160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Harga Emas Naik, Ujian untuk Berzakat

Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM

Harga emas naik. Lagi. Grafiknya bikin mata berbinar, hati bergetar, dan… kalkulator mendadak jadi ustaz. Bukan untuk menghitung pahala, tapi menghitung: “Kalau zakatnya segini, lumayan juga ya…”

Di sinilah zakat diuji. Bukan saat harta sedikit, tapi justru ketika nilainya melonjak. Emas naik itu kabar gembira bagi aset, tapi tantangan serius bagi niat. Sebab zakat itu bukan soal logamnya, tapi soal kelapangan dada pemiliknya.

Lucunya, waktu harga emas rendah, kita santai: “Ah, belum seberapa.” Begitu naik, kita mulai rajin bertanya: “Ini wajib zakat nggak sih? Nunggu haulnya pas harga turun boleh nggak?” Seolah-olah zakat itu bisa nego harga.

Padahal zakat tidak pernah ikut fluktuasi pasar. Ia tetap 2,5%. Yang naik itu bukan tarifnya, tapi rasa sayang kita pada harta. Semakin mahal emas, semakin berat tangan dikeluarkan. Di sinilah terlihat: emas kita yang disimpan, atau kita yang disimpan emas?

Allah sudah mengingatkan dengan tegas tapi menenangkan:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

Perhatikan, yang dibersihkan bukan emasnya, tapi kita. Karena harta itu kotor bukan karena debu, tapi karena terlalu lama digenggam.

Zakat itu unik. Ia tidak membuat miskin, tapi membuat harta aman. Yang sering kita lupa, zakat itu asuransi langit. Premi kecil, manfaat abadi. Tidak ada klaim ribet, tidak ada survei lapangan. Begitu keluar, langsung dicatat.

Masalahnya, saat emas naik, kita merasa sedang di puncak. Dan orang di puncak sering takut turun. Padahal zakat bukan menjatuhkan, tapi menstabilkan. Seperti rem pada kendaraan di jalan menurun. Tanpa rem, justru celaka.

Ada yang berkata, “Sayang, Ustaz. Lagi mahal.” Iya, justru karena mahal itulah zakat menjadi bermakna. Zakat di saat lapang itu biasa. Zakat saat hati masih berat—itu luar biasa. Di situlah iman naik, meski emas juga naik.

Jangan takut harta berkurang karena zakat. Yang berkurang itu angka, yang bertambah itu keberkahan. Dan keberkahan tidak pernah bisa dihitung dengan kalkulator—ia terasa di rumah yang tenang, rezeki yang cukup, dan hati yang tidak gelisah.

Harga emas boleh naik setinggi langit. Tapi jangan biarkan zakat kita turun ke bawah karpet. Karena pada akhirnya, bukan berapa gram emas yang kita miliki yang akan ditanya, tapi apakah ia sudah ditunaikan haknya.

*Emas naik itu urusan pasar.*
*Zakat jalan atau tidak, itu urusan iman.* Wallahu A’lam. (ATM–Ashar Tamanggong, Kultum)

Facebook Comments Box

Baca Juga