Tasawuf : Dari Ilmu Menuju Laku Akkareso

Zaenuddin Endy
Koordinator LTN JATMAN Sulawesi Selatan

Tasawuf bukan sekadar ilmu yang dibaca, dikaji, dan diperbincangkan. Tasawuf adalah jalan yang harus dilalui. Ia bukan hanya pengetahuan tentang bagaimana mengenal Allah, tetapi perjalanan untuk membersihkan diri agar hati mampu mengenal-Nya. Karena itu, sebanyak apa pun kitab tasawuf yang dibaca, sedalam apa pun teori tentang maqamat dan ahwal dipahami, semuanya belum sempurna sebelum menjadi laku dalam kehidupan.

Dalam bahasa Bugis, ada satu kata yang menarik untuk menggambarkan proses itu, yakni akkareso, yang bermakna bersungguh-sungguh melakukan, mengerjakan, melatih diri, dan tidak berhenti pada pengetahuan. Akkareso adalah keberanian untuk menjadikan ilmu sebagai latihan batin. Sebab mengetahui bahwa sombong itu penyakit belum tentu membuat seseorang rendah hati. Mengetahui makna ikhlas belum tentu membuat hati terbebas dari pujian. Memahami tawakal belum tentu membuat seseorang mampu menyerahkan hasil kepada Allah.

Di situlah tasawuf menemukan maknanya, ilmu harus dilakonkan.
Seorang yang belajar tasawuf tidak cukup hanya bertanya, “Apa makna sabar?” Ia harus belajar bersabar. Tidak cukup memahami apa itu zuhud, tetapi belajar melepaskan keterikatan hati kepada dunia. Tidak cukup berbicara tentang tawakal, tetapi belajar berserah setelah ikhtiar. Tidak cukup mengetahui hakikat zikir, tetapi membiasakan hati agar senantiasa mengingat Allah. Maka akkareso sesungguhnya adalah perjalanan dari mengetahui menuju mengalami.

Ada ilmu yang dapat dipahami melalui akal, tetapi ada pula pemahaman yang baru terbuka setelah seseorang menjalani laku. Seperti madu, orang dapat menjelaskan rasa manisnya dengan seribu kata, tetapi penjelasan itu tidak akan pernah sama dengan merasakannya. Demikian pula tasawuf. Ada pengalaman batin yang tidak cukup diterangkan oleh bahasa. Ia harus ditempuh, dirasakan, dan dihayati.

Karena itu, perjalanan tasawuf bukan terutama perjalanan untuk mencari sesuatu di luar diri, melainkan perjalanan panjang untuk mengenali dan menundukkan diri. Semakin seseorang masuk ke dalam dunia tasawuf, semakin ia menyadari bahwa musuh terbesar perjalanan itu bukan orang lain, tetapi nafsu yang bersemayam dalam dirinya sendiri.

Akkareso berarti melatih diri untuk menundukkan nafsu, membersihkan niat, menjaga lisan, memperhalus akhlak, memperbanyak zikir, memperkuat ibadah, mengurangi keterikatan kepada dunia, dan belajar menerima ketentuan Allah dengan hati yang lapang.

Pada titik tertentu, seseorang akan menyadari bahwa tasawuf bukan tentang seberapa banyak istilah yang ia kuasai, tetapi seberapa jauh dirinya berubah.

Sebab tanda ilmu yang hidup bukan banyaknya yang dibicarakan, melainkan perubahan yang terjadi dalam diri. Jika ilmu membuat seseorang semakin sombong, mungkin yang bertambah baru pengetahuannya, bukan kesadarannya. Jika ilmu membuat seseorang merasa paling dekat dengan Allah dan paling benar di hadapan manusia, mungkin yang tumbuh bukan ma’rifah, melainkan ego yang bersembunyi di balik bahasa agama. Maka akkareso adalah proses mematahkan ego itu sedikit demi sedikit.

Kita membaca untuk mengetahui. Kita mengkaji untuk memahami. Kita berzikir untuk mengingat. Kita beribadah untuk mendekat. Tetapi kita akkareso untuk melatih diri agar semua pengetahuan dan ibadah itu benar-benar mengubah batin.

Manusia hanya dapat mengetuk pintu. Kita tidak dapat memaksa pintu itu terbuka. Kita dapat membaca, belajar, berzikir, bermujahadah, beribadah, dan terus akkareso. Namun terbukanya rahasia hati adalah karunia Allah. Hadirnya hidayah adalah kehendak-Nya. Terangnya mata batin adalah pemberian-Nya.

Karena itu, jangan berhenti pada ilmu.
Lakoni ilmu itu. Jangan berhenti pada teori. Latih diri. Jangan merasa telah memahami rahasia hanya karena mampu menjelaskannya.

Teruslah akkareso. Barangkali suatu hari, setelah perjalanan panjang itu, Allah berkenan membuka sedikit demi sedikit apa yang selama ini hanya kita baca dalam kitab. Bukan karena kita telah menjadi siapa-siapa, tetapi karena Allah memberikan hidayah-Nya kepada hati yang terus berusaha membersihkan diri.

Tasawuf adalah ilmu yang harus dilakoni.
Akkareso adalah laku untuk menempa diri.
Dan hidayah adalah cahaya yang membuka rahasia.
Kita berusaha dengan laku, Allah membuka dengan hidayah-Nya. Wallahu A’lam Bissawab. (*).

Facebook Comments Box
You might also like