Makassar, Pedomanku,id:
Kebesaran hati Mas’ud Muhammadiyah terlihat jelas saat menyampaikan orasi pengukuhan sebagai Guru Besar di mimbar terhormat, kampus Universitas Bosowa (Unibos). Mungkin saja, sang Professor mengingat akan detik detik saat pertama kali berada ruang kelas, hingga menapaki tangga tertinggi yang digapai saat ini.
Dia meyakini benar bahwa, jabatan fungsional saat ini bukan diperoleh di bangku dapur, hingga pekarangan rumah semata, melainkan menembus hingga di ruang ruang publik. Bahkan, tak pernah terlepas satu pun helai napas yang tidak dipinjamkan tuhan. Apalagi, di setiap tantangan yang terlewati, adalah anugerah yang diturunkan sang pencipta–tentunya melalui rahmat-Nya yang tak terhingga.
Karena itu, sebelum mengakhiri orasinya, Mas’ud Muhammadiyah mengangkat tangan, menundukkan kepala, seraya mengucapkan Alhamdulillah dan terima kasih kepada mereka mereka yang turut serta ‘membesarkan’ dirinya.
Menurutnya, menghormati pejabat negara, ketua yayasan, rektor, dosen, dan rekan rekan sejawatnya sangat penting, termasuk kedua orang tua dan keluarga seperti tersusun dalam naskah akademiknya.
Penghormatan itu harus tertanam kuat di manapun dan kapanpun. Itulah mengapa, penghormatan yang ditujukan kepada mereka yang berjasah dalam kesuksesannya meraih Profesor tidak bisa dipisahkan, melainkan saling terkait. Apalagi dia meyakini, pilar kesuksesan, dan atau perjalanan hidup, khususnya pendidikan, jarang sekali berjalan sendiri. Melainkan secara terus-menerus dibentuk dan dibimbing orang-orang sekitar.
Mereka telah menunjukkan penghargaan, bimbingan, dukungan dengan bekalan pengetahuan, dan keterampilan yang tak ternilai. Malah, mereka tidak sekadar menghargai, tetapi juga membuka jalan menuju sukses.
Untuk itulah, pertama ucapan terima kasih dihantarkan kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) — Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., kemudian Founder Bosowa Corporindo (H.M. Aksa Mahmud), Ketua Yayasan Aksa Mahmud (Hj. Melinda Aksa), Ketua BPH Yayasan Aksa Mahmud (Asrul Hidayat), Rektor Universitas Bosowa (Prof. Dr. Ir. Batara Surya, S.T., M.Si), beserta seluruh jajaran pimpinan, serta anggota senat akademik, guru besar, dekan dan pejabat struktural, dosen, tenaga kependidikan, kolega akademisi, dan mahasiswa yang terus menginspirasi.
Secara khusus, Mas’ud Muhammadiyah juga menghaturkan penghormatan terdalam kepada empat cahaya yang telah menerangi perjalanan hidupnya.
Saat menyampaikan ucapan terima kasih kepada empat nama itu, Mas’ud Muhammadiyah seakan berdiri dengan hati yang bergetar. Antara rasa syukur yang mendalam, dan duka yang masih belum sepenuhnya terobati.
Pasalnya, di balik gelar Professor yang kini menempel pada namanya, empat nama itu selalu terukir paling jelas, sekaligus menjadi pilar yang menopang berdirinya mimpi meraih prestasi membanggakan saat ini.
Dia menyebut, di balik setiap pencapaian, selalu ada nama keempatnya yang membimbing, dan empat hati yang mendo’akan. Pertama, Almh. Hj. Medara — ibu yang telah melahirkan dan merawat jiwa ini dengan cinta tanpa syarat. Kepada Alm. H. Muhammadiyah — ayah yang mengajarkan makna teguh dan bijaksana dalam setiap langkah.
Bagi Mas’ud Muhammadiyah, orang tualah yang memulai benih benih pengetahuan bertumbuh, sekaligus menyiapkan tanah pinggiran bagi benih ilmu yang kelak akan dikembangkan. Orang tua juga tidak sekadar guru di rumah, melainkan sosok yang mengorbankan segalanya demi pendidikannya.
Ucapan senada dihaturkan kepada Almh. dr. Hj. Syamrina Karim, M.Kes. — pendamping hidup yang telah berjuang bersama, berbagi mimpi dan pengorbanan, kini telah kembali ke pangkuan Ilahi. Dan kepada Tati Mustafa, S.H. — yang dengan kasih dan ketulusan melanjutkan estafet cinta, menjadi penyejuk di tengah perjalanan yang tersisa.
Mas’ud juga ingat betul pepatah lama, “Ketekunan mengalahkan bakat, janji terus berjalan. Karena itulah, kerja keras tidak sekadar menuntut otak, tetapi juga hati yang gigih. Itulah yang membuatnya tak pernah menyerah. Apalagi dia ingat betul kata kata ibunya, keberhasilan bukanlah milik yang paling pintar semata, melainkan milik yang paling tekun menapaki setiap jejaknya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada saudara-saudaranya, anak-anak, menantu dan cucu dari keluarga Besar alm H. Karim Sulaeman dan Keluarga Besar alm H. Mustapa Pitto, serta seluruh keluarga besar yang tidak sempat disebut satu per satu.
Mas’ud juga menyampaikan terima kasih kepada Kakanda Prof. Dr. H. M. Said Karim, S.H., M.H., M.Si., CLA. Termasuk kepada kepada guru SD, SMP, SMA dan PT, teman sejawat dosen Universitas Bosowa, khusus dosen dan tendik Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra (FIPS), dosen Program Studi Pendidikan Dasar (S-2), mahasiswa dan alumni S-1 dan S-2, teman-teman organisasi seperti IKA Unhas, IKA UNM, HISKI, ADRI, Forsiladi, ALTI, KNPI, teman-teman laskar pelangi (sependidikan) di SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi (S-1, S-2, dan S-3), dan hadirin yang dengan setia mengikuti acara pengukuhan guru besar ini.
Dengan hati yang penuh, Mas’ud Muhammadiyah menutup ucapan ini dengan sebuah kutipan— “Ilmu itu seperti cahaya, tidak pernah cukup bila hanya menyalakan satu ruangan, ia harus menyebar ke seluruh dunia.
Semoga gelar Profesor ini tidak hanya menjadi simbol pribadi, tetapi juga lentera yang menuntun generasi penerus dalam menapaki kebenaran, keadilan, dan integritas—nilai‑nilai yang pernah dia perjuangkan selama ini. (din pattisahusiwa)