160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

OPINI

Intelektual Aktivis dan Organisasi NU

Oleh: Zaenuddin Endy Intelektual aktivis dalam organisasi NU merupakan aktor penting yang menghubungkan dunia gagasan dengan praksis gerakan. Mereka tidak berhenti pada produksi wacana, tetapi terlibat langsung dalam dinamika organisasi dan persoalan masyarakat. Peran ini menjadikan intelektual aktivis NU berbeda dari intelektual akademik murni, karena kerja intelektual mereka selalu diuji oleh realitas sosial dan tuntutan […]

Intelektual Akademik NU di Perguruan Tinggi

Oleh: Zaenuddin Endy Intelektual akademik NU di perguruan tinggi menempati posisi strategis dalam lanskap keilmuan dan kebangsaan Indonesia. Mereka hadir sebagai pertemuan antara tradisi pesantren dan dunia akademik modern. Dari ruang kuliah, pusat riset, hingga forum ilmiah nasional dan internasional, mereka berperan sebagai produsen pengetahuan yang berakar pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Keberadaan mereka memperkuat […]

Intelektual NU Modern ( Era Reformasi dan Digital)

  Oleh: Zaenuddin Endy Intelektual NU modern lahir dari konteks sosial-politik yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Era Reformasi membuka ruang demokrasi, kebebasan berekspresi, dan pluralitas wacana yang sangat luas. Dalam lanskap baru ini, intelektual NU tidak lagi berhadapan dengan otoritarianisme negara secara langsung, melainkan dengan kompleksitas masyarakat terbuka, arus globalisasi, dan penetrasi teknologi digital. […]

Intelektual NU Transisi (Era Kemerdekaan-Orde Baru)

Oleh: Zaenuddin Endy Intelektual NU pada masa transisi dari era kemerdekaan hingga Orde Baru menempati posisi historis yang sangat strategis. Mereka hidup dalam situasi perubahan besar, ketika bangsa Indonesia baru merumuskan identitas politik, hukum, dan kebudayaannya. Dalam konteks ini, intelektual NU tidak hanya berperan sebagai ulama pesantren, tetapi juga sebagai aktor kebangsaan yang terlibat langsung […]

Intelektual NU Klasik

Oleh: Zaenuddin Endy Intelektual NU klasik merupakan fondasi penting dalam perjalanan pemikiran keislaman Indonesia. Mereka lahir dari tradisi pesantren yang memadukan kedalaman teks, keluasan nalar, serta keteduhan spiritualitas. Dalam sejarahnya, para intelektual ini tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga mampu membaca realitas sosial dengan bijaksana. Kombinasi antara tradisi ilmiah dan sensitivitas sosial inilah yang […]

Nalar Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Pemikiran NU

  Oleh: Zaenuddin Endy Dalam tradisi intelektual Islam, tiga perangkat epistemologis—bayani, burhani, dan irfani—menjadi fondasi penting dalam memahami realitas dan merumuskan norma keagamaan. Ketiganya bukan sekadar model nalar yang berdiri sendiri, tetapi kerangka berpikir yang memungkinkan umat Islam merespons dinamika zaman. Dalam konteks Nahdlatul Ulama (NU), ketiga nalar ini tidak diposisikan sebagai pilihan yang saling […]

NU dan Riak-riak yang tak Selalu Berarti Perpecahan

  Oleh: Zaenuddin Endy Dalam perjalanan panjang sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, dinamika di tubuh kepengurusan pusat kerap tampak seperti gejolak yang menimbulkan berbagai tafsir. Banyak orang di luar lingkaran inti melihatnya sebagai tanda retak, bahkan memprediksi perpecahan. Padahal, tidak semua riak harus dibaca sebagai tanda pecahnya gelas; bisa jadi itu sekadar bunyi alami dari […]

Pendidikan dan Kehidupan, Dua Sisi Mata Uang yang tak Terpisahkan

  Oleh: Sudarto Seringkali kita menganggap pendidikan dan kehidupan sebagai dua hal yang terpisah. Pendidikan dipandang sebagai urusan formal di sekolah, sementara kehidupan sehari-hari terjadi di luar ruang belajar sekolah. Namun sesungguhnya, pendidikan dan kehidupan memiliki hubungan yang sangat erat, saling melengkapi, dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kesadaran akan keterkaitan ini penting untuk […]

Jejaring Kekuatan NU yang Tak Pernah Padam

  Oleh: Zaenuddin Endy Dalam sejarah panjang perjalanan bangsa, Nahdlatul Ulama telah membuktikan diri sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang tidak bertumpu pada satu pilar saja. Ketangguhannya tidak pernah semata-mata ditentukan oleh struktur organisasi yang tersusun rapi dari pusat hingga ranting. Justru daya hidup NU muncul dari keberagaman simpul-simpul yang menyatu dalam satu kesadaran keagamaan dan kebudayaan. […]

Aswaja sebagai Pondasi Epistemologi Intelektual NU

  Oleh:Zaenuddin Endy Aswaja bukan sekadar identitas teologis bagi Nahdlatul Ulama, tetapi merupakan fondasi epistemologis yang membentuk cara berpikir, cara memahami realitas, dan cara memaknai tradisi. Dalam kerangka epistemologi, Aswaja menjadi sistem pengetahuan yang menempatkan akal, teks, dan tradisi dalam posisi seimbang. Ia menawarkan pola pikir yang tidak ekstrem dalam memahami agama, tetapi tetap memiliki […]

More posts