Universitas Islam Makassar disingkat UIM, saat ini berusia 59 tahun. Disepakati hari lahirnya 6-06-1966, yang tahun ini persis bertepatan dengan Ied Adha 1446, tanggal 6 Juni 2025. Karena bertepatan dengan hari besar dan hari Tasyriq, dan sangat kebetulan saya sebagai rektor bersama sekretaris menunaikan ibadah haji, maka rangkaian Milad UIM diawali Tanggal 12 Juni bertepatan dengan malam Jumat yang sering menjadi momen Laylatul Ijtima dan Istigatsah warga UIM dan Nahddhiyyin Makassar.
Rangkaian Milad ke 59 diisi dengan berbagai kegiatan-kegiatan seperti ziarah kubur ke para pendiri Yayasan Algazali, lomba-lomba, kegiatan seminar, gerak jalan yang dirangkaian dengan peringatan Muharram hingga puncaknya tanggal 7-07-2025 yakni Wisuda dan Milad.
Milad kali ini sangat spesifik dan istimewa dengan angka 59 (lima puluh sembilan). Angka 59 memiliki arti yang khas tergantung cara pendekatan yang digunakan.
Dalam matematika, 59 adalah bilangan prima ke-17, dan super-prima ke-7. 59 adalah bilangan prima, artinya hanya bisa dibagi habis dengan 1 dan dirinya sendiri. Karena itu, bilangan ini juga merupakan bilangan prima baik, bilangan prima Higgs, bilangan prima tak beraturan, bilangan prima aman, dan bilangan prima supersingular.
Secara filosofis bilangan prima itu bagi UIM adalah umur kematangan yang diharapkan bisa membangun dirinya secara mandiri. Di tengah tantangan secara internal maupun eksternal, derasnya badai dan ombak menjadi tantangan tersendiri bagi civitas UIM untuk membuktikan diri sebagai lembaga perguruan tinggi yang diminati.
Selanjutnya sebagai kampus qur’ani, 59 juga mengandung filosofi spiritual yang dalam. Perhatikan QS. an-Nisa ayat 59, Allah swt berfirman menjelaskan tentang perintah taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri (pemerintah dan ulama). Bagi UIM konsep ini adalah keniscayaan sebagai kampus ASWAJA (Ahlussunnah wal Jamaah), yakni senantiasa merujuk kepada ulama dalam beragama. Peran ulama demikian penting dalam keaswajaan bagi masayarakat muslim, artinya agama seseorang akan bermasalah jika tidak ada ulama yang menjadi rujukannya.
Mari kita beralih ke Surah 59 al-Hasyr yang berarti pengumpulan. Jumlahnya tidak sampai 59 ayat, tapi jika dipenggal angka 59, bisa kita lihat terlebih dahulu ayat 5 yang menjelaskan tentang pohon korma yang ditebang atau dibiarkan tumbuh berdiri di atas akarnya, terjadi dengan izin Allah. Kaitannya dengan Milad UIM yang ke 59, diibaratkan seperti pohon yang diharapkan bisa memberi buah dan tempat berteduh semua makhluk yang membutuhkannya. Semua civitas diharapkan bahu membahu merawat pohon UIM agar subur dinikmati banyak orang.
Mari lanjut ke ayat 9, Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan tidak ada keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang telah diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada diri mereka sendiri walaupun mereka sedang kekurangan. Dan barang siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat di atas sangatlah relevan dengan kondisi UIM saat ini. Pertanyaan yang paling utama bagi kita para civitas, apa yang sudah kita berikan untuk UIM? Bukan apa yang sudah saya dapat dari UIM? Untuk memberi tidak mesti kita berlebihan, sesuatu yang mungkin menjadi hak kita karena kewajiban yang tertunaikan adalah sama sikap orang-orang Anshar yang selalu siap memberi dalam kondisi apapun. Anshar UIM adalah mereka yang memberi perhatian pada tridharma secara tulus tanpa berkeluhkesah.
Selain makna filosofi al-Qur’an diatas, angka 5 juga mengandung banyak arti seperti Rukun Islam, Pancasila 5 dasar dan lain-lain. Itu artinya UIM adalah kampus yang menjaga nilai agama dan nilai kebangsaan.
Sementara 9, secara geografis UIM persis berada di Kilometer 9 Kota Makassar. Angka 9 sering diasosiasikan dengan angka tertinggi dalam kelompok angka satu digit dan mewakili puncak kebijaksanaan dan pengalaman, serta berperan dalam transisi kehidupan baru. 9 juga merupakan angka yang sakral bagi warga Nahdhiyyin, bintang 9 sebagai simbol 5 rukun Islam dengan 4 Imam mazhab, atau empat sahabat Rasulullah sebagai bintang yang terbesarnya, lalu di bawahnya ada empat Imam Mazhab yang sangat terkenal.
Demikianlah sekelumit catatan pinggir kekhasan Milad ke 59 kali ini, semoga UIM terus bertransformasi menjadi kampus unggul dan diminati. (Makkah, 12 Juni 2025– Rektor UIM,Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag)