Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Kita ini kalau beli air galon, pakai dispenser yang ada filternya. Beli AC, ada filternya. Bahkan foto pun kita kasih filter supaya wajah kelihatan lebih bersih dari kenyataan.
Tapi anehnya, rezeki yang masuk ke rekening jarang kita kasih filter. Padahal rezeki itu juga perlu disaring.
Namanya: zakat.
Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)
Kata kuncinya: membersihkan.
Artinya apa?
Berarti ada yang perlu dibersihkan.
Rezeki itu memang nikmat. Tapi kalau tidak difilter, dia bisa berubah jadi drama. Awalnya senang, lama-lama tegang. Awalnya berkah, ujungnya jadi beban.
Coba perhatikan.
Ada orang yang dulu hidupnya sederhana, ibadahnya rajin. Begitu rezekinya naik, jadwal salatnya turun. Dulu ringan membantu, sekarang ringan pamer. Dulu sering ke masjid, sekarang sering ke mall.
Rezekinya naik. Tapi kualitas dirinya turun. Itu bukan karena rezekinya jahat. Tapi karena tidak difilter.
Zakat itu seperti satpam di pintu harta. Dia memastikan yang masuk tetap bersih, dan yang keluar tepat sasaran. Tanpa zakat, harta bisa liar. Dan harta yang liar itu berbahaya.
Bayangkan kalau uang di rekening bisa ngomel.
“Bos, sudah cukup haulnya ini. Jangan ditahan terus. Saya ini ada hak orang lain di dalamnya.”
Lucu ya. Tapi sebenarnya serius.
Dalam setiap rezeki ada hak orang lain. Dan kalau hak itu kita tahan, dia bisa berubah jadi beban tak kasat mata. Bukan selalu dalam bentuk bangkrut. Kadang dalam bentuk gelisah. Kadang dalam bentuk masalah yang datang bertubi-tubi.
Ada orang hartanya banyak, tapi hidupnya ribet. Masalah datang silih berganti. Hatinya tidak pernah tenang. Bisa jadi bukan karena kurang uang. Tapi karena ada yang belum dikeluarkan.
Zakat itu bukan membuat kita miskin. Justru menjaga kita supaya tidak miskin hati. Karena yang paling berbahaya bukan dompet kosong. Yang paling berbahaya itu hati yang keras.
Dan hati yang keras sering lahir dari harta yang terlalu lama dipeluk.
Lucunya lagi, kita sering takut uang berkurang karena zakat. Padahal setiap hari uang kita berkurang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Nongkrong bisa. Ganti gadget bisa. Liburan bisa. Begitu dengar 2,5 persen, langsung terasa seperti 25 persen.
Padahal zakat itu kecil sekali dibanding nikmat yang kita terima gratis setiap hari. Nafas gratis. Jantung berdetak gratis. Mata melihat gratis. Coba kalau semua itu pakai tagihan bulanan.
Zakat itu cara Allah mengajarkan kita satu hal penting:
“Harta ini bukan kamu pemilik mutlaknya.”
Kita ini cuma pengelola sementara. Jangan sampai merasa jadi bos besar, padahal cuma karyawan titipan.
Kalau rezeki tidak difilter dengan zakat, dia bisa jadi ujian berat. Bisa menumbuhkan sombong pelan-pelan. Bisa membuat kita merasa aman tanpa Allah. Bisa membuat kita terlalu percaya pada saldo. Dan ketika saldo itu goyang sedikit, iman ikut goyang.
Zakat itu pengaman. Seperti sabuk keselamatan. Kita mungkin merasa tidak perlu, sampai terjadi sesuatu.
Orang yang rutin berzakat biasanya lebih santai. Bukan karena hartanya kebal dari masalah. Tapi karena hatinya tidak terlalu melekat. Dia tahu, yang memberi bisa memberi lagi.
Sebaliknya, orang yang menahan zakat sering hidup dalam mode cemas. Takut rugi. Takut turun. Takut kalah. Hartanya dijaga mati-matian, tapi tetap saja tidak merasa cukup.
Karena cukup itu bukan soal angka. Cukup itu soal hati.
Dan zakat membantu hati belajar merasa cukup.
Jangan sampai rezeki yang seharusnya jadi jalan ke surga malah berubah jadi bahan bakar kesombongan. Jangan sampai harta yang harusnya mengangkat derajat malah menyeret pelan-pelan.
Zakat itu bukan beban tahunan. Ia adalah filter rutin supaya rezeki tetap bersih dan tidak berubah jadi musibah yang terselubung.
Jadi kalau hari ini rezeki terasa lancar, usaha terasa berkembang, saldo terasa aman — jangan cuma bersyukur dengan lisan.
Bersyukur itu salah satunya dengan mengeluarkan zakatnya tepat waktu.
Supaya rezeki tetap jadi nikmat. Bukan berubah jadi drama.
Karena pada akhirnya, bukan banyaknya harta yang menyelamatkan kita. Tapi bersihnya. Dan bersih itu ada filternya. Namanya ZAKAT. Wallahu A’lam. (ATM- Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar).