160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Intelektual NU Klasik

Oleh: Zaenuddin Endy

Intelektual NU klasik merupakan fondasi penting dalam perjalanan pemikiran keislaman Indonesia. Mereka lahir dari tradisi pesantren yang memadukan kedalaman teks, keluasan nalar, serta keteduhan spiritualitas. Dalam sejarahnya, para intelektual ini tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga mampu membaca realitas sosial dengan bijaksana. Kombinasi antara tradisi ilmiah dan sensitivitas sosial inilah yang menjadikan mereka rujukan moral di tengah masyarakat.

Keunikan intelektual NU klasik terletak pada kemampuan mereka menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Mereka mempelajari syarah, hasyiyah, hingga matan dengan ketelitian tinggi. Keilmuan mereka tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan jejaring ulama Nusantara, Haramain, hingga Asia Selatan. Melalui jaringan itu, mereka membawa tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah ke dalam konteks lokal Indonesia tanpa kehilangan orisinalitasnya.

Para ulama klasik NU tidak menempatkan ilmu sebagai simbol status, melainkan sebagai amanah. Karena itu, penguasaan teks selalu disertai praktik adab. Sikap rendah hati, kedisiplinan spiritual, dan penghormatan kepada guru menjadi ciri yang melekat. Keilmuan yang luas tidak menjadikan mereka elitis, melainkan semakin dekat dengan masyarakat. Mereka hadir sebagai pembimbing rohani yang merawat akhlak sosial.

Konstruksi intelektual mereka bersandar pada tiga pilar utama: fiqh, tasawuf, dan kalam. Melalui fiqh, mereka menjaga ketertiban ibadah dan kehidupan sosial. Melalui tasawuf, mereka menanamkan kedalaman spiritual dan penyucian jiwa. Sedangkan melalui kalam, mereka memupuk kemampuan bernalar sehingga mampu menghadapi tantangan pemikiran modern. Tiga pilar ini membentuk keseimbangan epistemologis yang kokoh.

Di dalam tradisi pesantren, kitab-kitab klasik seperti Fath al-Qarib, Taqrib, Ihya’ Ulumuddin, Hikam Ibn ‘Atha’illah, hingga karya Asy’ari dan Maturidi menjadi menu utama. Para intelektual NU klasik tidak sekadar membaca, tetapi melakukan dialog kreatif dengan teks-teks tersebut. Mereka mampu mengaitkan prinsip-prinsip fikih dengan realitas kehidupan masyarakat agraris, maritim, dan komunal yang menjadi ciri Nusantara.

Kemampuan adaptif ini membuat mereka dihormati sebagai pemimpin lokal yang menguasai etika sosial. Mereka memimpin tahlilan, mengajar kitab, menjadi penengah konflik, mengatur ritus keagamaan, hingga membimbing masyarakat pada saat bencana atau krisis. Keberadaan mereka menjadikan agama bukan sekadar sistem doktrin, tetapi praksis sosial yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Para intelektual NU klasik juga mengembangkan metode pengajaran yang khas. Mereka menggunakan sorogan, wetonan, bandongan, dan hafalan sebagai teknik transfer ilmu. Metode ini membentuk kedekatan emosional antara guru dan murid, sehingga proses intelektual sekaligus menjadi proses spiritual. Di sinilah tercipta ikatan sanad yang memastikan keberlanjutan tradisi keilmuan secara otentik.

Selain mendalami teks, mereka memiliki kapasitas retoris yang tinggi. Ceramah-ceramah mereka sederhana tetapi penuh hikmah. Mereka mampu berbicara di hadapan petani, pedagang, hingga bangsawan dengan bahasa yang mudah dipahami. Retorika mereka tidak bertumpu pada gaya akademik, melainkan pada kearifan lokal yang membumi. Hal ini membuat pesan-pesan moral lebih mudah diterima.

Kecerdasan sosial merupakan kelebihan lain para intelektual NU klasik. Mereka memahami dinamika masyarakat, mengetahui kebutuhan umat, dan mampu merumuskan strategi dakwah yang kontekstual. Model dakwah yang akomodatif ini menjadikan mereka tidak berjarak dengan masyarakat. Keberagamaan yang mereka bangun tidak menakutkan, tetapi menenteramkan.

Di tengah kolonialisme dan perubahan sosial, intelektual NU klasik tampil sebagai benteng moral. Mereka menjaga akidah masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan. Banyak di antara mereka yang ikut memimpin resolusi jihad, mendirikan madrasah, dan merintis organisasi sosial. Peran ganda ini menunjukkan fleksibilitas mereka dalam menghubungkan agama dengan nasionalisme.

Karya-karya mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam bentuk buku, tetapi tersimpan dalam tradisi lisan, fatwa, dan praktik sosial. Banyak keputusan penting yang lahir dari musyawarah sesama ulama di pesantren. Pola ijtihad kolektif seperti ini merefleksikan kedewasaan intelektual sekaligus menjaga kehati-hatian dalam menetapkan hukum. Mereka sadar bahwa tanggung jawab keagamaan harus dilakukan secara bersama.

Meski disebut “klasik”, pemikiran mereka tidak anti-modernitas. Mereka menerima perubahan sepanjang tidak mencederai prinsip agama. Pendekatan seperti ini memungkinkan NU beradaptasi tanpa kehilangan akar tradisi. Dalam banyak kasus, mereka justru menjadi mediator antara modernisasi dan nilai-nilai lokal, sehingga masyarakat tidak terombang-ambing oleh arus perubahan.

Peran sosial mereka semakin terlihat dalam upaya menjaga harmoni antarumat. Mereka mengedepankan toleransi, menerima keragaman budaya, dan menolak ekstremisme. Prinsip tawassuth, tasamuh, dan ta’awun menjadi pedoman moral yang dihidupkan dalam praktik keseharian. Konsep-konsep ini bukan sekadar slogan, tetapi lahir dari pengalaman panjang dalam hidup berdampingan di tengah masyarakat majemuk.

Kelebihan lain para intelektual NU klasik adalah kemampuan mereka menciptakan kultur keilmuan yang berorientasi pada kemaslahatan. Mereka tidak tertarik pada perdebatan yang tidak memiliki manfaat publik. Fokus keilmuan diarahkan untuk memperbaiki moral masyarakat, menguatkan solidaritas sosial, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memahami agama sebagai kekuatan pemersatu, bukan pemecah.

Melalui kedalaman ilmu dan keteduhan jiwa, para intelektual NU klasik membentuk karakter pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak orang cerdas, tetapi juga orang beradab. Integrasi antara ilmu dan akhlak inilah yang menjadikan mereka sosok ideal dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara. Mereka tidak hanya memikirkan masa kini, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi generasi mendatang.

Intelektual NU klasik merupakan penopang utama lahirnya corak Islam Nusantara yang damai, moderat, dan berakar kuat pada tradisi. Warisan mereka bukan hanya berupa ilmu, tetapi juga teladan moral. Dengan memahami kontribusi mereka, kita dapat melihat bahwa kekuatan NU hari ini bertumpu pada kedalaman tradisi yang telah dirawat dengan ketekunan dan kebijaksanaan selama berabad-abad.(penulis wakil ketua ISNU kota makassar)

Facebook Comments Box

Baca Juga