Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Hari ini Ramadhan sudah di hari ke-28. Kalau ini pertandingan, kita sudah masuk menit 88. Dan anehnya…
justru di menit-menit segini, banyak yang mulai jalan kaki.
Padahal seharusnya? Sprint! Ini yang kadang jadi ironi kita. Di awal Ramadhan, masjid penuh. Shaf rapat. Suara imam kalah sama suara “Aamiin” jamaah.
Masuk pertengahan… mulai berkurang. Masuk 10 terakhir…harusnya makin padat. Eh, malah makin renggang.
Yang tersisa? Yang benar-benar paham… ini bukan lomba biasa.
Kita ini sering salah paham tentang Ramadhan. Dikira targetnya “bertahan 30 hari”. Padahal bukan.
Ramadhan itu bukan soal kuat-kuatan, tapi soal bagaimana kita mengakhiri. Karena dalam banyak hal di hidup ini, yang dinilai bukan pembukaannya, tapi penutupnya.
Coba lihat pertandingan bola. Tim yang unggul di babak pertama belum tentu menang. Banyak yang sudah leading 2-0…eh, dibalik di menit akhir.
Kenapa? Karena lengah. Dan jangan salah…Iblis itu pemain senior. Dia tahu betul timing. Di awal Ramadhan, dia mungkin “diam”. Biarkan kita semangat. Biarkan kita rajin. Biarkan kita merasa hebat.
Lalu dia masuk di saat kita mulai capek. Dia bisik pelan: “Sudah cukup lah…” “Kamu kan sudah 27 hari ibadah…”.“Masak Allah tidak lihat itu?” Nah… ini bahaya. Karena kalimat “sudah cukup” itulah yang sering menggagalkan finish kita.
Padahal kalau kita jujur, siapa yang bisa menjamin 27 hari kita itu sempurna? Shalat kita khusyuk semua? Puasa kita bersih dari ghibah? Sedekah kita ikhlas tanpa riya?
Kalau belum, harusnya kita justru panik. Bukan santai. Ini seperti siswa yang tahu jawabannya belum yakin… tapi waktu ujian tinggal 2 menit lagi. Dia akan tambah fokus…
bukan malah menutup kertas dan bilang, “Ya sudah lah.”
Ramadhan ini juga begitu. Hari ke-28 itu bukan garis finish. Itu tikungan terakhir. Dan justru di tikungan itulah banyak yang jatuh.
Kenapa?
Karena mulai sibuk dengan hal lain. Mulai mikir baju lebaran. Mulai sibuk kue. Mulai fokus THR. Mulai keliling mall… tapi lupa keliling masjid.
Tidak salah…
tapi kalau itu membuat kita kehilangan momentum, itu yang jadi masalah.
Bayangkan ini, Kalau Ramadhan itu tamu agung,.maka hari-hari terakhir ini adalah saat dia mau pulang. Harusnya kita bagaimana? Menahan dia, melayani lebih baik, memberi kesan terbaik. Bukan malah sibuk di dapur,
sementara tamu kita tinggal.
Aneh kan? Tapi itulah yang sering terjadi. Kita ini kadang lebih serius menyambut lebaran daripada mengakhiri Ramadhan. Padahal belum tentu kita bertemu lagi tahun depan.
Coba kita jujur, berapa banyak Ramadhan yang sudah kita lewati? Dan berapa yang benar-benar terasa mengubah hidup kita? Banyak… tapi sedikit yang membekas.
Kenapa? Karena kita tidak pernah benar-benar “finish strong”. Kita bagus di awal, lumayan di tengah, tapi hilang di akhir.
Padahal justru malam-malam terakhir inilah yang paling mahal. Ada satu malam…
yang nilainya lebih dari 1000 bulan. Bukan 1000 hari…1000 bulan. Sekitar 83 tahun. Artinya satu malam bisa mengalahkan seumur hidup kita.
Dan masalahnya, kita tidak tahu itu malam ke berapa. Bisa jadi tadi malam. Bisa jadi malam ini. Bisa jadi besok.
Dan bayangkan kalau kita justru memilih untuk “istirahat” di malam itu. Rugi bukan? Makanya orang-orang yang paham, justru di akhir ini mereka “all out”.
Ibadahnya ditambah. Tidurnya dikurangi. Doanya dipanjangkan. Air matanya diperbanyak. Karena mereka tahu…ini penentuan.
Ini bukan lagi pemanasan. Ini bukan lagi uji coba. Ini final. Dan di final, tidak ada pemain hebat yang santai. Semua mati-matian.
Maka hari ini kita perlu tanya diri kita: Kita ini lagi bertanding… atau sudah merasa menang? Kalau masih bertanding, kenapa sudah santai? Kalau merasa sudah menang, siapa yang kasih jaminan?
Jangan-jangan kita ini seperti pelari yang berhenti sebelum garis finish, lalu orang lain menyalip di detik terakhir. Dan kita cuma bisa bilang: “Tadi saya sudah hampir sampai…” Hampir…tapi tidak selesai.
Maka pesan sederhananya : Jangan selebrasi sebelum peluit panjang. Jangan kendor sebelum benar-benar selesai. Dan jangan merasa aman sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita.
Karena bisa jadi yang menentukan bukan 27 hari yang sudah lewat, tapi 1 malam yang tersisa. Dan semoga kita bukan orang yang bagus di awal, lemah di akhir… Tapi menjadi hamba yang.menutup Ramadhan dengan kekuatan, dan pulang membawa kemenangan yang utuh.
Wallahu A’lam. (ATM-Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Makassar).