Maros, Pedomanku, id:
Guna memperkuat strategi dan sinergi atas percepatan penurunan stunting di daerah, maka Tim Tenaga Ahli Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Maros. Kunjungan yang menjadi momentum penting untuk memperdalam koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah itu diterima Bupati Maros, Chaidir Syam di ruang kerjanya, 5 Juni 2025.
Dalam pertemuan itu, Bupati Maros, Chaidir Syam, didampingi Wakil Bupati, Muetazim Mansyur, Sekretaris Daerah, Drs. Andi Davied Syamsuddin, M.Si, serta jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Misalnya, Bappeda, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Sementara tim dari Kemendagri yang hadir yakni, Alauddin Latief selaku Knowledge Management Specialist, Muh. Rizani sebagai Management Information and Programmer Specialist, dan Sutoyo sebagai Planning and Budgeting Specialist.
Chaidir Syam meng apresiasi atas dukungan dari Kemendagri dan menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengakselerasi penurunan stunting di kabupaten yang dipimpinnya.
“Tentunya, kami siap untuk terus belajar, berinovasi, dan bersinergi. Namun saat ini kami masih menunggu hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2025, yang hingga kini belum keluar untuk Kabupaten Maros. Kami yakin bahwa keberhasilan dalam menurunkan stunting tidak cukup hanya dengan intervensi sektoral, tetapi harus disertai dengan kepemimpinan yang kuat serta keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat,” urai mantan Ketua DPRD Maros tersebut.
Pernyataan senada dikemukakan Kepala Dinas DP3A Kabupaten Maros, Andi Zulkifli Riswan Akbar, menambahkan bahwa salah satu inovasi daerah yang terus dikembangkan adalah program “Maccening Ati”, sebuah pendekatan yang melibatkan multipihak, tidak hanya dari unsur pemerintah tetapi juga perguruan tinggi, media, swasta, dan komunitas.
“Melalui Maccening Ati, kami ingin membangun kesadaran bersama dan memperluas kepemilikan program oleh masyarakat. Inovasi ini tidak hanya bertumpu pada kegiatan fisik, tetapi juga penguatan aspek sosial, edukatif, dan partisipatif,” jelasnya.
Sementara itu, mewakili tim Kemendagri, Alauddin Latief mengemukakan, maksdu dan tujuan kehadiran mereka guna memperkuat koordinasi, membangun dialog konstruktif, serta menggali potensi dan kebutuhan lokal guna mendukung strategi percepatan penurunan stunting yang lebih efektif dan terarah.
Dia juga menekankan pentingnya pemanfaatan data, perencanaan berbasis situasi, serta penguatan inovasi dan pembelajaran lintas daerah.
Pada pertemuan dengan bupati, demikian Alauddin Latief, berlangsung diskusi secara interaktif dan produktif. Selain membahas tantangan implementasi program stunting di lapangan, tim juga menggali dan mengidentifikasi sejumlah inovasi dan praktik cerdas yang telah dilaksanakan Pemkab Maros.
“Tentunya, kehadiran kami di sini untuk mendukung Pemkab Maros dalam memperkuat praktik konvergensi melalui perencanaan yang lebih presisi, monitoring berbasis data, serta dokumentasi dan replikasi praktik cerdas. Salah satu tujuan utama dari pertemuan ini adalah menggali inovasi lokal yang bisa menjadi pembelajaran bagi daerah lain,” jelasnya.
Alauddin Latief menambahkan, sejumlah hal yang menjadi perhatian antara lain transformasi pelaksanaan Aksi Konvergensi tahun 2025, penguatan peran kecamatan sebagai simpul koordinasi, integrasi data melalui SIPD, Adwil, dan Dukcapil, serta pendekatan kolaboratif yang melibatkan OPD teknis, kecamatan, dan kader lapangan. (din)