160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Panen Perdana Gamagora 7 di Maros Tembus 8,9 Ton/Ha

Maros, Pedomanku.id.

Varietas padi unggul Gamagora 7 adalah padi hasil mutan dari Rajalele yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada. Varietas ini unggul karena memiliki produktivitas tinggi (hingga 12 ton/ha), tahan berbagai hama dan penyakit (seperti wereng batang cokelat biotipe 2 dan penyakit hawar daun bakteri patotipe III), umur panen relatif singkat (sekitar 85-90 hari), dan mampu tumbuh baik di lahan sawah basah maupun tadah hujan.

Keunggulan varietas unggul Gamagora 7 yang memiliki batang lebih kokoh, tahan rebah, serta membutuhkan pupuk dan pestisida lebih efisien ini membuat petani di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros melakukan penanaman, termasuk dilakukan oleh Kelompok Tani Sukamandiri.

Saat panen perdana pada Rabu, 26 November, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan pun hadir. Mereka menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan varietas padi unggul Gamagora 7 tersebut.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, di tengah tengah panen perdana yang juga dihadiri berbagai pemangku kepentingan, antara lain Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan Dr. Since Erna Lamba, Sp., Mp., Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Maros H. Abd. Asis Ahmad, STP., Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros Jamaluddin, Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Maros Siabe, S.E., Forkopimcam Lau, serta anggota Kelompok Tani Sukamandiri itu menilai hasil panen ini menjadi capaian signifikan bagi upaya peningkatan produktivitas pertanian di daerah.

Menurutnya, panen perdana ini membuktikan bahwa varietas Gamagora 7 sangat adaptif di Sulawesi Selatan dan mampu menghasilkan produktivitas yang jauh di atas rata-rata. Ini adalah terobosan penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Berdasarkan pengukuran metode ubinan oleh BPS Kabupaten Maros pada 20 November 2025, produktivitas Gamagora 7 mencapai 8,9 ton per hektar. Angka tersebut tercatat 58,9 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas padi di Kabupaten Maros yang berada pada kisaran 5,6 ton per hektar. Selain produktivitas tinggi, Gamagora 7 juga memiliki umur panen lebih singkat, yakni sekitar 100 hari.

Rizki Ernadi Wimanda menjelaskan, karakteristik umur panen yang cepat sangat mendukung program percepatan tanam pemerintah, termasuk target skema Indeks Pertanaman 300 (IP300). “Umur panen yang lebih pendek membuka peluang bagi petani untuk menambah siklus tanam tanpa meningkatkan biaya secara signifikan. Ini berarti efisiensi sekaligus peningkatan pendapatan,” katanya.

Selain Maros, demplot padi Gamagora 7 juga dikembangkan di delapan kabupaten/kota lain di Sulawesi Selatan, yaitu Sidrap, Soppeng, Gowa, Parepare, Enrekang, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Total luas lahan demplot yang dikembangkan mencapai 18 hektar. Penyebaran ini bertujuan menguji adaptifitas varietas pada berbagai kondisi agroklimat di luar wilayah pengembangan awalnya di Jawa. (adi)

Facebook Comments Box

Baca Juga