160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


LA MAKANJA “Layanan Berbasis Bermartabat, Berkarakter, dan Bertanggungjawab

Makassar, Pedomanku.id:

Di tengah arus modernisasi, dan kompleksitas hidup yang semakin meningkat, pencarian akan makna dan fondasi yang kokoh bagi eksistensi manusia menjadi semakin relevan. Dalam konteks ini, pendekatan humanis menawarkan kerangka berpikir yang kuat. Tidak hanya sebagai filosofi, tetapi juga sebagai pedoman praktis dalam membentuk individu dan masyarakat secara umum.

Pendekatan ini menempatkan manusia pada pijakan sentral, mengakui potensi intrinsik, keunikan, dan kebutuhan mendasar setiap individu untuk tumbuh dan berkembang. Namun, esensi pendekatan humanis menjadi lebih utuh dan bermakna ketika disinergikan dengan tiga pilar nilai krusial. Yaitu bermartabat, berkarakter, dan bertanggungjawab, atau apa yang disebut LA MAKANJA. Demikian Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Ujung Pandang, Kota Makassar, Firman Jamaluddin,S.STP.

Pilar bermartabat, jelas Firman Jamaluddin, merupakan pilar penghargaan diri dan sesama. Dimana, pilar ini adalah landasan utama dalam pendekatan humanis. Ini merujuk pada penghargaan intrinsik yang dimiliki setiap manusia, yang tidak dapat dibeli atau dijual, juga tidak berkurang karena kondisi ekonomi, sosial, ras, atau keyakinan. Bermartabat berarti memperlakukan diri sendiri dengan respek, menjaga integritas, dan menjunjung tinggi kehormatan diri. Lebih jauh, ini juga berarti mengakui dan menghormati martabat orang lain, tanpa kecuali.

Sementara Berkarakter, merupakan inti moral dan etika seseorang, cerminan dari nilai-nilai yang dipegang teguh dan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Pilar ini, adalah kompas batin yang memandu keputusan dan perilaku, terutama dalam situasi sulit atau ketika tidak ada yang mengawasi. Karakter dibentuk melalui proses panjang: pembelajaran, pengalaman, refleksi, dan pilihan-pilihan yang konsisten dengan prinsip-prinsip luhur.

Kemudian, pilar bertanggungjawab adalah manifestasi nyata dari martabat dan karakter. Ini adalah kesediaan untuk mengakui dan menerima konsekuensi dari tindakan dan pilihan seseorang, serta kesediaan untuk memenuhi kewajiban dan komitmen. Bukan hanya itu, tetapi ada tanggung jawab yang tidak sebatas pada diri sendiri, tetapi juga meluas kepada orang lain, komunitas, lingkungan, dan masa depan.

Dengan demikian, tiga pilar nilai krusial yang dimaksud Firman Jamaluddin (bermartabat, berkarakter, dan bertanggungjawab) menjadi sangat penting. Mengapa penting? Lantaran, ketiga pilar positif ini hadir dalam diri setiap pelayanan publik, maka hasil yang dicapai akan jauh melampaui sekadar efisiensi. Dimana, masyarakat akan merasa dihargai, didengarkan, dan dilayani dengan hati.

Di bagian lain, Firman Jamaluddin mengakui, guna memastikan layanan humanis, tidak hanya sebatas slogan, melainkan harus ditopang oleh nilai-nilai internal yang kuat antar dua pihak, yakni diri sendiri dan kolaborasi dengan pihak lain. Perhotelan salah satunya.

Kolaborasi dengan pihak perhotelan ini, demikian Firman Jamaluddin, tentunya para pihak tidak hanya memahami, tetapi juga mengimplementasikan layanan humanis yang berlandaskan martabat, karakter, dan tanggung jawab. Jika itu dilakukan dengan baik, tentunya hasilnya menjadi sinergi yang luar biasa.

Sebut saja, para tamu tidak sekadar mendapatkan fasilitas fisik, tetapi juga merasakan kehangatan, keamanan, dan penghargaan yang mendalam. Pihak perhotelan dan mitra dapat membangun reputasi yang kokoh, dikenal sebagai penyedia layanan yang dapat dipercaya dan berkelas. Dengan demikian, tentunya, kolaborasi menjadi lebih dari sekadar kontrak bisnis, melainkan tumbuh menjadi strategi kemitraan yang didasari oleh kepercayaan dan visi bersama.

Pada akhirnya, berkolaborasi dengan pihak perhotelan dapat mengedepankan layanan humanis dengan nilai-nilai kejujuran, berkarakter, dan bertanggung jawab adalah investasi dalam masa depan industri perhotelan. Ini adalah jalan menuju keunggulan berkelanjutan. Di mana, profitabilitas berjalan seiring dengan integritas, kepuasan emosional, dan dampak positif bagi semua.

Layanan humanis bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sistem terpadu yang saling memperkuat, membentuk siklus yang penting bagi pertumbuhan dan adaptasi jangka panjang. Pendekatan nilai misalnya, merupakan inti dari setiap keputusan, setiap interaksi, dan setiap strategi. Pendekatan berbasis nilai ini, memadukan prinsip-prinsip etika, integritas, transparansi, dan tanggung jawab sosial ke dalam setiap aspek operasional dan budaya.

Kemudian, penguatan kompetensi, adalah bagaimana mencapai sesuatu dengan efektif. Penguatan kompetensi mengacu pada upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang relevan dengan tantangan masa kini dan masa depan. Ini bukan hanya tentang memiliki keahlian teknis, melainkan juga kecakapan lunak seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan adaptasi terhadap perubahan. Sementara itu, monitoring merupakan pemantauan berbasis umpan balik, guna memastikan perbaikan berkelanjutan. (din pattisahusiwa)

 

Facebook Comments Box

Baca Juga