Jeneponto, Pedomanku.id:
Pengurus kerohanian Islam (Rohis) di sekolah, harus siap memegang kendali, jangan jadi penonton, dan terus mempersiapkan diri untuk estafet kepemimpinan ke depan.
Penegasan ini disampaikan Ketua Tim Kerja SMA/SMK Bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) Kanwil Kementerian Agama Sulsel, H. Muhammad Qasim, belum lama berselang.
Saat berbicara di hadapan pembina dan pengurus Rohis SMA/SMK, di kantor Kemenag Jeneponto, dia menyebut, tantangan generasi muda ke depan sangat kompleks.
“Para remaja termasuk pengurus Rohis harus mempersiapkan/membekali diri dalam membentuk karakter menjadi muballigh muda, melalui pelatihan, pengkaderan dan penguatan Rohis, serta tidak gampang menghakimi, mencari kesalahan orang lain,” jelasnya.
Dia juga meminta, agar pengurus Rohis menghindarkan diri dari tindakan atau perbuatan yang mengarah ke radikalisme, sebagai dampak dari proses pembullyan, atau perundungan, misalnya, tidak saling merendahkan, semua pasti punya kelebihan dan kekurangan.
“Harus bisa mengatasi masalah yang terjadi di sekitar kita. Radikalisme sudah ada di sekitar kita, di mana di Sulsel sesuai data terbaru dari pertemuan Densus 88 dan FKUB Kota Makassar, disebutkan terdapat 77 remaja terpapar radikalisasi. Dari jumlah itu 11 di antaranya di Makassar. Sehingga ini menjadi tugas kita semua untuk mewaspadai dan menutup jalur penyebarannya,” paparnya.
Menurut Qasim pada acara yang juga dihadiri pelaksana tugas Kasi PAI Kemenag Jeneponto, Hj. Salmah, dan sejumlah guru pembina Rohis, pengurus MGMP, dan pengawas PAI, terbentuknya Rohis provinsi dan kabupaten/kota diharap bisa membangun konsolidasi program kerja ke depan, sebagai organisasi kesiswaan dan kepemudaan.
“Harapan kami, setiap kabupaten kota sudah harus bekerja untuk konsolidasi progran kerja melalui, pertama, penguatan organisasi di tingkat sekolah, sebagaimana di tingkat nasional. Kedua, program utama setiap kepengurusan
melalui pembinaan keagamaan, baik tahunan atau dua kali setahun, di tingkat kabupaten/kota,” jelasnya.
Dikatakan, menindaklanjuti poin-poin penting dalam peningkatan kompetensi spiritual, dan karakter pengurus Rohis, maka dimungkinkan programnya harus dinamis berdasarkan perkembangan.
Saat ini, lanjut Qasim dengan terbentuknya kepengurusan Rohis mulai pusat/nasional hingga ke daerah, maka semua bisa mempersiapkan dan mengawal kegiatan psca kongres Rohis 1, dan mempersiapkan untuk kongres Rohis 2 tahun depan.
“Pengurus wilayah dan kabupaten/kota harus mensosialisasikan program kerjanya,” ucapnya.
Dia meminta pengurus kabupaten/kota sudah harus menyusun program terkait fasilitasi, dukungan finansial, merumuskan program straegis, dan tahsinul quran, ibadah dasar yang senantiasa menginspirasi sebagai kunci kebaikan, karakter, dan nasehat yang baik. Terus mengembangkan kompetensi sosial, kompetensi akademik dan profesional, dengan multi talenta. (Sudir).