160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


NU dan Riak-riak yang tak Selalu Berarti Perpecahan

 

Oleh: Zaenuddin Endy

Dalam perjalanan panjang sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, dinamika di tubuh kepengurusan pusat kerap tampak seperti gejolak yang menimbulkan berbagai tafsir. Banyak orang di luar lingkaran inti melihatnya sebagai tanda retak, bahkan memprediksi perpecahan. Padahal, tidak semua riak harus dibaca sebagai tanda pecahnya gelas; bisa jadi itu sekadar bunyi alami dari air yang sedang mencari keseimbangannya sendiri. Fenomena yang terjadi di PBNU hari ini mungkin justru bagian dari ritme alamiah sebuah organisasi besar yang sedang menata diri menjelang momentum penting.

NU sebagai badan dan lembaga yang diyakini banyak jamaahnya sebagai entitas keramat memiliki tradisi sejarah yang tidak pernah luput dari dinamika internal. Keramat bukan berarti steril dari perbedaan atau perdebatan; justru kekuatan NU terletak pada kemampuannya mengolah perbedaan menjadi energi. Karena itu, apa pun yang tampak dari luar hari ini sesungguhnya tidak otomatis mengarah pada sesuatu yang negatif. Ada kalanya sebuah ketegangan kecil adalah mekanisme pembersihan yang diperlukan untuk memastikan arah gerak tetap lurus.

Dalam logika organisasi besar, terutama yang memiliki warisan spiritual dan kultural setua NU, proses penyaringan internal adalah sesuatu yang wajar. Ibarat tubuh manusia, kadang perlu demam rendah untuk mengeluarkan racun. NU pun bisa saja sedang mengalami “demam organisasional” sebagai tanda menuju kesehatan yang lebih baik. Ini bukan gejala kehancuran, melainkan indikasi bahwa tubuh organisasi masih hidup, sensitif, dan mampu bereaksi terhadap problem internal yang muncul.

Banyak pihak yang memahami NU hanya dari pemberitaan luar sering kali terjebak pada narasi dramatis. Mereka lupa bahwa NU berdiri di atas ratusan ribu pesantren, jutaan jamaah, sistem kiai–santri, dan kearifan lokal yang tak mudah terguncang oleh isu sesaat. PBNU bukanlah satu-satunya pusat kekuatan; ia hanya salah satu simpul. Maka, ketika ada dinamika di level pusat, itu bukan berarti bangunan besar NU sedang roboh. Yang bergerak hanyalah salah satu ruang, bukan seluruh rumah.

Siklus sejarah NU selalu menunjukkan bahwa organisasi ini mampu bangkit setiap kali memasuki fase-fase kritis. Menjelang usia seratus tahun Masehi yang akan jatuh pada 2026, yang kerap disebut sebagai “kebangkitan kedua”, NU kemungkinan besar sedang menata diri. Penataan biasanya tidak sunyi; ia membawa suara, pergeseran, dan pergumulan. Namun suara itu jangan buru-buru dimaknai sebagai perpecahan. Bisa jadi itu justru orkestrasi perubahan yang sedang menemukan nadanya.

Jika organisasi besar lain mengalami guncangan, sering kali yang muncul adalah keretakan total. NU berbeda. Ia memiliki fondasi batiniah berupa barakah para ulama, tradisi tabarruk, dan hubungan kultural antarwarganya yang tidak serta-merta retak oleh perbedaan pandangan. NU telah melewati masa kolonial, pertarungan ideologi pasca-kemerdekaan, dinamika politik Orde Baru, hingga pertarungan wacana era digital. Semua itu dilewati tanpa kehilangan jati diri.

Karena itu, apa yang terlihat hari ini boleh jadi hanyalah putaran alamiah dalam proses regenerasi dan konsolidasi. NU sebagai jam’iyyah besar kadang perlu menyaring energi, memantapkan arah, dan memperjelas orientasi. Dalam situasi seperti itu, wajar bila permukaan air bergelombang sedikit. Namun permukaan tidak menentukan kedalaman; yang tenang di dasar jauh lebih kuat daripada yang tampak di atas.

Di kalangan warga NU sendiri sering muncul kesadaran bahwa dinamika bukan sesuatu yang harus ditempatkan dalam bingkai negatif. Kiai-kiai sepuh selalu mengingatkan bahwa “perbedaan itu rezeki”, bahkan konflik kecil pun kadang dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan. Dengan cara pandang semacam ini, wajar jika suasana di PBNU tetap tenang meski publik luar mencoba menggiringnya sebagai drama besar.

Bagi warga NU di pinggiran, yang kesehariannya diisi dengan mengajar, bertani, bekerja, atau mengurus majelis taklim, dinamika pusat bukan sesuatu yang harus menegangkan dahi. Mereka hidup dengan tradisi pasrah, tawakkal, dan percaya pada marwah para masyayikh. Apa yang terjadi di pusat organisasi biasanya akan menemukan harmoni pada waktunya. Tidak perlu ikut memikul beban yang bahkan belum tentu berbobot.

Dalam tradisi NU, yang terpenting adalah menjaga hati tetap teduh. Ketegangan hanya memberi ruang pada prasangka. Sementara NU tumbuh bukan dari prasangka, melainkan dari tradisi silaturahmi dan musyawarah. Jika ada sesuatu yang tampak mengganjal, biasanya para kiai akan duduk, minum teh, lalu persoalan tuntas. Cara sederhana, tetapi selalu efektif sejak satu abad lalu.

Maka, orang-orang yang berada di pinggiran NU sebaiknya tetap menjaga ketenangan batin. Tidak perlu ikut berspekulasi, karena spekulasi sering memperkeruh sesuatu yang sebenarnya sederhana. Terkadang, hanya media yang menambah dramatisasi, bukan para pelaku di dalamnya. Warga NU cukup memelihara istikamah, meneruskan amalan, dan percaya bahwa organisasi ini dituntun oleh tangan-tangan yang tidak tampak.

Dalam suasana seperti ini, menjaga rutinitas justru menjadi bentuk stabilitas. Merokok di beranda, menyeruput kopi hangat di antara obrolan ringan, atau mendengarkan ceramah kiai kampung adalah cara sederhana untuk tetap dekat dengan pusat ketenangan. NU bukan hanya soal struktur; NU adalah ekosistem rasa. Selama rasa itu terpelihara, dinamika di atas tidak akan mengganggu akar di bawah.

Pada akhirnya, NU adalah organisme yang terus bergerak. Ia tumbuh, menyesuaikan diri, dan kadang mengganti kulitnya sendiri. Fase-fase semacam ini tidak perlu ditanggapi berlebihan. Yang penting adalah menjaga adab, menjaga kepercayaan, dan tetap berpijak pada prinsip bahwa organisasi para ulama ini memiliki mekanisme penyembuhan yang telah teruji waktu.

Karena itu, mari kita tidak terburu-buru membaca setiap riak sebagai tanda bahaya. Barangkali NU sedang merapikan diri untuk menyambut abad kedua dengan lebih bersih dan lebih sigap. Kita yang di pinggiran cukup menatap proses ini dengan tenang. Nikmati saja rokok dan kopi seperti biasa. Dunia NU akan tetap berjalan, dan insyaAllah, akan terus membawa maslahat bagi umat. (Penulis, Koordinator Instruktur PKPNU Sulsel)

Facebook Comments Box

Baca Juga