Oleh : Firman Jamaluddin,S.STP
Di tengah arus modernisasi, dan kompleksitas hidup yang semakin meningkat, pencarian akan makna dan fondasi yang kokoh bagi eksistensi manusia menjadi semakin relevan. Dalam konteks ini, pendekatan humanis menawarkan kerangka berpikir yang kuat. Tidak hanya sebagai filosofi, tetapi juga sebagai pedoman praktis dalam membentuk individu dan masyarakat secara umum.
Pendekatan ini menempatkan manusia pada pijakan sentral, mengakui potensi intrinsik, keunikan, dan kebutuhan mendasar setiap individu untuk tumbuh dan berkembang. Namun, esensi pendekatan humanis menjadi lebih utuh dan bermakna ketika disinergikan dengan tiga pilar nilai krusial. Yaitu bermartabat, berkarakter, dan bertanggungjawab, atau apa yang disebut LA MAKANJA.
Pilar bermartabat, merupakan pilar penghargaan diri dan sesama. Dimana, pilar ini adalah landasan utama dalam pendekatan humanis. Ini merujuk pada penghargaan intrinsik yang dimiliki setiap manusia, yang tidak dapat dibeli atau dijual, juga tidak berkurang karena kondisi ekonomi, sosial, ras, atau keyakinan. Bermartabat berarti memperlakukan diri sendiri dengan respek, menjaga integritas, dan menjunjung tinggi kehormatan diri. Lebih jauh, ini juga berarti mengakui dan menghormati martabat orang lain, tanpa kecuali.
Sementara Berkarakter, merupakan inti moral dan etika seseorang, cerminan dari nilai-nilai yang dipegang teguh dan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Pilar ini, adalah kompas batin yang memandu keputusan dan perilaku, terutama dalam situasi sulit atau ketika tidak ada yang mengawasi. Karakter dibentuk melalui proses panjang: pembelajaran, pengalaman, refleksi, dan pilihan-pilihan yang konsisten dengan prinsip-prinsip luhur.
Kemudian, pilar bertanggungjawab adalah manifestasi nyata dari martabat dan karakter. Ini adalah kesediaan untuk mengakui dan menerima konsekuensi dari tindakan dan pilihan seseorang, serta kesediaan untuk memenuhi kewajiban dan komitmen. Bukan hanya itu, tetapi ada tanggung jawab yang tidak sebatas pada diri sendiri, tetapi juga meluas kepada orang lain, komunitas, lingkungan, dan masa depan.
Dengan demikian, tiga pilar nilai krusial yang dimaksud (bermartabat, berkarakter, dan bertanggungjawab) menjadi sangat penting. Mengapa penting? Lantaran, ketiga pilar positif ini hadir dalam diri setiap pelayanan publik, maka hasil yang dicapai akan jauh melampaui sekadar efisiensi. Dimana, masyarakat akan merasa dihargai, didengarkan, dan dilayani dengan hati.
Frirman Jamaluddin mengakui, rencana aksi “LAYANAN Front Desk Handal Berbasis MAKANJA Kecamatan Ujung Pandang” ini dirancang untuk menjawab tantangan dan peluang dalam menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan kualitas interaksi sosial, serta memperkuat fondasi nilai-nilai profesionalisme berbasis karakter, martabat dan tanggung jawab staf front desk.
Inisiatif ini bertujuan untuk mewujudkan staf front desk Kecamatan Ujung Pandang yang tidak hanya cakap dalam memanfaatkan teknologi untuk efisiensi pelayanan (Digital), tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi dan empati yang tinggi (Humanis).
Lebih dari itu, rencana aksi ini juga berfokus pada internalisasi nilai-nilai MAKANJA (Bermartabat, Berkarakter, dan Bertanggung Jawab) sebagai landasan dalam setiap pelaksanaan tugas dan interaksi dengan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan pelayanan di front desk Kecamatan Ujung Pandang akan semakin berkualitas, inklusif, dan mampu meningkatkan kepuasan serta kepercayaan masyarakat.
Kehadiran MAKANJA dilatarbelakangi oleh meningkatkan pemahaman staf front desk terhadap konsep HANDAL dan nilai budaya kerja berbasis MAKANJA. Membangun kemampuan dasar staf dalam komunikasi empatik dan pelayanan humanis. Mengidentifikasi kebutuhan teknologi sederhana untuk mendukung efisiensi layanan front desk. Dan, tentunya dengan penerapan Layanan Cepat Tanggap Terhadap Aduan Masyarakat.
Tujuannya (jangka pendek(0-2 bulan) agar terbentuknya standar operasional prosedur (SOP) pelayanan front desk berbasis MAKANJA, meningkatkan kompetensi staf dalam komunikasi lanjutan dan etika layanan public, merealisasikan pemanfaatan teknologi sederhana (misalnya QR code informasi, sistem antrean digital/manual). Hingga, menyediakan data awal kepuasan masyarakat sebagai dasar evaluasi dan peningkatan layanan.
Manfaat dari tujuan jangka pendek ini adalah, staf memahami peran strategis front desk dan pentingnya nilai MAKANJA dalam layanan publik.Terjadinya peningkatan literasi digital awal, terutama dalam penggunaan aplikasi layanan masyarakat. Identifikasi permasalahan layanan lebih akurat, karena staf mulai melihat layanan dari sudut pandang pengguna, serta dasar pengembangan SOP dan pelatihan sudah tersedia, sebagai pondasi transformasi ke depan.
Sementara tujuan Jangka Menengah (2 Bulan – 1 Tahun) yakni, proses pelayanan menjadi lebih efisien dan responsif, karena teknologi sudah mendukungdan SOP mulai diterapkan. Staf lebih percaya diri dan terampil dalammelayani masyarakat, berkat pelatihan berbasisdunia usaha (perhotelan/perbankan). Pengalaman masyarakat meningkat, karenapelayanan menjadi lebih jelas, tertib, dan humanis. Serta, budaya kerja kolaboratif dan bertanggung jawabmulai terbentuk, karena sudah ada acuan dan sistem kerja yang baku.
Kemudian tujuan jangka panjang (>1 tahun) yaitu, membangun budaya layanan front desk yangberkelanjutan, profesional, dan berorientasi padakebutuhan masyarakat. Mengintegrasikan inovasi pelayanan berbasis teknologi sederhana sebagai bagian dari sistem kerja harian. Termasuk, menciptakan citra positif organisasi melalui front desksebagai garda depan pelayanan publik.
MAKANJA juga adalah nilai dasar layanan publik yang ingin dibentuk dalam system front desk Kecamatan Ujung Pandang. Ruang lingkup layanan ini mencakup pertama, dimensi Nilai Pelayanan (Bermartabat, dimana layanan yang menghargai hak masyarakat, tidak diskriminatif, dan menjaga harga diri penerima layanan. Berkarakter–Integritas, jujur, dan konsisten menjalankan tugas dengan akhlak pelayanan yang baik. Dan Bertanggung Jawab–tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi memastikan penyelesaian tuntas dan tepat waktu.
Kedua, Jenis Layanan yang dicakup (yaitu, layanan administrasi umum yang terdiri dari surat pengantar, legalisasi, keterangan domisili, dan sejenisnya. Layanan Aduan Masyarakat : Aduan melalui aplikasi UPATTA dan SP4N-LAPOR. Layanan Informasi Publik : Pemberian informasi secara digital dan langsung sesuai dengan hak akses masyarakat. Dan, Layanan Khusus: Rekomendasi kegiatan masyarakat, Layanan kewarisan, dan layanan Klarifikasi atau penyelesaian kasus sosial tertentu.
Ketiga, adalah Metode Layanan. Yaitu, Digital Adaptif: Layanan dengan QR Code, website, aplikasi pengaduan, atau sistem antrian online. Interaksi Langsung (Humanis): Untuk layanan yang tidak bisa diselesaikan digital, seperti klarifikasi data, layanan waris, atau rekomendasi kegiatan warga, serta Layanan Aduan.
Guna memastikan layanan humanis, tidak hanya sebatas slogan, melainkan harus ditopang oleh nilai-nilai internal yang kuat antar dua pihak, yakni diri sendiri dan kolaborasi dengan pihak lain. Perhotelan salah satunya.
Kolaborasi dengan pihak perhotelan ini, demikian Firman Jamaluddin, tentunya para pihak tidak hanya memahami, tetapi juga mengimplementasikan layanan humanis yang berlandaskan martabat, karakter, dan tanggung jawab. Jika itu dilakukan dengan baik, tentunya hasilnya menjadi sinergi yang luar biasa.
Sebut saja, para tamu tidak sekadar mendapatkan fasilitas fisik, tetapi juga merasakan kehangatan, keamanan, dan penghargaan yang mendalam. Pihak perhotelan dan mitra dapat membangun reputasi yang kokoh, dikenal sebagai penyedia layanan yang dapat dipercaya dan berkelas. Dengan demikian, tentunya, kolaborasi menjadi lebih dari sekadar kontrak bisnis, melainkan tumbuh menjadi strategi kemitraan yang didasari oleh kepercayaan dan visi bersama.
Pada akhirnya, berkolaborasi dengan pihak perhotelan dapat mengedepankan layanan humanis dengan nilai-nilai kejujuran, berkarakter, dan bertanggung jawab adalah investasi dalam masa depan industri perhotelan. Ini adalah jalan menuju keunggulan berkelanjutan. Di mana, profitabilitas berjalan seiring dengan integritas, kepuasan emosional, dan dampak positif bagi semua.
Layanan humanis bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sistem terpadu yang saling memperkuat, membentuk siklus yang penting bagi pertumbuhan dan adaptasi jangka panjang. Pendekatan nilai misalnya, merupakan inti dari setiap keputusan, setiap interaksi, dan setiap strategi. Pendekatan berbasis nilai ini, memadukan prinsip-prinsip etika, integritas, transparansi, dan tanggung jawab sosial ke dalam setiap aspek operasional dan budaya.
Kemudian, penguatan kompetensi, adalah bagaimana mencapai sesuatu dengan efektif. Penguatan kompetensi mengacu pada upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang relevan dengan tantangan masa kini dan masa depan. Ini bukan hanya tentang memiliki keahlian teknis, melainkan juga kecakapan lunak seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan adaptasi terhadap perubahan. Sementara itu, monitoring merupakan pemantauan berbasis umpan balik, guna memastikan perbaikan berkelanjutan. (Penulis, Sekcam Ujung Pandang, Kota Makassar)