160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Geneologi Intelektualisme NU

 

Oleh: Zaenuddin Endy

Geneologi intelektualisme Nahdlatul Ulama (NU) tidak dapat dilepaskan dari dinamika panjang tradisi keilmuan Islam klasik yang berakar pada pesantren. Tradisi ini membentuk corak berpikir khas yang memadukan teks, konteks, dan praksis keagamaan dalam satu kesatuan epistemik. Intelektualisme NU tumbuh bukan dari ruang akademik modern yang formal, melainkan dari proses transmisi ilmu melalui sanad keilmuan yang panjang dan sahih, menjadikan ilmu bukan sekadar kumpulan informasi, tetapi juga warisan spiritual yang berorientasi pada adab dan keberkahan.

Jika dirunut ke belakang, akar intelektualisme NU bersumber dari khazanah keilmuan para ulama Nusantara yang belajar di Haramain pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20. Para tokoh seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz at-Tarmasi, dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan generasi awal yang menanamkan tradisi berpikir tekstual sekaligus kontekstual dalam memahami agama. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan keilmuan Islam Timur Tengah dengan konteks lokal Nusantara, dan dari mereka pula muncul generasi ulama yang kelak mendirikan NU.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU merupakan puncak sintesis antara dua arus besar: tradisi pesantren dan keilmuan global Islam. Dalam karya monumentalnya Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, ia menegaskan bahwa ilmu harus berangkat dari adab. Inilah fondasi intelektualisme NU: pengetahuan yang tidak tercerabut dari moralitas dan spiritualitas. KH. Hasyim Asy’ari bukan hanya ulama fiqih, tetapi juga pemikir yang memahami dimensi epistemologis keislaman dalam bingkai ahlussunnah wal jama’ah.

Dari titik itu, intelektualisme NU berkembang sebagai gerakan keilmuan yang menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. NU tidak menutup diri terhadap modernisasi, tetapi memilih jalur transformasi gradual melalui pendidikan pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi. Pola ini memperlihatkan bahwa bagi NU, modernisasi bukan berarti memutus tradisi, melainkan menafsir ulangnya agar tetap relevan dengan zaman.

Geneologi ini juga memperlihatkan kesinambungan antara turats (warisan klasik) dan tajdid (pembaruan). Ulama NU tidak menempatkan turats sebagai fosil masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi dalam membaca realitas kekinian. Karena itu, tafsir, fikih, dan tasawuf dalam tradisi NU selalu bersifat dinamis dan terbuka. KH. Ahmad Siddiq, KH. Ali Yafie, dan KH. M. Quraish Shihab, misalnya, menjadi contoh ulama yang berhasil menampilkan wajah moderat dan dialogis dari Islam Nusantara yang berakar kuat dalam tradisi NU.

Intelektualisme NU memiliki karakter khas yang berbeda dari rasionalisme Barat. Bagi NU, ilmu tidak hanya bersumber dari rasio, tetapi juga dari pengalaman ruhani dan bimbingan guru. Struktur epistemik ini menempatkan dzauq (rasa) dan ilham (intuisi spiritual) sejajar dengan burhan (argumen rasional). Karena itu, corak pemikiran NU cenderung mengintegrasikan logika, etika, dan estetika dalam satu horizon keilmuan.

Tradisi halaqah dan bahtsul masail di pesantren menjadi arena praksis intelektualisme NU. Di ruang inilah para kiai dan santri berdialog dengan teks-teks klasik, menafsirkan ulang persoalan baru, dan merumuskan pandangan hukum sesuai konteks sosial. Proses ini melahirkan etika berpikir kolektif dan kerendahan hati intelektual yang menolak klaim kebenaran tunggal. Dalam perspektif ini, NU mengajarkan bahwa intelektual sejati adalah mereka yang berkhidmat pada kemaslahatan umat, bukan pada ego ilmiah.

Selain itu, geneologi intelektualisme NU terikat kuat dengan konsep sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah. Keilmuan tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi dari kesinambungan otoritas ilmu. Hal ini menjadikan setiap ulama NU tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rantai panjang pewaris ilmu kenabian. Dengan demikian, otentisitas keilmuan NU bukan terletak pada sistem formalitas, melainkan pada kontinuitas spiritual yang terjaga.

Dalam perjalanan sejarah, muncul generasi intelektual muda NU yang menafsirkan ulang ajaran aswaja dengan pendekatan baru. Gerakan seperti Gusdurian, Lakpesdam, dan lembaga riset NU memperluas arena intelektualisme ke wilayah kebudayaan, politik, dan kemanusiaan. Mereka tetap berpijak pada tradisi pesantren, tetapi berani berdialog dengan teori-teori modern seperti hermeneutika, sosiologi pengetahuan, hingga filsafat kritis.

Berita Terkait

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menempati posisi sentral dalam babak baru geneologi intelektualisme NU. Ia menjembatani tradisi pesantren dengan wacana intelektual global. Melalui pemikirannya tentang Islam Nusantara, pluralisme, dan demokrasi, Gus Dur memperluas cakrawala berpikir NU sekaligus menegaskan bahwa tradisi tidak bertentangan dengan kemajuan. Intelektualisme Gus Dur membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren dapat menjadi dasar bagi humanisme universal.

Setelah Gus Dur, lahir generasi intelektual muda NU seperti KH. Said Aqil Siradj, Ahmad Baso, Ulil Abshar Abdalla, dan Zuhairi Misrawi yang terus mengembangkan horizon keilmuan NU. Mereka menulis, meneliti, dan berdialog dengan pemikiran modern, tanpa kehilangan akar spiritual pesantren. Geneologi ini memperlihatkan kesinambungan dinamis antara teks dan konteks, antara lokalitas dan universalitas.

Dalam konteks globalisasi, intelektualisme NU menjadi model penting bagi Islam yang ramah, terbuka, dan toleran. Ketika banyak gerakan Islam terjebak pada formalisme syariah, NU menawarkan paradigma substantif: Islam yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan kebangsaan. Di sinilah letak kekuatan geneologi intelektual NU—ia tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadikannya sumber energi moral untuk membangun peradaban.

Keberlanjutan intelektualisme NU juga ditopang oleh ekosistem pendidikan. Pesantren, universitas NU, dan lembaga-lembaga riset menjadi wadah bagi regenerasi pemikir Aswaja. Proses ini menciptakan kesinambungan antara ilmu klasik dan ilmu kontemporer. Para santri kini bukan hanya penghafal kitab, tetapi juga peneliti, akademisi, dan penulis yang menafsirkan Islam dengan pendekatan ilmiah tanpa kehilangan ruh keulamaan.

Pada tataran praksis, geneologi ini menunjukkan bahwa intelektualisme NU adalah bentuk ijtihad jama’i yang terus hidup. Ia bukan milik individu, melainkan hasil dialektika komunitas ulama dan santri. Setiap generasi menambahkan lapisan makna baru tanpa menghapus fondasi lama. Dengan demikian, NU tidak sekadar organisasi keagamaan, tetapi juga jaringan intelektual yang terus berkembang seiring perjalanan sejarah bangsa.

Dalam pandangan akhir, intelektualisme NU adalah warisan sekaligus proses. Ia tumbuh dari akar spiritual, dirawat oleh tradisi, dan disegarkan oleh dialog dengan zaman. Geneologi ini menunjukkan bahwa NU bukan sekadar penjaga masa lalu, melainkan penafsir masa depan. Selama pesantren hidup dan sanad ilmu terjaga, intelektualisme NU akan tetap menjadi cahaya yang menuntun arah peradaban Islam di Indonesia. (Penulis Wakil Ketua ISNU)

Facebook Comments Box

Baca Juga