Oleh: Zaenuddin Endy
Intelektualisme Nahdlatul Ulama lahir dari rahim pesantren, tumbuh dari tradisi keilmuan Islam klasik, dan berkembang dalam dinamika sosial-keagamaan masyarakat Indonesia. Ciri khas utama dari intelektualisme NU terletak pada keseimbangan antara ilmu, adab, dan spiritualitas. NU memandang ilmu bukan sekadar pengetahuan rasional, melainkan jalan menuju kedekatan dengan Allah. Oleh karena itu, setiap aktivitas intelektual dalam tradisi NU selalu disertai dengan dimensi moral dan etika yang kuat.
Salah satu karakteristik mendasar dari intelektualisme NU adalah keberpihakannya pada tradisi turats (warisan klasik Islam). Para ulama dan santri NU menempatkan karya-karya ulama terdahulu sebagai sumber pengetahuan utama yang harus dipelajari, dipahami, dan dikontekstualkan. Namun, keterikatan ini tidak berarti dogmatisme. Tradisi turats justru menjadi landasan bagi NU untuk menafsir ulang ajaran Islam sesuai dengan tantangan zaman. Dengan demikian, tradisi menjadi sumber kreativitas, bukan penghambat perubahan.
Ciri kedua adalah sikap moderat dan seimbang dalam berpikir. Intelektualisme NU menghindari ekstremitas, baik dalam aspek teologi, fiqih, maupun sosial-politik. Prinsip tawassuth (jalan tengah), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i‘tidal (keadilan) menjadi pedoman dalam setiap aktivitas intelektual. Nilai-nilai ini membuat intelektual NU mampu berdialog dengan berbagai kelompok, menjaga harmoni sosial, serta menjadi jembatan antara konservatisme dan modernitas.
Karakteristik berikutnya adalah integrasi antara rasionalitas dan spiritualitas. Dalam pandangan NU, akal memiliki kedudukan penting dalam memahami wahyu, tetapi akal harus dibimbing oleh nilai-nilai spiritual agar tidak terjerumus pada kesombongan intelektual. Karena itu, ulama NU menekankan pentingnya dzikir dan tafakkur secara bersamaan, berpikir mendalam sambil menjaga kejernihan hati. Pola ini melahirkan keilmuan yang lembut, bijak, dan mengandung kearifan batin.
Intelektualisme NU juga bercorak kolektif, bukan individualistik. Forum bahtsul masail di pesantren merupakan contoh konkret bagaimana NU mengembangkan tradisi berpikir bersama. Keputusan keilmuan dihasilkan melalui musyawarah, bukan melalui dominasi satu tokoh. Sikap ini melahirkan etika intelektual yang rendah hati, mengakui keterbatasan diri, dan menghargai pandangan orang lain. Dalam konteks modern, tradisi kolektif ini menjadi model berpikir deliberatif yang mendukung demokrasi pengetahuan.
Ciri lain yang tak terpisahkan adalah penghormatan terhadap otoritas guru atau sanad keilmuan. Intelektualisme NU berpijak pada keyakinan bahwa ilmu memiliki jalur transmisi spiritual yang harus dijaga. Seorang santri tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari budi pekerti gurunya. Relasi guru-murid ini menciptakan kontinuitas epistemologis yang menghubungkan ulama masa kini dengan generasi sahabat dan Rasulullah. Dalam sistem pendidikan modern yang cenderung impersonal, karakter ini menjadi nilai luhur yang unik.
Selain berbasis tradisi, intelektualisme NU juga berciri adaptif terhadap modernitas. NU tidak menolak sains, teknologi, atau teori sosial modern, tetapi mengintegrasikannya dalam kerangka nilai-nilai Islam. Perguruan tinggi NU, seperti Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) dan institusi risetnya, menjadi wadah bagi pengembangan keilmuan modern yang tetap berakar pada spiritualitas pesantren. Sikap adaptif ini membuat NU tetap relevan di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial.
Intelektualisme NU memiliki ciri kontekstual, yakni kemampuannya membaca realitas sosial secara kritis. Para intelektual NU tidak memisahkan ilmu dari problem kehidupan masyarakat. Mereka menjadikan Islam sebagai etika sosial yang hidup dalam keseharian, dalam budaya, politik, ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, banyak pemikir NU yang menulis tentang Islam Nusantara, fiqih sosial, dan ekoteologi, sebagai bentuk respons kreatif terhadap tantangan modern.
Sifat humanistik juga menjadi karakter penting dari intelektualisme NU. Pandangan dunia NU menempatkan manusia sebagai makhluk yang mulia dan memiliki tanggung jawab moral. Ilmu digunakan bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk kemaslahatan. Nilai-nilai kemanusiaan, seperti kasih sayang, keadilan, dan solidaritas, menjadi dasar dari seluruh aktivitas keilmuan. Sikap ini tampak jelas dalam pemikiran KH. Abdurrahman Wahid yang menekankan pentingnya kemanusiaan di atas segala bentuk formalisme agama.
Karakter lain yang menonjol adalah dialogis. Intelektualisme NU selalu terbuka terhadap perbedaan pandangan. Tradisi debat ilmiah di pesantren melatih para santri untuk menyampaikan argumen dengan sopan dan menghormati lawan bicara. Sikap ini menumbuhkan budaya intelektual yang toleran, jauh dari fanatisme sempit. Dalam dunia akademik modern, nilai dialogis ini menjadi modal besar untuk membangun wacana Islam yang plural dan inklusif.
Keunikan lain dari intelektualisme NU adalah pandangannya yang estetis terhadap ilmu. Dalam tradisi NU, ilmu bukan hanya alat untuk berpikir logis, tetapi juga sarana untuk merasakan keindahan ciptaan Tuhan. Seni, sastra, dan budaya lokal dihargai sebagai ekspresi spiritual. Karena itu, para kiai NU tidak alergi terhadap kesenian seperti shalawat, barzanji, atau rebana. Mereka memahami bahwa keindahan juga merupakan bentuk dakwah yang menyentuh jiwa manusia.
Karakter pragmatis dan kontekstual juga tampak dalam praktik intelektual NU. NU tidak terjebak pada teori yang kaku, tetapi selalu mencari jalan tengah yang maslahat. Misalnya dalam bidang hukum Islam, NU menekankan maqashid al-syariah (tujuan syariat) agar hukum dapat menjawab kebutuhan masyarakat modern. Pola ini menunjukkan bahwa bagi NU, intelektualisme harus berpihak pada kehidupan nyata, bukan berhenti pada tataran wacana.
Sikap inklusif terhadap budaya lokal juga menjadi ciri khas. NU memandang tradisi lokal sebagai bagian dari kekayaan umat Islam, bukan sebagai ancaman akidah. Oleh karena itu, banyak praktik budaya seperti tahlilan, maulid, dan ziarah kubur dipertahankan sebagai media penguatan spiritualitas dan solidaritas sosial. Pendekatan ini mencerminkan kemampuan intelektualisme NU untuk menafsirkan Islam secara kontekstual dan membumi.
Intelektualisme NU juga menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan amal. Ilmu tidak dianggap sempurna tanpa pengamalan. Karena itu, para santri diajarkan untuk tidak hanya memahami kitab, tetapi juga berkhidmat kepada masyarakat. Dalam perspektif ini, intelektual sejati bukanlah mereka yang banyak bicara, melainkan mereka yang berbuat nyata untuk kemaslahatan umat. Nilai inilah yang menjaga NU tetap dekat dengan rakyat kecil.
Karakter keilmuan NU juga bersifat evolutif. Ia terus berkembang seiring perubahan zaman tanpa kehilangan esensinya. Dari generasi kiai klasik hingga intelektual muda, pola berpikir NU selalu menyesuaikan diri dengan konteks sosial-politik. Regenerasi intelektual terus terjadi melalui lembaga pendidikan, forum akademik, dan ruang digital. Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa tradisi NU bukan warisan statis, melainkan sistem pengetahuan yang hidup.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa karakteristik intelektualisme NU adalah sintesis antara ortodoksi dan modernitas, antara teks dan konteks, antara akal dan hati. Ia menampilkan wajah Islam yang damai, cerdas, dan membumi. Di tengah dunia yang penuh ketegangan ideologis, intelektualisme NU menjadi oase keseimbangan yang membuktikan bahwa tradisi tidak harus melawan kemajuan, dan modernitas tidak harus menghapus spiritualitas. Dalam keseimbangan itulah, NU menegakkan intelektualisme yang sejati: ilmu yang berakar, berpihak, dan beradab. (Penulis wakil ketua ISNU kota Makassar)