160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Tipe dan Generasi Intelektualis NU

Oleh: Zaenuddin Endy

Intelektualisme Nahdlatul Ulama merupakan warisan dinamis yang berkembang seiring perubahan zaman dan tantangan sosial. Dalam sejarahnya, muncul beragam tipe dan generasi intelektualis NU yang masing-masing memainkan peran penting dalam membangun tradisi keilmuan dan memperluas jangkauan pemikiran Islam di Indonesia. Mereka bukan hanya pewaris ilmu para ulama klasik, tetapi juga penafsir realitas baru yang terus bergerak antara teks dan konteks.

Generasi pertama intelektualis NU muncul dari kalangan ulama pendiri yang hidup di awal abad ke-20. Mereka adalah para kiai pesantren yang memperoleh pendidikan di Haramain dan kemudian kembali ke Nusantara untuk membangun jaringan keilmuan Islam tradisional. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Syansuri merupakan figur utama generasi ini. Tipe intelektual mereka dapat disebut sebagai ulama-ideolog, yakni ulama yang memadukan keilmuan fiqih, tasawuf, dan teologi dengan visi kebangsaan dan sosial.

Generasi pertama ini menekankan pentingnya menjaga ortodoksi Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah arus modernisme Islam dan kolonialisme Barat. Mereka mendirikan pesantren sebagai pusat peradaban ilmu dan spiritualitas, serta NU sebagai wadah sosial-politik umat Islam. Dalam tipologi intelektual, mereka adalah tradisionalis-transformis: mempertahankan tradisi sambil merespons perubahan sosial melalui pendekatan kultural dan politik.

Memasuki generasi kedua, muncul intelektual NU pasca-kemerdekaan yang berperan dalam konsolidasi organisasi dan pendidikan Islam. Tokoh seperti KH. Idham Chalid, KH. A. Wahid Hasyim, dan KH. Achmad Siddiq merupakan representasi dari tipe intelektual birokratik dan organisatoris. Mereka memadukan kecerdasan politik, kemampuan administrasi, dan kedalaman keilmuan agama untuk membangun NU sebagai kekuatan sosial dan pendidikan.

Pada masa ini, pendidikan formal mulai diintegrasikan ke dalam sistem pesantren. Para intelektual NU generasi kedua mulai menulis buku, menyusun kurikulum, dan memperkuat peran madrasah. Mereka membuka ruang bagi dialog antara ilmu agama dan ilmu umum. Tipe ini menunjukkan transformasi dari ulama-tradisional menuju ulama-pendidik, yang berusaha memperluas horizon intelektual santri tanpa kehilangan akar keilmuan klasik.

Generasi ketiga intelektualis NU muncul pada dekade 1970–1990, seiring berkembangnya wacana pembaruan pemikiran Islam dan meningkatnya peran kaum muda NU di universitas. Tokoh-tokoh seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siradj, dan KH. A. Mustofa Bisri menandai kemunculan tipe intelektual kritis-humanis. Mereka memadukan pemikiran pesantren dengan teori-teori sosial modern, membangun jembatan antara Islam dan kemanusiaan, antara tradisi dan demokrasi.

Gus Dur menjadi ikon generasi ini. Ia menafsir ulang nilai-nilai pesantren dalam kerangka humanisme, pluralisme, dan kebangsaan. Pemikirannya melampaui batas-batas teologis tradisional tanpa meninggalkan akar aswaja. Generasi ini menandai pergeseran dari intelektual keulamaan ke intelektual publik yang berbicara di ruang nasional bahkan global. Mereka membuktikan bahwa Islam tradisional memiliki kapasitas intelektual untuk berdialog dengan modernitas.

Tipe intelektual NU pada periode ini bersifat reflektif dan analitis. Mereka tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menulis karya ilmiah, kolom opini, dan esai kebudayaan. Mereka memanfaatkan media sebagai sarana dakwah intelektual. Paradigma berpikir mereka didasarkan pada ijtihad sosial, yakni menjadikan agama sebagai etika publik untuk memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan.

Generasi keempat muncul pasca-reformasi, dengan karakter yang lebih akademik dan plural. Lahir dari rahim lembaga pendidikan tinggi, intelektual NU generasi ini memiliki latar belakang disiplin ilmu yang beragam, dari teologi hingga sosiologi, dari hukum hingga ilmu politik. Tokoh-tokoh seperti Ahmad Baso, Zuhairi Misrawi, dan Akhmad Sahal mewakili tipe intelektual akademik-progresif yang aktif dalam wacana publik dengan pendekatan ilmiah dan interdisipliner.

Ciri khas generasi keempat adalah kemampuan mereka mengartikulasikan Islam Nusantara dan Aswaja dalam bahasa akademik global. Mereka tidak hanya berbicara untuk kalangan pesantren, tetapi juga berdialog dengan wacana filsafat modern, hermeneutika, dan teori sosial kritis. Intelektualisme mereka bersifat kosmopolitan namun tetap berakar pada tradisi pesantren. Ini menunjukkan keberhasilan NU dalam melahirkan intelektual hybrid yang mampu memadukan tradisi dan modernitas.

Selain empat generasi utama tersebut, kini mulai muncul generasi kelima, yaitu intelektual digital NU. Mereka adalah santri, akademisi muda, dan aktivis yang memanfaatkan teknologi informasi sebagai ruang baru bagi dakwah dan keilmuan. Generasi ini lahir di tengah dunia yang serba cepat dan terfragmentasi. Mereka menggunakan media sosial, podcast, dan kanal digital untuk mengembangkan wacana Islam moderat, membela toleransi, dan melawan ekstremisme.

Tipe intelektual digital ini berbeda dari generasi sebelumnya karena orientasinya lebih komunikatif dan partisipatif. Mereka tidak hanya menulis di jurnal ilmiah, tetapi juga di ruang publik daring yang dapat diakses masyarakat luas. Pola baru ini menunjukkan demokratisasi pengetahuan dalam tradisi NU, di mana setiap individu dapat berkontribusi dalam membangun wacana keislaman tanpa harus menjadi ulama besar terlebih dahulu.

Namun, di balik keragaman generasi dan tipe tersebut, ada benang merah yang mengikat seluruh intelektual NU: kesetiaan terhadap nilai Aswaja dan cinta tanah air. Baik ulama klasik maupun intelektual modern, semuanya berangkat dari kesadaran bahwa ilmu harus menuntun pada kemaslahatan, bukan sekadar prestise akademik. Karena itu, semua tipe intelektual NU, dari kiai pesantren hingga peneliti modern, tetap berpijak pada nilai adab, khidmah, dan keikhlasan.

Dalam kerangka historis, tipe-tipe intelektual ini mencerminkan evolusi epistemologis NU dari tradisi lisan menuju tradisi tulisan dan kini ke tradisi digital. Masing-masing fase menunjukkan kemampuan NU dalam beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Inilah kekuatan geneologi intelektual NU: lentur terhadap konteks, tetapi teguh dalam prinsip.

Perbedaan generasi bukanlah pertentangan, melainkan kesinambungan. Setiap periode menambahkan warna baru dalam mozaik intelektualisme NU. Generasi pertama membangun fondasi spiritual dan moral; generasi kedua memperkuat kelembagaan; generasi ketiga membuka horizon kebudayaan dan demokrasi; generasi keempat memperluas wacana akademik; dan generasi kelima membawa NU ke ruang digital. Semua berjalan dalam satu garis sejarah yang saling melengkapi.

Berita Terkait

Tipe dan generasi intelektualis NU menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam di Indonesia tidak pernah statis. Ia terus hidup dan menyesuaikan diri dengan tantangan zaman. Dari pesantren hingga perguruan tinggi, dari kitab kuning hingga ruang maya, intelektualisme NU membuktikan dirinya sebagai sistem pengetahuan yang berakar kuat, berwajah moderat, dan berorientasi kemanusiaan. Dengan itu, NU tetap menjadi kekuatan moral dan intelektual yang menjaga keseimbangan antara agama, budaya, dan peradaban. (Penulis Wakil Ketua ISNU Kota Makassar)

Facebook Comments Box

Baca Juga