160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Ramadhan Bersama BAZNAS (29). Hadiah Terbesar Ramadhan Bukan Baju Lebaran

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

By ATM

Menjelang akhir Ramadhan, suasana mulai berubah.
Masjid yang tadi malam penuh dengan doa, perlahan mulai kalah ramai dengan pusat perbelanjaan. Jalanan macet bukan karena orang ke tarawih, tapi karena orang berburu sesuatu yang dianggap sangat penting: baju lebaran.

Tidak ada yang salah dengan baju baru. Itu sunnah, itu indah. Bahkan dianjurkan tampil rapi dan bersih di hari raya. Tapi yang sering jadi masalah adalah ketika baju lebaran naik pangkat jadi tujuan utama, sementara Ramadhan turun pangkat jadi sekadar rutinitas tahunan.

Kita ini kadang sangat serius dengan yang terlihat di mata manusia, tapi santai dengan yang dinilai oleh Allah.
Kita bisa keliling tiga mall hanya untuk memastikan warna baju cocok.
Kita bisa debat panjang soal model, merk, bahkan tone warna.
Kita bisa khawatir: “Nanti pas foto keluarga, aku kurang matching.”

Tapi coba tanya:
Apakah kita pernah sekhawatir itu dengan dosa-dosa kita?
Apakah kita pernah gelisah:
“Bagaimana kalau Ramadhan ini aku tidak diampuni?”
Nah, di sinilah letak masalahnya.
Kita sibuk memperindah tampilan luar, tapi lupa memperbaiki isi hati.

Berita Terkait

Padahal, hadiah terbesar Ramadhan bukanlah baju baru.
Hadiah terbesar Ramadhan adalah dosa yang dihapuskan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh harap, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Artinya, Ramadhan itu seperti tempat laundry raksasa untuk jiwa kita.

Setahun kita kumpulkan noda:
noda omongan,
noda pikiran,
noda perbuatan,
bahkan noda yang kita sendiri sudah lupa.
Lalu Allah buka layanan spesial:
“Silakan masuk Ramadhan, Aku bersihkan semuanya.”

Masalahnya, kita ini kadang datang ke “laundry” itu… tapi tidak benar-benar menyerahkan pakaian kita.
Kita puasa, iya.
Tapi hati masih penuh iri.
Kita tarawih, iya.
Tapi lisan masih suka menyakiti.
Kita sedekah, iya.
Tapi riya masih ikut selfie.
Akhirnya Ramadhan lewat, tapi noda masih nempel.

Yang berubah cuma baju… bukan hati.
Bayangkan ada dua orang di hari Idul Fitri.
Yang satu bajunya sederhana, bahkan mungkin bukan yang paling baru. Tapi hatinya bersih, dosanya diampuni, hubungannya dengan Allah membaik.
Yang satu lagi bajunya mewah, serasi dari kepala sampai kaki. Tapi hatinya masih penuh beban dosa, masih jauh dari Allah.

Menurut kita, siapa yang benar-benar “menang” di hari itu?
Sering kali kita tertukar.
Kita mengira kemenangan itu soal penampilan.
Padahal kemenangan itu soal ampunan.
Idul Fitri itu artinya kembali ke fitrah. Kembali bersih. Kembali seperti bayi yang belum ternoda dosa.
Bukan kembali dengan outfit terbaru.

Lucunya lagi, kita ini bisa sangat takut baju kita jelek di mata manusia.
Tapi tidak takut kalau hati kita kotor di hadapan Allah.
Kita bisa bilang:
“Wah, malu kalau bajuku itu-itu saja.”
Tapi tidak pernah bilang:
“Wah, malu kalau dosaku masih itu-itu saja.”

Ini yang harus kita renungkan.
Karena sebenarnya, Allah tidak melihat apa yang kita pakai.
Allah melihat apa yang ada di dalam hati kita.
Malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan hadiah terbesar itu: ampunan.

Kalau diibaratkan, ini seperti pembagian hadiah.
Masalahnya, banyak yang sibuk di luar ruangan, sementara hadiah dibagikan di dalam.

Orang-orang yang i’tikaf, yang menangis di malam hari, yang berdoa dengan sungguh-sungguh—mereka sedang “mengantri hadiah”.
Sementara yang sibuk di mall… antri juga.
Tapi yang diambil beda.

Tidak salah membeli baju. Tapi jangan sampai kita lebih semangat memilih warna baju daripada memohon ampun kepada Allah.
Karena baju itu hanya dipakai beberapa kali.
Tapi ampunan Allah… kita butuhkan sampai akhir hayat, bahkan sampai hari kiamat.

Coba bayangkan satu hal sederhana.
Kalau malam ini adalah kesempatan terakhir kita hidup di dunia,
apa yang akan kita pilih?
Menambah satu stel baju…
atau menambah satu malam sujud memohon ampun?
Jawabannya sebenarnya kita tahu.
Tapi sering kali kita tunda.
“Kapan-kapan saja serius ibadahnya.”
Padahal Ramadhan tidak pernah menunggu.
Dia datang sebentar… lalu pergi.
Dan belum tentu kita bertemu lagi dengannya.

Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, mari kita luruskan kembali niat.
Silakan beli baju lebaran.
Silakan tampil rapi dan indah.
Tapi jangan lupa:
yang paling penting bukan apa yang kita pakai di hari raya, tapi bagaimana kondisi hati kita ketika bertemu Allah.

Semoga ketika takbir berkumandang, kita bukan hanya merasa senang karena baju baru.
Tapi juga merasa lega…
karena dosa-dosa kita sudah dihapuskan.
Karena itulah hadiah terbesar Ramadhan.
Bukan yang terlihat di cermin…
tapi yang tercatat di langit.
Wallahu A’lam. (ATM-Ashar Tamanggong/Ketua BAZNAS Makassar)

Facebook Comments Box

Baca Juga