160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Mengetuk Pintu Langit : Kembali ke Khittah dalan Muktamar NU ke-35

Zaenuddin Endy
Koordinator Instruktur PKPNU Sulawesi Selatan

Di saat sebagian besar manusia terlelap dalam sunyi malam, para muassis Nahdlatul Ulama justru bersimpuh dalam keheningan sepertiga malam. Mereka menengadahkan tangan, mengetuk pintu langit dengan penuh harap agar organisasi yang mereka rintis menjadi wasilah keselamatan bagi umat. Dalam sujud panjang itu, terpatri niat suci yang melampaui kepentingan duniawi, menembus batas-batas zaman.

Laku spiritual para pendiri NU bukan sekadar ritual individual, melainkan fondasi moral yang menghidupkan organisasi ini sejak awal. Doa-doa mereka bukan hanya permohonan, tetapi juga komitmen untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dalam kesunyian malam, mereka merancang masa depan umat dengan air mata dan ketulusan.

Perjalanan itu tidaklah ringan. Puasa, tirakat, dan laku prihatin menjadi bagian tak terpisahkan dari ikhtiar mereka. Mereka mengosongkan diri dari kepentingan pribadi demi memastikan bahwa setiap langkah organisasi berada dalam ridha Allah SWT. Di balik kebesaran NU hari ini, tersimpan jejak pengorbanan spiritual yang mendalam.

Sejarah mencatat bahwa perjuangan para kiai dan santri tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pengajian, tetapi juga di medan pertempuran. Mereka mempertaruhkan nyawa dan harta demi mempertahankan kedaulatan bangsa dan agama. Spirit jihad yang mereka bangun adalah manifestasi dari iman yang hidup dan cinta tanah air yang tulus.

Dalam konteks itulah, Muktamar ke-35 NU tidak bisa dipandang sebagai agenda rutin semata. Ia bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan atau arena kontestasi gagasan. Lebih dari itu, muktamar adalah ruang sakral yang mengandung dimensi spiritual, historis, dan ideologis sekaligus.

Berita Terkait

Momentum ini seharusnya menjadi titik balik untuk melakukan muhasabah secara kolektif. Evaluasi diri menjadi kebutuhan mendesak di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan memimpin, tetapi ke mana arah organisasi ini akan dibawa.

Arus modernitas dan globalisasi menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan kompleksitas geopolitik menuntut respons yang cerdas dan adaptif. Namun, dalam menghadapi semua itu, NU tidak boleh tercerabut dari akar ideologinya.

Kembali ke ideologis berarti kembali kepada khittah perjuangan yang telah dirintis para muassis. Ini bukan langkah mundur, melainkan upaya untuk meneguhkan kembali fondasi. Sebab tanpa fondasi yang kuat, setiap bangunan besar akan mudah goyah oleh terpaan zaman.

Khittah NU menegaskan bahwa organisasi ini lahir sebagai gerakan keagamaan yang berorientasi pada khidmah. Menjadi bagian dari NU bukan tentang mencari keuntungan, melainkan tentang memberi manfaat. Ini adalah panggilan untuk melayani umat dengan penuh keikhlasan.

Dalam perspektif ini, jabatan bukanlah privilese, tetapi amanah. Setiap posisi mengandung tanggung jawab moral yang besar. Para muassis telah memberi teladan bahwa kepemimpinan adalah bentuk pengabdian, bukan alat untuk akumulasi kepentingan.

Di sisi lain, menjaga tradisi menjadi keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi identitas yang membentuk karakter NU. Amaliah keagamaan, budaya pesantren, dan nilai-nilai Aswaja adalah ruh yang harus terus dijaga.

Namun, menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan. Transformasi tetap diperlukan agar NU mampu menjawab tantangan zaman. Di sinilah pentingnya keseimbangan antara konservasi nilai dan inovasi strategi.
Kaum sarungan yang menjadi simbol kultural NU harus tetap menjadi penjaga moralitas publik. Kesederhanaan, ketawadhuan, dan keteguhan iman adalah nilai-nilai yang harus terus dihidupkan. Identitas ini bukan sekadar simbol, tetapi refleksi dari karakter spiritual.

Muktamar ke-35 menjadi ruang untuk merumuskan kembali strategi besar organisasi. Bagaimana NU berperan dalam konteks global, bagaimana menjawab isu-isu kemanusiaan, dan bagaimana memperkuat peran pendidikan serta dakwah menjadi agenda penting.

Persatuan menjadi kunci utama dalam menghadapi momentum ini. Perbedaan pilihan adalah keniscayaan dalam organisasi besar, tetapi persatuan harus tetap dijaga. Jangan sampai perbedaan justru melahirkan perpecahan yang melemahkan.

Para kiai telah mewariskan nilai kebersamaan yang kokoh. Mereka mengajarkan bahwa ukhuwah lebih penting daripada ambisi pribadi. Spirit inilah yang harus dihidupkan kembali dalam setiap proses organisasi.

Menyukseskan Muktamar ke-35 berarti memastikan bahwa seluruh proses berjalan dalam koridor nilai-nilai luhur. Kejujuran, keadilan, dan keikhlasan harus menjadi prinsip utama. Tanpa itu, muktamar akan kehilangan makna sakralnya.

Kiita semua dipanggil untuk kembali merapatkan barisan. Kembali ke khittah, menjaga warisan para kiai, dan melanjutkan perjuangan dengan semangat baru. Sebab NU bukan sekadar organisasi, tetapi amanah sejarah dan harapan umat yang harus terus dijaga. Wallahu A’lam Bissawab. (*)

Facebook Comments Box

Baca Juga