya pun membuka leptop Azus yang sudah termakan usia. Jemari kemudian menari nari di atas tuts untuk memulai narasi berjudul  “Rumah Tua, Hentakan Kaki, dan Kegelapan!!

Baru sekitaran tiga paragraf, saya tinggalkan kemudian menuju kantor di Badan Amil Zakat Nasonal (BAZNAS) Kota Makassar. Pasalnya, Jumat pagi ini juga bersama dua rekan Darmawati dan Asrijal Syahruddin, tentuntunya dipimpin Wakil Ketua IV Bidang Adminitrasi, Umum, dan SDM, H.Jurlan Em Saho’as, menyalurkan  150 dus menu bergizi kepada anak anak  muallaf yang ditampung di Panti Asuhan Al-Muslimun Timor Indonesia. Dan sisahnya ke Panti Asuhan Al-Khaer.

Kembali ke BAZNAS yang berkantor di Jalan Teduh Bersinar No 5 Makassar, saya kembali melanjutkan catatan bersambung ke 4 ini.

Judul di atas terinspirasi sehari sebelum pelantikan raja Siri Sori Islam, Syarifuddin Pattisahusiwa dimulai dari rumah tua  masing masing Upu Lima. Di rumah tua, para upu lima ini mereka menundukkan kepala, seolah menengok leluhur masa lalu. Di rumah tua ini pula, mereka seakan merasakan alunan samar leluhur yang mengalir, menebar getaran‑getaran lembut ke dalam tulang mereka.

Makna yang terkandung di dalam rumah tua bukan sekadar formalitas, melainkan pemurnian diri—bagaimana masing masing di antara mereka menelaah sejarah, dan menata niat sebelum melangkah ke panggung adat.

Rumah tua—rumah yang pernah menjadi saksi bisu langkah kaki para leluhur, tentunya sekaligus  berfungsi seperti cermin yang memantulkan bayangan masa lalu. Mengingatkan bahwa, adat tidaklah lepas dari akar‑akar yang menancap begitu kuat.

Bagi masyarakat Siri Sori Islam, dengan berkumpul di rumah tua masing masing upu lima menegaskan satu hal yang paling krusial “ritual adat tidak berdiri sendiri, melainkan  berdiri di atas jaringan tak terlihat yang menghubungkan leluhur yang dulu bermunajab kepada Sang Khalik, demi masa depan generasi Siri Sori Islam.

Salah satu rumah tua adalah dari klan Sopamena. Jumat, 22 Mei malam itu, di sekitaran rumah tempat salah satu Upu Lima, Asgan Sopamena, dalam suasana kegelapan dipadu hembusan angin laut, membuat alur pikir saya dan sejumlah warga menjalar kemana mana.

Seperti diketahui Upu Lima– simpul persaudaraan, yang mengikat lima klan dalam satu naungan kesepakatan adat secara sakral. Selain klan Sopamena ada pula Saimima, Wattiheluw, Sopaheluawakan, dan Patty. Sementara pimpinan mereka adalah Salataoly.

Di rumah tua yang menjadi saksi bisu, Asgan dan ayahnya—Kader Sopamena (kini Almr) bersimpuh sambil bertafakkur. Keduanya seakan sedang berdialog dalam sunyi akan silsilah, atau kisah kisah keberanian dan kearifan leluhur, atau apa yang dinamai Halwat.

Dalam tradisi Siri Sori Islam, Halwat dipahami sebagai ruang teduh, dimana doa doa dihadirkan, termasuk hubungan antargenerasi dirajut kembali melalui ingatan kolektif secara khusyuk. Di sinilah letak keunikan tradisi Siri Sori Islam. Di mana Halwat menjadi instrumen pendidikan moral, dimana anak cucu diajarkan, tentang rantai yang tidak boleh putus. Jika rantai itu putus, maka hilanglah klan.

Sementara di dalam rumah tua itu sendiri, terlihat sejumlah  foto yang mulai memudar tergantung kaku di dinding. Meski begitu, baik Asgan maupun ayahnya tidak meminta barokah dari foto-foto itu. Namun keduanya meneladani nilai-nilai yang mereka tinggalkan. Keduanya melakukan ‘tabarruk’, dalam arti mengambil hikmah dari jejak orang-orang saleh yang pernah menempati rumah tua itu.

Mengapa mengambil hikmah padahal orang dalam gambar gambar tersebut telah tiada sejak lama? Dalam literatur klasik yang dipelajari di pesantren-pesantren NU, terdapat riwayat (meskipun statusnya sering dikategorikan perkataan sahabat/tabiin) melihat, ruh-ruh orang mukmin biasanya kembali ke rumah, keluarganya yang masih hidup.

Bagi kalangan nahdliyin, pernyataan “ruh leluhur kembali ke rumah” tidak dipahami secara materialistik, seperti tamu biasa. Bukan pula berarti mereka “pulang” untuk menetap atau sekadar berjalan-jalan seperti manusia hidup.

Kehadiran ruh ruh leluhur adalah bentuk koneksi spiritual. Apalagi, jika di dalam rumah itu selalu dibacakan yasinan, tahlil, ataukah bersedekah atas nama mereka. Jika itu dilakukan secara baik dan benar, setidaknya para ruh itu datang ke rumah guna menerima “hadiah” doa yang dikirim. Dalam bahasa tasawuf, ini disebut dengan inkishaf, atau terbukanya hijab ruhani.

Disisi lain, jika ditelusuri dalam pandangan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, ruh orang yang sudah meninggal dunia tidaklah “terpenjara” di dalam kubur. Apalagi, orang-orang saleh, para wali, dan kekasih Allah, ruh ruh mereka diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk bergerak, mengunjungi tempat-tempat tertentu, atau melihat kondisi keluarga yang ditinggalkan. Minimal setiap pekan, Hari Kamis-dan kembali hari Jumat.

Dalam perspektif Islam, ada doa khusus untuk leluhur, yaitu “Robbighfirli waliwalidayya walil-mu’minina yauma yaqumul-hisab.”  Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Ar-Ruh—yang sering menjadi rujukan ulama NU—menyebutkan bahwa ruh-ruh orang mukmin memiliki derajat kebebasan yang berbeda. Ruh para wali, karena kedekatannya dengan Allah, memiliki hak “ziarah” ke dunia atas izin-Nya.

Asgan Sopamena kemudian  berdiri di depan pintu keluar. Ayahnya, berdiri disamping agak ke belakang, kemudian memberi isyarat. Ayahnya pun menyapu kepala, dan bahu, seraya memberi aba aba untuk melangkah. Dengan sikap kesatria, Asgan menghentakan kaki kanan, sambil berkata ‘TABEA”.

Pertanyaannya mengapa hentakan kaki kanan? Hentakan kaki ini bukan semata gerakan kareografis, melainkan khazanah dari salah satu elemen simbolik. Hentakan kaki ini pula, bukan bermaksud menyakiti bumi, melainkan “membangunkan” energi yang terpendam.

Jika ditilik dari sisi filosofis dan spiritual misalnya, hentakan kaki kanan selain menegaskan, tidak ada kata mundur. Malah, tidak ada kata takut, terhadap siapapun dan apapun.

Saat Asgan Sopamena keluar rumah, saya pun perlahan mengikuti dari belakang. Saya mendengar teriakan itu sangat jelas. ‘Om Jang jalan di belakang”.  Saya tidak menghiraukan. Itu, lantaran saya juga kepingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana para Upu Lima itu menapktilasi jejak leluhur dulu, tentunya dalam bingkai Siri Sori Islam.

Soal larangan jalan di bekalang, atau menghalang halangi jalanan, saya mengkonfirmasi kepada Adam Sopaheluwakan—salah satu Upul Lima dari klan Sopaheluwakan. Menurutnya, larangan itu ditakutkan menghambat jalannya para leluhur yang juga ‘melakukan” hal serupa.

“Kami ketahui, tentunya dari bertutur orang tua, jika di kampung melakukan kegiatan adat, maka ada juga kegiatan serupa yang kabarnya dilakukan para leluhur. Kegiatan adat itu kabarnya bukan saja dilakukan di dalam kampung, melainkan juga di hutan hutan. Itulah makanya, sehari sebelum pelaksanaan adat, usai magrib diumumkan agar masyarakat berhati hati dalam melakukan hal lain. Kecuali jika sudah ada pemberian “pas jalan”, ranting dari jenis tanaman,” ujarnya.

Adam Sopaheluwakan menambahkan, mewakili klan Sopaheluwakan, dirinya bersiap siap di rumah tua yang kini ditempati keluarga Ibu Na Holle. Di dalam rumah tua itu, dirinya bertasbih, berzikir, dan berdoa tentunya kepada leluhur.

Malam itu Adam menunggu kedatangan Asgan dari klan Sopamena. Keduanya kemudian menuju rumah tua Wattiheluw-Sehan. Dari rumah tua klan Wattiheluw ketiganya menuju rumah klan Saimima/Papulwa (Haruddin), kemudian menuju rumah tua Patti—(Abu). Mereka berlima kemudian ke rumah panglima, atau tuan tanah di rumah tua Salatalohy (Abu).

Dalam perjalanan tanpa cahaya lampu itu, selintas muncul di pikiran, hentakan kaki kanan adalah eksistensi, keberanian, keteguhan, kekuatan, doa, hingga penghormatan kepada leluhur.

Lalu bagaimana kaitannya di tengah dunia yang serba digital dan abstrak, atau milenial saat ini? Malam itu terdengar suara seseorang. Dia menyebut, hentakan kaki kanan  memberikan rasa keterhubungan yang nyata.

“Saat kaki kanan menghantam tanah, maka dia seolah merasa terhubung kembali dengan akar budaya. Tentunya, sebagai pengingat bahwa, meskipun masih muda dan berada pada dunia yang berkembang saat ini,  kaki tetap berpijak di tanah,” ujarnya.

Saya pun berpikir, mungkin saja, hentakan kaki kanan itu merupakan simbol kekuatan, meski di tengah arus modernitas saat ini.  Sebab, hentakan kaki itu memiliki resonansi yang berbeda. Jika dulu hentakan kaki dimaknai sebagai persiapan perang, kini di era  berkemajuan saat ini dimaknai sebagai pembumian.

Untuk itulah, bagi generasi baru saat ini, hentakan itu bukan lagi soal menakut-nakuti lawan, melainkan cara bertutur kepada dunia bahwa, sampai kapanpun mereka bangga dengan sejarah, dan kearifan lokal yang pernah dilakukan leluhur.

Generasi Siri Sori Islam saat ini pun sadar bahwa, tradisi mereka tidak lenyap. Tidak hilang. Tidak tertukar. Dan tidak bakal berpindah dari sekadar ritual masa lalu, melainkan menjadi napas yang terus berdenyut dalam setiap langkah kaki hingga ke generasi masa depan.

Malah, mereka tetap berprinsif bahwa, sejarah, dan tanah leluhur akan selalu bergetar selama mereka masih berpijak. Apalagi, ketika tradisi ini bersinggungan dengan keyakinan Islam yang dianuti.

Lalu bagaimana seperti ternarasi di atas, Upu Lima berjalan dalam keadaan tanpa cahaya lampu? Bagi saya, entahlah bagi lain orang, berjalan tanpa cahaya lampu, tidak semata bertumpu pada satu pandangan semata, yaitu berjalannya Upu Lima dalam kegelapan.

Meski berjalan dalam kegelapan tidak berarti tersesat, lantaran ada alur sejarah, ketika para leluhur dahulu sedang menuju titik pusat diri yang paling murni.

Kemudian dalam narasi lokal Siri Sori Islam, dunia tidak selalu menyuguhkan cahaya. Ada saat-saat di mana tertutup kabut, dan “penglihatan” mata kepala kehilangan fungsinya. Di sinilah Upu Lima, dapat memanfaatkan lima jari sebagai kompas—yakni metode semesta untuk memaksa manusia tidak semata mengandalkan “penglihatan mata”, tetapi juga mengandalkan “sentuhan ruhani”.

Lima jari yang dimaksud, tidak saja organ, melainkan simbol dari lima elemen poros. Jempol misalnya adalah poros tuhan, telunjuk adalah kehendak, tengah berkaitan dengan keseimbangan, manis kesetiaan, serta kelingking adalah kerendahan hati.

Karenanya, jika seseorang berjalan dalam kegelapan, tentunya keberadaan jempol yang mampu menyentuh keempat jari lainnya melambangkan bahwa dalam gelapnya hidup. Keberadaan jempol sebagai pengingat bahwa, di balik kegelapan yang mengepung, ada satu titik pusat yang tetap tenang, yaitu tuhan.

Jari telunjuk dalam kegelapan berfungsi sebagai penunjuk arah. Dia tidak lagi bergantung pada penglihatan, melainkan pada intuisi. Jika mata tak lagi bisa melihat jalan, telunjuk diarahkan ke langit atau ke dalam batin. (din pattisahusiwa/bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Juga