160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Jurnalis Perempuan Soroti Ketimpangan dan Peran dalam Isu Iklim

Jakarta, Pedomanku,id:

Tiga jurnalis perempuan berbagi pengalaman terkait tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan di Indonesia, sekaligus peran mereka dalam meliput isu lingkungan dan sosial. Mereka menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang memperlebar ketimpangan, terutama bagi perempuan, masyarakat adat, dan kelompok miskin.

Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, mengawali pemaparannya dengan menyoroti tekanan yang kerap dihadapi jurnalis, khususnya perempuan. Menurutnya, jurnalis perempuan menghadapi tekanan berlapis, mulai dari kekerasan berbasis gender, diskriminasi di ruang redaksi, beban kerja ganda, hingga serangan di ruang digital.

Nany mengungkapkan, jumlah jurnalis perempuan di Indonesia baru mencapai sekitar 21,5 persen. Angka ini mencerminkan ketimpangan struktural dalam industri media. Selain itu, jurnalis perempuan juga masih menghadapi ketidakadilan dalam hal upah dan pembagian tugas liputan.

“Diskriminasi ini bersifat sistemik, bukan kasus individual, sehingga harus diselesaikan bersama. Kekerasan terhadap jurnalis perempuan, baik fisik maupun digital, masih tinggi dan kerap dinormalisasi, sementara mekanisme perlindungan di ruang redaksi juga lemah,” ujar Nany di Jakarta, 11 April 2025.

Diskusi bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” menjadi sesi pembuka dalam Pesta Media AJI Jakarta 2026. Selain Nany, hadir pula Evi Mariani, salah satu pendiri Project Multatuli, serta Sapariah Saturi, Managing Editor Mongabay Indonesia.

Sapariah Saturi menyoroti minimnya jumlah jurnalis perempuan, khususnya dalam liputan lingkungan. Ia mengakui, Mongabay Indonesia masih menghadapi tantangan dalam merekrut jurnalis perempuan untuk memperkuat perspektif pemberitaan krisis iklim.

Menurutnya, keterlibatan jurnalis perempuan penting karena perempuan kerap menjadi kelompok yang paling terdampak, misalnya di wilayah pesisir. Kehadiran jurnalis perempuan juga dinilai mampu menjangkau narasumber yang sulit diakses oleh jurnalis laki-laki, sehingga menghasilkan liputan yang lebih beragam dan mendalam.

“Perempuan sering lebih terbuka kepada jurnalis perempuan. Dari situ kita bisa melihat dampak krisis iklim secara lebih nyata dan mendalam. Karena itu, kami ingin memperbanyak jurnalis perempuan,” kata Sapariah.

Sementara itu, Evi Mariani menekankan pentingnya kehadiran jurnalis perempuan di ruang-ruang yang selama ini didominasi laki-laki. Ia menilai, perspektif perempuan mampu memperkaya liputan, terutama pada isu-isu yang kerap terabaikan.

Ia mencontohkan, sejumlah isu seperti baby blues pasca melahirkan kerap luput dari perhatian karena tidak dekat dengan pengalaman jurnalis laki-laki. Padahal, isu tersebut penting untuk diangkat ke ruang publik.

“Perspektif harus diperkaya dan wawasan diperluas. Kehadiran jurnalis perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi karena mereka membawa sudut pandang baru yang selama ini jarang terdengar,” ujar Evi. (Ifa)

Facebook Comments Box

Baca Juga