160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Tokoh dan Pemikiran Intelektual NU

Oleh: Zaenuddin Endy

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki tradisi intelektual yang panjang dan kaya. Tradisi ini melahirkan banyak tokoh yang tidak hanya menjadi panutan spiritual, tetapi juga pemikir yang memberikan arah bagi perkembangan Islam moderat di Nusantara. Intelektualisme NU tidak terlahir di ruang kosong; ia tumbuh dari rahim pesantren yang menggabungkan kedalaman ilmu agama, kepekaan sosial, dan kesadaran kebangsaan. Para tokohnya mengembangkan gagasan yang berpijak pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah dengan pandangan dunia yang terbuka dan dialogis.

Tokoh pertama yang menjadi fondasi intelektualisme NU adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sebagai pendiri NU, ia menanamkan pandangan bahwa ilmu dan amal harus berjalan seiring. Dalam karyanya Adabul ‘Alim wal Muta’allim, KH. Hasyim menegaskan pentingnya adab dalam proses keilmuan. Bagi beliau, ilmu tidak hanya diukur dari keluasan pengetahuan, tetapi juga dari kemurnian niat dan keluhuran akhlak. Pemikiran ini menjadi pondasi bagi karakter keilmuan pesantren: berilmu tinggi, tetapi tetap rendah hati dan berakhlak mulia.

Selain itu, KH. Hasyim Asy’ari menolak pandangan keagamaan yang ekstrem, baik dari kalangan modernis maupun fundamentalis. Ia mengajarkan Islam yang tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang). Dengan prinsip ini, Hasyim Asy’ari membentuk paradigma berpikir yang menjadi dasar intelektualisme NU hingga kini: berpihak pada tradisi, tetapi terbuka terhadap kemajuan. Pemikirannya tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sosial-politik, terutama dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tokoh berikutnya yang menonjol adalah KH. Wahab Chasbullah, sahabat sekaligus rekan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari. Ia dikenal sebagai intelektual organisatoris dan aktivis kebangsaan. Pemikirannya menekankan pentingnya kemandirian umat melalui gerakan sosial dan ekonomi. KH. Wahab merupakan motor di balik pembentukan struktur organisasi NU yang modern, serta penggagas gagasan “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air bagian dari iman). Pandangan ini menunjukkan bahwa keislaman dan keindonesiaan bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.

KH. Wahab Chasbullah juga membawa tradisi keilmuan pesantren ke ranah publik. Ia menulis, berdiskusi, dan berdebat di berbagai forum, menjadikan pesantren tidak tertutup, tetapi hadir aktif dalam wacana sosial-politik. Dengan caranya, ia menunjukkan bahwa intelektualisme NU bukan sekadar kegiatan akademis, tetapi juga praksis sosial yang membumi. Ia adalah contoh konkret dari intelektual pejuang yang menggabungkan nalar, iman, dan aksi.

Tokoh lain yang penting adalah KH. Wahid Hasyim, generasi penerus yang menjembatani tradisi klasik dan modernitas. Sebagai Menteri Agama pertama Republik Indonesia, ia membawa visi modernisasi pendidikan Islam. Ia memperkenalkan kurikulum yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum, serta memperluas akses pendidikan bagi masyarakat santri. Pemikirannya tentang integrasi ilmu menjadi dasar bagi munculnya lembaga pendidikan NU modern. Ia adalah simbol dari intelektual reformis yang berusaha mengaktualkan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan nasional.

KH. Wahid Hasyim juga berperan besar dalam perumusan dasar negara. Ia memperjuangkan agar Islam dan Pancasila tidak saling menegasikan, melainkan bersinergi dalam membangun bangsa. Dalam hal ini, ia menunjukkan kedewasaan berpikir yang menempatkan agama sebagai etika publik, bukan alat politik. Pandangan ini kemudian menjadi warisan penting bagi generasi intelektual NU berikutnya yang konsisten mengembangkan Islam yang ramah dan berkeadaban.

Di era yang lebih kontemporer, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi figur sentral dalam dinamika intelektualisme NU. Gus Dur membawa tradisi pesantren ke ruang publik nasional dan internasional. Pemikirannya luas, mencakup bidang teologi, sosial, politik, dan kebudayaan. Ia memandang Islam sebagai agama yang humanis dan universal. Dalam banyak tulisannya, Gus Dur menegaskan bahwa esensi Islam adalah penghormatan terhadap martabat manusia. Dari sinilah lahir gagasan “Islam rahmatan lil ‘alamin” dalam konteks kemanusiaan dan kebangsaan Indonesia.

Gus Dur juga dikenal sebagai pelopor pribumisasi pemikiran Islam di kalangan tradisionalis. Ia berani menafsirkan ulang teks-teks keagamaan dengan pendekatan sosial dan historis. Baginya, agama harus membebaskan, bukan membelenggu. Pemikiran Gus Dur tentang pluralisme, demokrasi, dan hak asasi manusia menjadikan NU dikenal sebagai kekuatan Islam moderat yang terbuka terhadap perubahan global. Ia adalah contoh sempurna dari intelektual publik yang menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai dasar perjuangan kemanusiaan.

Selain Gus Dur, KH. Achmad Siddiq juga memainkan peran penting dalam penguatan ideologi Aswaja di tubuh NU. Ia menekankan bahwa Aswaja bukan hanya mazhab keagamaan, tetapi juga cara berpikir yang menyeimbangkan teks dan konteks. Dalam Munas Alim Ulama Situbondo tahun 1984, pemikirannya tentang hubungan Islam dan negara menjadi tonggak penting kembalinya NU ke khittah 1926. Ia meletakkan dasar teologis bagi sikap politik NU yang netral-partisipatif, yakni tidak partisan tetapi tetap berperan aktif dalam kehidupan berbangsa.

Masuk ke era reformasi, muncul tokoh-tokoh intelektual muda NU seperti KH.Mun’im DZ, KH. Said Aqil Siradj, Ahmad Baso, Zuhairi Misrawi, dan Akhmad Sahal. Mereka memperluas cakrawala pemikiran NU dengan pendekatan akademik dan teoritik. KH. Said Aqil, misalnya, menekankan pentingnya tasawuf sosial, yakni spiritualitas yang berpihak pada kaum lemah dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Pemikiran ini menunjukkan bahwa sufisme tidak berarti menarik diri dari dunia, tetapi menjadi kekuatan moral untuk perubahan sosial.

Ahmad Baso dan generasi muda lainnya membawa tradisi pesantren ke wilayah kajian filsafat, hermeneutika, dan teori sosial kritis. Mereka mengembangkan wacana Islam Nusantara yang menegaskan identitas keislaman Indonesia sebagai hasil dialog antara teks dan budaya lokal. Melalui pendekatan ini, Islam tidak lagi dipahami secara kaku dan formalistik, tetapi sebagai sistem nilai yang hidup dalam konteks masyarakat. Intelektualisme mereka menandai lahirnya neo-tradisionalisme NU, yakni kesetiaan pada tradisi dengan kesadaran modernitas.

Tokoh-tokoh NU juga memainkan peran penting dalam bidang sosial-politik. Mereka mengembangkan konsep fiqih sosial yang digagas KH. Ali Yafie, yang menekankan bahwa hukum Islam harus berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini menolak formalisme syariat dan mengutamakan maqashid al-syariah (tujuan syariat). Melalui konsep ini, Islam menjadi etika sosial yang membimbing kehidupan modern tanpa kehilangan akar spiritualnya.

Selain itu, intelektual NU juga berperan dalam mengembangkan ekoteologi dan pendidikan multikultural. Para pemikir seperti KH. Sahal Mahfudz menulis tentang pentingnya ijtihad kontekstual yang berlandaskan kebutuhan masyarakat modern. Ia menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, serta mengajak santri untuk menjadi ilmuwan yang beriman. Pemikirannya memperluas horizon intelektual NU dari sekadar keilmuan normatif menjadi praksis sosial yang relevan dengan isu-isu kontemporer.

Keseluruhan tokoh dan pemikiran ini menunjukkan bahwa intelektualisme NU adalah mozaik yang kaya dan dinamis. Dari KH. Hasyim Asy’ari hingga Gus Dur, dari KH. Wahab Chasbullah hingga KH. Mun’im DZ, semuanya terhubung oleh satu benang merah: mengembangkan Islam yang beradab, moderat, dan kontekstual. Mereka membuktikan bahwa tradisi pesantren tidak ketinggalan zaman, justru menjadi sumber kebijaksanaan dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.

Dengan demikian, para tokoh intelektual NU tidak hanya menjadi penjaga warisan keilmuan Islam klasik, tetapi juga inovator yang menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dalam konteks kekinian. Mereka menulis, berdiskusi, berjuang, dan menginspirasi. Pemikiran mereka telah membentuk wajah Islam Indonesia yang damai, rasional, dan manusiawi, sebuah warisan intelektual yang terus hidup dalam setiap generasi santri dan umat Islam di Nusantara. (Penulis wakil ketua ISNU Kota Makassar)

Facebook Comments Box

Baca Juga