160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Jurnalis SMSI Dipercaya Sebagai Ketua RT

Pedomanku, id:

Sebagai seorang jurnalis, tentunya disibukan dengan sajian berita berkelas. Sehari harinya, media online yang digawanginya bergabung dengan salah satu konstituen dewan pers andal, yakni Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Sulawesi Selatan. Dia adalah, Nasution Jarre—yang kini harus menghadapi tantangan baru yang jauh lebih mendasar.
Jurnalis di media Simakberita.com ini, Rabu, 3 Desember 2025, terpilih menduduki kursi Ketua Rukun Tetangga (RT) di sekitaran tempat tinggalnya, Jalan Tentara pelajar. Tepatnya, di RT02-RW04, Kelurahan Mampu, Kecamatan Wajo.
Terpilihkan kembali di periode kedua kali ini, tentunya menjadi kabar yang menginspirasi, sekaligus menunjukkan bahwa, pengabdian publik tidak selalu harus dilakukan dari meja redaksi, atau dalam sesi wawancara, melainkan bisa dimulai dari gang sempit.
Jika saja selama ini, pria kelahiran 4 April 1967 yang telah malang melintang dengan berbagai narasi, baik kasus, maupun serimoni pemberitaan, atau terbiasa berbicara dengan pejabat, menganalisis data, hingga berburu fakta kontroversial. Namun, sebagai Ketua RT, prioritas tersebut sedikit bergeser.
Nasution Jarre mengakui, menjadi ketua RT tidak sekadar jeda profesi, melainkan panggilan tulus dan amanah warga sekitar tempat tinggalnya. Kebanyakan warga melihat suami dari Nurnaningsih Daeng Tabunga ini selain berintegritas, juga kemampuan komunikasi, dan daya juang yang dimilikinya demikian baik dan harmoni.
“Tentunya, amanah sebagai Ketua RT ini, jika dijalani dengan visi yang tepat, akan menjadi denyut nadi yang kuat bagi hadirnya masyarakat yang harmonis di tingkat akar rumput,” urainya kepada media Pedomanku, Jumat sore hari ini.
Nasution Jerre meyakini, amanah dan kepercayaan sebagai Ketua RT dalam pandangan era berkemajuan saat ini, bukan lagi sekadar tugas pengabdi, melainkan sebuah peran strategis sebagai “Smart Community Enabler.” Di mana Ketua RT adalah pemimpin yang piawai, mengawinkan kearifan lokal dengan inovasi teknologi, menjaga kehangatan sosial dengan efisiensi digital, dan mendorong partisipasi aktif dalam balutan transparansi.
“Jika di jurnalis sesekali jantung berdebar menjelang deadline, tetapi setelah diberi amanah menjadi Ketua RT, jantungnya bisa saja berdebar lebih kencang saat ada laporan warga tentang sebuah masalah. Makanya, saat ini saya harus menyeimbangkan jadwal liputan dengan urusan door-to-door di lingkungan saya ini, sehingga kelak akan menjalani dengan rileks ” ujarnya.
Di sisi lain, jelas Ketua Ranting Pemuda Panca Marga Kecamatan Wajo ini, di tengah pusaran revolusi digital dan laju informasi yang masif, peran ketua RT seringkali dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tugas sosial yang berat dan mungkin kurang relevan.
Namun, dalam pandangan era berkemajuan ini pula, amanah sebagai Ketua RT justru bertransformasi menjadi pilar krusial yang lebih kompleks. Pilar ini tentunya menuntut adaptasi, inovasi, dan visi yang tajam.
“Artinya, menjadi Ketua RT bukan lagi sekadar tugas administratif, melainkan sebuah kepemimpinan mikro yang strategis dalam membangun landasan komunitas yang cerdas, transparan, dan berdaya,” jelasnya.
Di bagian lain, Tim Advokasi Yayasan Bantuan Hukum Mitra Indonesia Mandiri itu berujar, di masa transisi, jurnalis dan RT meskipun terlihat drastis, tetapi sesungguhnya membawa modalitas yang sangat berharga. Profesi jurnalis tentunya banyak mengajarkan beberapa hal esensial yang sangat dibutuhkan di level RT.
Apalagi, dirinya tahu persis, sebagai seorang jurnalis yang tergabung di SMSI, tentunya membutuhkan kecepatan, ketepatan, serta keakuratan.
“Jika seorng jurnalis sudah terbiasa menyederhanakan isu isu, agar mudah dipahami public, tetapi dalam konteks RT, seseorang setidaknya pandai mengedukasi warga dengan bahasa yang netral dan persuasif.
Tamatan SD N Butung Makassar tahun 1982, SMP DH Pepabri Kota Makassar 1985, yang menyelesaikan pendidikan Paket C setara SMA Dinas Pendidikan Sulsel tahun 2008 ini menambahkan, kehadiran seorang jurnalis di kursi Ketua RT memberikan perspektif segar, bahwa pelayanan publik sungguh-sungguh dimulai dari unit terkecil masyarakat.
“ Ini juga menjadi bukti bahwa jurnalis, sebagai agen kontrol sosial, tidak hanya pandai mengkritik kebijakan dari jauh, tetapi juga bersedia turun langsung—mengotori tangan—untuk memperbaiki sistem di tingkat paling dasar,” urainya.
Menjawab pertanyaan program prioritas 100 hari pertama usai dilantik nanti, Nasution Jarre menekankan pada tiga titik tumpu. Pertama, bersinergi dengan Ketua Ketua RT dan RW terpilih se Kelurahan Mampu, bahkan se Kecamatan Wajo bersama tokoh masyarakat untuk mendukung program kerja Pemerintah Kota Makassar. Kedua, memperbaharui dokumen adminitrasi warga RT 02-RW04 tanpa pungutan. Dan ketiga, memperrat kembali hubungan silaturahmi antarwarga usai pelaksanaan pemilihan Ketua RT-RW. (din pattisahusiwa)

Facebook Comments Box

Baca Juga