Makassar, Pedomanku,id:
Masyarakat Maluku di Makassar dan sekitarnya akan merayakan Pattimura Day. Perayaan ini bukan semata memperingati peristiwa heroik yang pernah dipimpin Kapitan Pattimura– tokoh sentral perlawanan masyarakat Maluku terhadap serdadu Belanda, 15 Mei, 1817 silam, melainkan sekaligus warisan yang harus dijaga, dan dihargai.
“Hanya dengan menghargai sejarah Pattimura, katong (kita) mampu menulis masa depan yang lebih baik,” demikian yang mengemuka di sela sela pertemuan tujuh pengurus inti Kerukunan Keluarga Maluku, atau KKM Sulawesi Selatan masing masing Ir.Leonardo J Hehanusa (ketua), Samuel Sapasuru,SH, Jafrat Syukur, Pendeta Silvana Keliduan, Novira Karim Izaak, Andrew Metekohy, dan Din Pattisahusiwa, di Anomali Coffee, Jalan Dr.Sam Ratulangi, Selasa,3 Februari petang.
Pertemuan yang dipimpin Leonardo J Hehanusa itu membahas persiapan dan pembentukan panitia pelaksana Pattimura Day yang direncanakan berlangsung di Pantai Indah Akarena Makassar, pertengahan tahun ini. Ketua dan sekretaris panitia yang disepakati adalah Brampi Toumahuw dan Jafrat Syukur.
Pattimura, bagi warga Maluku, jelas Leonardo J Hehanusa, lebih dari sekadar ikon Maluku masa lalu. Ia adalah pelajaran bahwa, kekuatan kolektif selalu melampaui kekuatan individu.
Seperti pesan yang tertulis dalam setiap jiwa perantau Maluku di kota yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham “Dari Maluku ke Makassar, semangat Pattimura tetap menyala!”
“Bagi kami masyarakat Maluku di Makassar ini, peringatan Pattimura Day bukanlah akhir cerita, melainkan awal dari proses hijrah yang terus berlangsung—dari mengenang perjuangan masa lalu, kemudian mengambil peran aktif di masa kini, untuk menggapai hari esok yang lebih baik,” ujarnya.
Di sisi lain, Bung Leo sapaan akrab pemilik Anomali Coffee ini, bagi masyarakat Maluku, Pattimura adalah simbol keberanian yang tak mengenal takut, dan terus menginspirasi. Sementara bagi warga Maluku di perantauan, perayaan Pattimura Day adalah ritual lebih dari sekadar menghormati seorang tokoh, sekaligus pahlawan nasional—ini adalah upaya membentengi identitas budaya, memupuk rasa persudaraan, mengajarkan jiwa, dan semangat juang kepada generasi muda.
“Di Makassar, kami tak hanya merayakan sejarah—kami membangun jembatan kembali ke akar. Pattimura mengajarkan kami, meski jauh dari Maluku, namun jiwa perjuangan tidak boleh mati.” tutup Bung Leo, seraya mengharapkan kepanitiaan yang telah dibentuk segera melakukan koordinasi. (din pattisahusiwa).