160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Jejaring Kekuatan NU yang Tak Pernah Padam

 

Oleh: Zaenuddin Endy

Dalam sejarah panjang perjalanan bangsa, Nahdlatul Ulama telah membuktikan diri sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang tidak bertumpu pada satu pilar saja. Ketangguhannya tidak pernah semata-mata ditentukan oleh struktur organisasi yang tersusun rapi dari pusat hingga ranting. Justru daya hidup NU muncul dari keberagaman simpul-simpul yang menyatu dalam satu kesadaran keagamaan dan kebudayaan. Ketika satu pilar melemah, pilar lain mengambil peran; ketika satu jalur tersumbat, jalur lain tetap mengalirkan energi keumatan tanpa henti.

Kekuatan struktural NU memang memiliki peran strategis dalam menggerakkan program, merumuskan kebijakan, dan menjaga kesinambungan organisasi. Namun dinamika internal sering membuat jalur ini harus menempuh proses panjang, ruwet, dan tak jarang melelahkan. Meski demikian, keruwetan struktural tidak pernah menjadi ancaman bagi eksistensi NU karena organisasi ini tidak pernah bergantung pada satu pintu. Ada banyak “ruang gerak” di luar struktur yang tetap berdenyut hidup, menghidupi, dan menjaga arah perjalanan.

Di luar struktur formal, thariqah menjadi pilar kekuatan spiritual yang tidak mungkin diukur dengan angka-angka administratif. Thariqah menghimpun jutaan pengamal yang terikat oleh sanad, adab, dan ikatan batin yang jauh lebih kuat daripada dokumen organisasi. Para mursyid, khalifah, dan para jamaahnya membentuk jaringan moral yang menyebarkan ketenangan, disiplin spiritual, dan kedalaman batin yang menjadi ruh dari tradisi keislaman ala Ahlussunnah wal Jama’ah.

Majelis-majelis taklim yang tersebar dari desa-desa kecil hingga kota-kota besar juga menjadi denyut nadi pendidikan akar rumput. Di ruang-ruang sederhana, para ibu, bapak, dan generasi muda mempelajari fikih, akhlak, dan tradisi keilmuan klasik. Majelis taklim adalah universitas terbuka yang tidak pernah libur, tempat nilai-nilai keagamaan ditanamkan tanpa harus menunggu instruksi struktural. Dari sinilah lahir kesadaran kolektif yang memperkuat karakter keagamaan warga NU.

Selain itu, kelompok-kelompok shalawatan yang tumbuh secara spontan membentuk simpul-simpul estetika religius yang khas. Dengan lantunan shalawat, mereka merawat cinta kepada Nabi dan menyebarkan energi kebersamaan. Kelompok semacam ini bukan hanya wadah ibadah, tetapi juga ruang konsolidasi sosial yang memperkuat solidaritas warga. Hubungan antarkampung, antarkecamatan, bahkan antarkabupaten sering dirajut justru melalui ruang ini.

Kelompok yasinan dan tahlilan juga menjadi wadah yang mempererat ikatan sosial melalui ritus keagamaan yang telah mengakar selama berabad-abad. Di sana, tradisi, ajaran, dan nilai-nilai kebersamaan dipadukan dalam bentuk yang paling sederhana namun paling efektif. Mereka menjaga kesinambungan identitas keislaman yang ramah dan membumi, identitas yang sulit dilemahkan bahkan oleh gejolak struktural paling rumit sekalipun.

Jama’ah NU, yang tidak terikat pada jabatan ataupun posisi struktural, justru merupakan kekuatan terbesar dalam tubuh organisasi. Mereka hadir dalam jumlah yang masif, bergerak dalam kesunyian, tetapi menjadi fondasi kokoh yang menahan organisasi ketika angin perbedaan menerpa. Jama’ah inilah yang menghidupkan majelis taklim, menyemarakkan shalawatan, menyelenggarakan yasinan-tahlilan, dan memperkuat ikatan sosial di tingkat desa dan keluarga.

Kekuatan NU juga tidak berhenti pada simpul-simpul yang sudah dikenal. Ada kelompok-kelompok kecil yang tumbuh secara alamiah, baik berupa komunitas pengajian remaja, gerakan literasi pesantren, hingga kelompok sosial yang bergerak membantu masyarakat. Mereka tidak selalu menggunakan stempel NU, namun spirit yang dibawa adalah ruh Aswaja yang sama: toleran, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Ketika struktur berjalan lamban, jaringan thariqah tetap bergerak menjaga kedalaman batin umat. Ketika rapat organisasi berlarut-larut, majelis taklim tetap berlangsung setiap pekan. Ketika agenda besar tertunda, kelompok shalawatan tetap berkumpul di malam-malam tertentu. Daya hidup NU justru terlihat dari bagaimana simpul-simpul ini terus menyala tanpa harus menunggu ketetapan formal.

NU adalah organisme sosial-keagamaan yang diciptakan oleh sejarah, bukan oleh satu keputusan administratif. Ia lahir dari tradisi, dirawat oleh ulama, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, selama tradisi itu hidup, NU akan tetap berdiri meski strukturalnya terkadang menghadapi kerumitan.

Keruwetan di tingkat struktural sebenarnya bukan ancaman, melainkan fenomena wajar dari organisasi besar. NU tidak dibangun hanya dengan rapat, tetapi dengan zikir, pengajian, tradisi, dan jejaring kultural yang terus berdenyut tanpa henti. Kekuatan inilah yang membuat NU tahan terhadap gejolak politik, dinamika internal, dan perubahan zaman.

Bahkan di tempat-tempat di mana struktur formal tidak aktif, tradisi keagamaan NU tetap berjalan. Orang tetap membaca yasin, tahlil, dan shalawat; tetap menghadiri pengajian; tetap mengamalkan ajaran yang diwariskan para kiai. Di sinilah letak kekuatan unik NU: ia tidak bisa “padam” hanya karena struktur mengalami hambatan.

Warga NU juga memiliki kebiasaan untuk selalu berkumpul dalam berbagai peristiwa hidup. Mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian, semuanya diikat oleh ritual bersama yang menjaga hubungan emosional antarwarga. Kebiasaan ini tidak pernah memerlukan instruksi resmi, tetapi berjalan secara otomatis sebagai ekspresi budaya keagamaan.

Keberadaan pesantren sebagai pusat pengetahuan tradisional juga menjadi pondasi tak tergantikan. Pesantren menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, adab, cinta ilmu, dan komitmen pada tradisi. Ketika struktur mengalami pasang surut, pesantren tetap menjadi penjaga kesinambungan nilai dan kaderisasi ulama.

Dengan begitu banyak simpul kekuatan, NU menjadi organisasi yang nyaris mustahil dilemahkan. Bahkan jika satu jalur mengalami hambatan, jalur lain akan tetap hidup dan menopang. Inilah kelebihan NU: ia dibangun oleh banyak tangan, banyak hati, dan banyak ruang gerak, bukan oleh satu pusat kekuasaan.

Kekuatan NU terletak pada keberagaman simpul-simpul yang saling menghidupkan. Ketika struktural ruwet, jama’ah tetap kuat. Ketika administrasi lamban, tradisi tetap berjalan. NU tidak akan pernah kehilangan napas karena napasnya tidak hanya berasal dari kantor-kantor organisasi, tetapi dari rumah-rumah warga, langgar kecil, pesantren tua, dan hati jutaan umat yang mencintai tradisi para ulama. (Penulis Wakil Ketua ISNU Kota Makassar)

Facebook Comments Box

Baca Juga