Makassar,, Pedomanku.id:
Komunitas ojek online, atau Ojol menegaskan kekecewaan mendalam terhadap kinerja DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Kekecewaan pengemudi Ojol, lantaran lembaga wakil rakyat di Jalan Urif Sumoharjo itu hanya pandai mengumbar janji bakal menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak terkait, tetapi hingga pertengahan Desember ini tidak terlaksana.
Ketua Jaringan Ojol Sulawesi Selatan, Muh.Jumail, Selasa, 16 Desember menegaskan, pihaknya demikian kecewa dengan janji janji manis anggota DPRD Sulawesi Selatan, khususnya Komisi D. Pasalnya, saat dirinya dan rekan rekannya yang tergabung dalam Ojol Semesta menggelar aksi pada Senin, 24 November 2025 komisi D saat itu berjanji segera memanggil phak pihak terkait untuk menggelar RDP.
“Kami sangat kecewa dengan Komisi D DPRD Sulsel. Mereka itu wakil rakyat. Mereka anggota dewan terhormat. Dan, mereka telah berjanji akan menggelar RDP dengan pihak pihak terkait. Tetapi, menjelang sebulan ini tidak ada realisasi apa apa. Ini sudah pertengahan Desember, sebentar lagi tahun baru 2026,” tegasnya.
Muh.Jumail mengakui, dirinya tidak mengetahui secara detil mengapa Komisi D DPRD Sulsel seakan ingkar janji. Padahal, mereka telah menyampaikan sikap secara baik baik. Makanya, jika saja komisi yang membidangi di antaranya Dinas Perhubungan, serta pengawasan pada sektor barang/ jasa, dan pembangunan daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah ini melakukan tugasnya dangan baik, tentunya sudah ada titik temu.
Menurutnya, karena komunitas Ojol telah menjadi bagian integral dari sistem transportasi di daerah ini, sejatinya, suara mereka wajib didengar DPRD Sulawesi Selatan. Malah, persoalan yang mengemuka di kalangan Ojol saat ini, bukanlah semata cerita tentang kemajuan teknologi, atau kemudahan akses semata, bukan pula hanya pengemudi, melainkan tentang ayah, ibu, dan anak yang mencari nafkah untuk keluarga. Tetapi, sepertinya suara mereka tidak didengar. Yang mereka dapati adalah kekecewaan.
“Inilah kisah mengecewakan para pengemudi Ojol di Sulawesi Selatan. Ini merupakan peringatan bagi kita semua tentang pentingnya mendengar suara masyarakat dan mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap kelompok-kelompok yang paling rentan. Ini adalah cerita tentang perjuangan yang diakui dan diperlakukan dengan adil, dan tentang harapan untuk masa depan yang lebih baik, bukan hanya untuk para pengemudi ojek online, tetapi untuk seluruh masyarakat Sulawesi Selatan,” tambahnya.
Jumail bahkan mengatakan, dirinya dan rekan rekan sesama Ojol mempertanyakan nyali DPRD Sulawesi Selatan yang kurang memerhatikan nasib rakjat kecil. Bisa saja, DPRD Sulsel lebih peduli dengan proyek-proyek besar dan investor besar, tanpa memperhatikan nasib para Ojol, para pengemudi ojek online yang menjadi tulang punggung transportasi, sekaligus kemajuan sebuah daerah.
Meski begitu, dia menambahkan, pengemudi ojol tidak akan berhenti menyuarakan tuntutan mereka. Jika tidak ada respons konkret dari DPRD Sulsel, pihaknya berencana kembali menggelar aksi lanjutan.
“Perlu diingat, kami sudah sepakat akan menggelar aksi jilid dua pada awal tahun 2026. Kami tidak akan berhenti menyuarakan aspirasi sampai ada kejelasan dan keberpihakan nyata kepada rekan-rekan Ojol,” urainya.
Sebelum menutup penegasannya, Jumail melihat, komunitas ojek online di Sulawesi Selatan telah berusaha mengadakan transmisi damai dan mengirimkan harapan harapan mereka kepada DPRD, namun belum ada respon yang signifikan. Para Ojol ini merasa bahwa suara mereka diabaikan, dan nasib mereka dibiarkan bergantung oleh wakil rakyatnya sendiri. (din pattisahusiwa)