160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Ramadhan Bersama BAZNAS (26) Malam 27, Masjid Mendadak Full Booking

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

Kalau kita perhatikan fenomena setiap Ramadhan, ada satu malam yang sangat menarik. Masjid yang biasanya safnya longgar tiba-tiba berubah drastis. Karpet penuh. Saf sampai ke teras. Bahkan kadang sampai ke halaman.

Malam apa itu?
Malam ke 27 Ramadhan.
Malam itu masjid seperti mendadak full booking.
Yang biasanya saf belakang, malam itu sudah di saf depan.
Yang biasanya shalat di rumah, malam itu muncul di masjid.
Yang biasanya pulang setelah witir, malam itu bertahan sampai sahur.

Imam sampai heran.
“MasyaAllah… jamaah kita ternyata banyak sekali. Selama ini mereka ke mana?”
Ada yang datang bawa sajadah tebal.
Ada yang bawa Al-Qur’an.
Ada yang bawa tas besar.
Ada juga yang bawa bantal.
Sepertinya niat i’tiqafnya sangat serius.
Bahkan kadang imam melihat… ada jamaah yang posisi tidurnya lebih khusyuk daripada posisi shalatnya.
Tapi tidak apa-apa. Yang penting datang dulu ke masjid.
Karena jujur saja… lebih baik tidur di masjid daripada begadang di tempat maksiat.

Kenapa malam 27 begitu ramai?
Karena di tengah masyarakat kita berkembang keyakinan bahwa malam 27 adalah malam Lailatul Qadr.

Padahal dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.”
Seribu bulan itu kira-kira 83 tahun lebih.
Artinya satu malam ibadah nilainya seperti ibadah seumur hidup manusia.

Masalahnya… Allah tidak pernah menyebut tanggal pastinya.
Nabi Muhammad SAW justru menyuruh kita mencarinya di sepuluh malam terakhir, terutama malam ganjil.

Kenapa Allah merahasiakan?
Karena kalau Allah mengatakan pasti malam 27, kemungkinan besar manusia hanya akan rajin satu malam saja.
Hari pertama sampai hari ke-26 santai dulu.
Nanti malam 27 baru serius.
Ini seperti mahasiswa yang tahu tanggal ujian pasti.
Belajarnya biasanya… H-1.

Allah tahu karakter manusia seperti itu.
Maka Lailatul Qadr dirahasiakan supaya orang yang sungguh-sungguh akan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.

Tapi manusia tetap manusia.
Akhirnya muncul fenomena unik setiap Ramadhan.
Masjid di malam 1 – 20 biasa saja.
Malam genap disepuluh terakhir masih normal.
Begitu malam 27…
Masjid berubah seperti stadion mini.
Parkiran penuh.
Sendal berserakan.
Bahkan kadang kita harus memarkir sendal tiga saf dari pintu masjid.

Berita Terkait

Ada yang datang i’tiqaf dengan niat sangat baik.
Mereka membaca Al-Qur’an.
Berzikir.
Berdoa.
Menangis memohon ampun kepada Allah.
MasyaAllah… ini pemandangan yang sangat indah.

Tapi ada juga cerita lucu.
Ada yang i’tiqaf tapi lebih sibuk ngecek HP.
Statusnya di media sosial:
“Sedang i’tiqaf.”
Lima menit kemudian update lagi:
“Masih i’tiqaf.”
Sepuluh menit kemudian:
“Ngopi dulu saat i’tiqaf.”
Akhirnya i’tiqafnya live report.
Padahal i’tiqaf itu seharusnya offline dari dunia, online dengan Allah.

Walaupun ada sisi lucunya, fenomena malam 27 sebenarnya tetap membawa kabar baik.
Minimal malam itu banyak orang:
duduk di masjid
membaca Al-Qur’an, berzikir dan berdoa.
Daripada malam itu dihabiskan di mall atau di depan televisi,
masjid yang penuh tetap lebih indah daripada masjid yang kosong.

Namun ada satu renungan penting.
Kadang kita ini seperti pemburu promo besar.
Kalau ada diskon 70%, kita rela antre.
Kalau ada flash sale, kita rela begadang.
Kalau ada promo terbatas, kita cepat-cepat datang.

Tapi ketika Allah memberi malam yang lebih baik dari 1000 bulan, kita masih memilih-milih malam.
Kita sering berkata:
“Yang penting malam 27 saja.”

Padahal bisa jadi…
Lailatul Qadr justru turun di malam 23.
Atau malam 25.
Atau malam 29.
Dan ketika itu terjadi…
Yang rajin hanya malam 27 akan berkata di akhir Ramadhan:
“Jangan-jangan saya datang di malam yang salah.”

Ramadhan ini seperti tamu agung yang hanya datang sekali setahun.
Sebentar lagi ia akan pulang.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah kita datang i’tiqaf malam 27?”
Tapi yang lebih penting adalah:
Apakah Ramadhan ini benar-benar mengubah hati kita?
Karena tujuan puasa bukan hanya lapar dan haus.
Tujuannya adalah menjadi orang yang lebih bertakwa.

Maka kalau malam 27 membuat masjid penuh, itu bagus.
Tapi akan jauh lebih indah jika setelah Ramadhan…
Masjid tetap hidup.
Shalat berjamaah tetap ramai.
Al-Qur’an tetap dibaca.
Karena sesungguhnya…
Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama di bulan Syawal.

Semoga kita semua diberi kesempatan bertemu Lailatul Qadr, bukan hanya sebagai pemburu satu malam, tetapi sebagai hamba yang benar-benar mencari ridha Allah.
Aamiin. Wallahu A’lam. (ATM- Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Kota Makassar).

Facebook Comments Box

Baca Juga