Makassar, pedomanku.id:
Suasana di ballroom, lantai II Hotel Liberta Grand Sayang terasa bergetar. Gemanya menyemangati para jurnalis yang tergabung dalam Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Rabu, 10 September petang hari ini.
Duduk di podium utama, Sekjen SMSI pusat Makali Kumar,SH,MH bersama Wakil ketua Umum Bidang Usaha Media Siber dan Digital, Ilona Juwita. Ada pula Plt Ketua SMSI Sulawesi Selatan, Anwar Sanusi, sekaligus menyampaikan sambutan.
Plt SMSI Anwar Sanusi mengakui sejak diberi kepercayaan sebagai Plt SMSI sulsel telah banyak melakukan begitu banyak audens dengan berbagai kolega.
Sementara itu, Sekjen SMSI Pusat, Makali Kumar tidak sekadar menyampaikan kata pembuka, melainkan sebuah rangkaian harapan yang mendalam. Didalamnya tersirat visi yang tak hanya menggema di lantai II Hotel yang terletak di Tanjung Merdeka semata, tetapi diharapkan mampu menjadi panduan bagi industri media siber di Sulawesi Selatan ke depan.
Ternyata Makali tak lama. Dia kemudian meeski demikian, Makali Kumar mengharapkan SMSI Sulawesi Selatan mengedepankan dan mengokohkan konsolidasi. Artinya, melalui Musprov kali ini, tidak sekadar ajang seremonial belaka, melainkan menjadi momentum yang lebih memperkuat fondasi SMSi di masa datang.
Pentingnya konsolidasi jelas Makali, tentunya menyangkut pemutakhiran data anggota, penataan administrasi, hingga penyusunan program kerja yang realistis.
“Kita harapkan agar SMSI Sulawesi Selatan tidak boleh ketinggalan berita dengan media apapun di luar SMSI. Kita tidak saja harus menjadikan SMSI sebagai rumah besar, melainkan kokoh bagi seluruh anggota jajaran SMSI,” jelasnya.
Meski begitu, harus melekat dalam jiwa SMSI adalah profesionalisme. Dan, tentunya profesionalisme itu menjadi benteng yang kuat, dan kredibel.
Di bagian lain, Sekjen juga menyuarakan tantangan besar yang dihadapi para pewarta siber di era digital saat ini adalah begitu derasnya informasi yang tidak terverifikasi. Makanya, dia meminta anggota SMSI Sulawesi Selatan menjadikan profesionalisme dan etika jurnalistik sebagai harga mati. (din pattisahusiwa/sie humas dan publikasi)