Maros, Pedomanku,id:
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Patarai Amir, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros menggelar rapat koordinasi (Rakor) bersama. Rakor yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Maros bertujuan membahas langkah-langkah penanganan banjir yang kerap melanda Kabupaten Maros, Rabu, 12 Maret 2025.
Pada Rakor tersebut, Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur mengemukakan, Pemkab Maros akan menyiapkan lahan sebagai tempat pembuangan sedimentasi hasil pengerukan sungai. Dia mengakui, sebelumnya pernah ada rencana normalisasi sungai, tetapi terkendala masalah lahan. Kali ini, kami akan menyiapkan lokasi untuk menampung sedimentasi agar program ini.
Muetazim Mansyur yang juga mantan Kepala Dinasd Pekerjaan Umum (PU) Maros itu menambahkan, terakhir kali normalisasi sungai dilakukan di Maros adalah 13 tahun silam.
Sebelumnya, Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Suryadarma Hasyim menjelaskan salah satu faktor utama penyebab banjir di Maros adalah kondisi sungai yang mengalami kerusakan akibat erosi lahan serta pendangkalan akibat sedimentasi.
Pihaknya mengakui, sungai-sungai di Maros mengalami pendangkalan karena sedimentasi yang cukup tinggi. Akibatnya kapasitas tampung sungai mengecil, sehingga hujan dengan intensitas sedang saja dapat menyebabkan luapan air dan banjir.
Untuk itu, sebagai langkah jangka pendek, BBWS akan melakukan normalisasi sungai dengan bantuan alat berat yang dipinjamkan kepada Pemkab Maros.”Nantinya, Pemerintah daerah akan bertanggung jawab atas biaya bahan bakar alat berat tersebut. Kami akan memberikan bantuan pinjam pakai alat berat kepada Pemda untuk mempercepat proses normalisasi sungai,” jelasnya.
Menurutnya, ada sejumlah sungai yang akan dikeruk adalah sungai Maros dengan panjang sekitar 60 km, Pammelakang Jene di Lau, Sungai Diccekang di Moncongloe, Sungai Batangase di Mandai, serta saluran pembuangan sungai Buttatoa di Turikale.
Selain normalisasi sungai, solusi jangka panjang yang direncanakan adalah pembangunan Bendungan Bontosunggu di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu.”Bendungan ini diharapkan mampu mengurangi dampak banjir secara signifikan,” urainya, seraya melihat rencana tersebut masih menghadapi kendala di lapangan, terutama terkait pembebasan lahan, lantaran mereka khawatir lahannya akan terendam akibat pembangunan bendungan. (titi).