160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Kalau Zakat 2,5 Persen, Infak Mesti di Atasnya

By Ust ATM

Ada satu kebiasaan unik umat kita:
zakat dihitung pakai kalkulator,
infaq dihitung pakai perasaan—yang seringnya perasaan lagi pelit.
Zakat 2,5 persen itu jelas. Rinci. Tegas. Ada nisab, haul, rumus, bahkan aplikasinya. Tinggal klik, keluar angka. Setelah itu hati terasa plong. Seolah-olah sudah menuntaskan kewajiban finansial kepada langit.

Masalahnya, banyak yang berhenti di situ.
Begitu zakat keluar 2,5 persen, dompet ditutup rapat-rapat, hati dikunci dobel. Infaq? Sedekah? “Nanti dulu, saya kan sudah zakat.”
Padahal, zakat itu pagar minimum, bukan plafon maksimal.
Zakat itu seperti garis start, bukan garis finish.
Kalau zakat 2,5 persen saja sudah bikin kita ngos-ngosan, berarti yang berat bukan dompetnya—tapi hatinya.

Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Perhatikan ayat ini.
Yang disebut Allah bukan zakat, tapi menafkahkan harta.
Bahasanya luas. Fleksibel. Tidak dikunci angka. Tidak dibatasi persentase.

Zakat itu wajib, iya. Tapi justru karena wajib, nilainya minimum. Yang menunjukkan kelas iman, itu infaq dan sedekah. Karena di situ tidak ada paksaan, tidak ada ancaman, hanya cinta dan kesadaran.

Lucunya, banyak orang rela mengeluarkan 10–20 persen pendapatan untuk cicilan, nongkrong, kopi susu, atau gawai terbaru. Tapi begitu dengar kata infaq di atas zakat, refleksnya seperti dengar kabar pajak naik.
“Waduh… berat, Ustadz.”
Yang berat itu bukan infaqnya, tapi rasa kepemilikan kita yang terlalu absolut. Kita sering lupa: harta itu titipan, bukan trophy. Kita hanya penjaga sementara, bukan pemilik selamanya.

Zakat 2,5 persen itu ibarat kewajiban minimal agar harta bersih. Tapi infaq itu yang membuat harta hidup. Harta yang tidak pernah diinfaqkan, lama-lama jadi beban psikologis. Takut hilang, takut berkurang, takut rugi. Padahal justru itulah tanda harta sudah menguasai hati.

Rasulullah SAW bersabda:
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)

Hadits ini aneh secara logika, tapi sangat nyata dalam pengalaman. Banyak orang bisa bersaksi: semakin ringan tangan, semakin ringan hidup. Bukan selalu bertambah angka di rekening, tapi bertambah rasa cukup, tenang, dan berkah.

Zakat itu kewajiban sosial.
Infaq itu ekspresi cinta.
Zakat menyelamatkan orang miskin.
Infaq menyelamatkan orang kaya—dari keserakahan.

Maka kalau zakat ditetapkan 2,5 persen, logikanya infaq mestinya di atas itu, bukan malah di bawah, apalagi nol. Kalau tidak mampu besar, kecil tidak apa-apa. Yang penting konsisten dan ikhlas. Masalahnya, sering kali bukan tidak mampu, tapi tidak terbiasa.

Kita ini sering rajin menghitung hak kita, tapi malas menghitung hak orang lain. Padahal, di setiap harta yang kita genggam, selalu ada bagian orang lain yang Allah titipkan. Infaq itu cara kita mengantarkan titipan itu dengan senyum, bukan dengan terpaksa.

Zakat tanpa infaq melahirkan muslim yang patuh tapi kering.
Infaq tanpa zakat melahirkan muslim yang dermawan tapi lalai.
Yang ideal: dua-duanya jalan.
Jadi, kalau zakat 2,5 persen adalah kewajiban, maka infaq adalah kehormatan.

Kalau zakat itu hitungan, infaq itu kepekaan.
Dan kalau zakat membersihkan harta, infaq membersihkan hati.

Semoga kita tidak berhenti menjadi muslim “2,5 persen”,
tapi naik kelas menjadi muslim yang lapang, ringan tangan, dan luas kasih sayangnya. Wallahu A’lam. (ATM- Ashar Tamanggong, Kultum–Kuliah Terserah Antum)

Facebook Comments Box

Baca Juga