Oleh: Zaenuddin Endy
Warisan keilmuan Nusantara adalah fondasi peradaban yang telah menopang perjalanan intelektual bangsa selama berabad-abad. Di dalamnya, terpatri nalar yang lentur, etika yang halus, serta kebijaksanaan yang tumbuh dari dialog panjang antara tradisi lokal dan pengaruh global. Menghidupkan kembali warisan ini berarti menyalakan kembali obor pengetahuan yang pernah menjadi cahaya bagi masyarakat dari pesisir hingga pedalaman.
Jejak keilmuan Nusantara tidak hanya hadir dalam manuskrip atau lontar, tetapi juga dalam praktik hidup sehari-hari: dalam bahasa, simbol, ritual, tata nilai, hingga cara masyarakat mengelola alam dan struktur sosial. Pengetahuan itu lahir dari refleksi mendalam terhadap pengalaman kolektif, lalu diolah menjadi pedoman etis dan intelektual yang mampu bertahan lintas generasi. Sayangnya, banyak dari kekayaan tersebut kini tersimpan dalam ruang-ruang sunyi yang jarang disentuh.
Proses penghidupan kembali warisan keilmuan tidak bisa dilakukan hanya dengan nostalgia. Ia memerlukan pembacaan kritis, pembaruan metodologis, dan upaya mengontekstualkan kembali nilai-nilai lama ke dalam realitas kontemporer. Dengan demikian, warisan itu tidak mati sebagai peninggalan masa lalu, tetapi bangkit sebagai sumber inspirasi baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Banyak naskah kuno dari kitab-kitab pesantren, lontaraq Bugis-Makassar, babad Jawa, hingga hikayat Melayu menyimpan teori sosial, politik, moral, dan spiritual yang relevan dengan tantangan saat ini. Menyelami teks-teks tersebut bukan sekadar mengumpulkan artefak sejarah, tetapi juga mengurai pola pikir yang pernah membentuk karakter intelektual masyarakat Nusantara. Di dalamnya terdapat konsep keseimbangan, adab, musyawarah, dan harmoni, yang berpotensi menjawab krisis etika dan sosial dewasa ini.
Menghidupkan warisan keilmuan juga berarti menguatkan kembali tradisi lisan yang selama ini menjadi medium ilmu yang tidak tertulis. Nasihat para tetua, petuah ulama kampung, hingga simbol-simbol adat adalah bentuk kebijaksanaan yang tumbuh dari pengalaman hidup nyata. Ketika tradisi lisan dihargai, pengetahuan lokal tidak punah, tetapi terus mekar dalam ruang baru, berdampingan dengan ilmu modern.
Di pesantren, misalnya, tradisi keilmuan klasik diwariskan melalui sanad, kedisiplinan belajar, serta pembiasaan adab yang mengakar. Pesantren menjadi pintu penting untuk menghidupkan kembali khazanah intelektual Nusantara, sebab di sana bertemu tradisi Islam klasik dan kearifan lokal, lalu melahirkan sintesis ilmu yang khas. Perpaduan itu membentuk corak pemikiran yang toleran, mendalam, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Selain itu, revitalisasi warisan keilmuan memerlukan peran perguruan tinggi yang memiliki sumber daya untuk meneliti, mengarsipkan, dan mendigitalisasi naskah-naskah lama. Teknologi dapat menjadi jembatan yang memungkinkan generasi muda mengenal kembali akar intelektual bangsanya. Ketika manuskrip kuno hadir dalam bentuk digital yang mudah diakses, maka pengetahuan masa lalu tidak lagi terjebak di ruang terbatas.
Namun, upaya menghidupkan kembali khazanah keilmuan tidak cukup hanya dengan pelestarian. Diperlukan keberanian untuk mengembangkan teori baru berdasarkan dialog kreatif antara pengetahuan tradisional dan ilmu modern. Di titik ini, warisan Nusantara menjadi inspirasi, bukan beban. Ia tidak membelenggu, tetapi membuka ruang untuk melahirkan pemikiran progresif yang relevan dengan zaman.
Generasi muda memegang peran penting dalam proses ini. Tanpa keterlibatan mereka, warisan keilmuan hanya akan menjadi catatan sejarah yang usang. Keterlibatan itu dapat dimulai dari membaca, meneliti, hingga mempraktikkan nilai-nilai lokal dalam kehidupan sosial. Ketika generasi kini mampu merasakan relevansi pengetahuan leluhur, kesinambungan intelektual pun terjamin.
Warisan keilmuan Nusantara juga dapat dihidupkan melalui seni dan budaya. Lagu daerah, tarian tradisional, motif kain, hingga arsitektur rumah adat sebenarnya adalah bentuk lain dari pengetahuan yang diwariskan. Setiap unsur budaya mengandung narasi, nilai, dan prinsip hidup yang mampu menjadi sumber pembelajaran etis dan estetis. Ketika seni dirawat, ilmu yang terkandung di dalamnya ikut terjaga.
Di tengah derasnya arus globalisasi, keilmuan lokal sering kali terpinggirkan. Kita lebih akrab dengan teori-teori Barat daripada petuah lokal yang diwariskan nenek moyang. Padahal, globalisasi tidak harus menghapus identitas. Justru keberadaan identitas menjadi bekal untuk berinteraksi secara setara dengan dunia luar. Menghidupkan warisan keilmuan berarti memperkuat posisi kita dalam percaturan pengetahuan global.
Kesadaran untuk menggali kembali khazanah Nusantara juga menjadi bentuk penghormatan terhadap para ulama, cendekiawan, dan leluhur yang telah merajut peradaban ini. Mereka mewariskan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga etos belajar, ketekunan, dan kecintaan terhadap ilmu. Etos ini penting dihidupkan kembali agar budaya ilmiah bangsa tidak terputus oleh modernisasi yang serba cepat.
Dalam ranah kebijakan, diperlukan dukungan negara untuk memastikan warisan keilmuan memiliki ruang untuk tumbuh kembali. Kebijakan yang mendorong penelitian naskah klasik, penyusunan ensiklopedia budaya lokal, dan penguatan kurikulum berbasis kearifan Nusantara dapat menjadi langkah strategis. Tanpa intervensi yang tepat, kekayaan ini rentan hilang ditelan arus perubahan.
Pada akhirnya, menghidupkan warisan keilmuan Nusantara adalah proses mengembalikan memori kolektif bangsa kepada jati dirinya sendiri. Jati diri yang kaya, bijaksana, dan terbuka terhadap dialog antarperadaban. Dengan mengenali kembali akar pengetahuan tersebut, masyarakat dapat membangun masa depan dengan fondasi yang lebih kuat dan berakar.
Kesadaran ini juga menuntut kita untuk mengubah cara pandang terhadap warisan intelektual. Ia bukan sekadar masa lalu, tetapi modal kultural untuk menghadapi masa depan. Menghidupkannya berarti menyambungkan rantai sejarah yang sempat renggang, lalu menata kembali arah perjalanan intelektual bangsa.
Warisan keilmuan Nusantara adalah cermin diri: ia menunjukkan siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang seharusnya kita bawa dalam langkah ke depan. Ketika lentera itu kembali menyala, bangsa ini tidak hanya memiliki masa lalu yang agung, tetapi juga masa depan yang terang.(penulis wakil ketua ISNU kota makassar)