Saparua Timur, Pedomanku,id:
Menyambut Hari Kemerdekaan-RI ke-80, 17 Agustus 2025, suasana kemeriahan dan gema patriotisme terasa di seluruh penjuru tanah air. Salah satunya di Negeri Siri Sori Islam, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.
Rabu, 13 Agustus hari ini misalnya, negeri yang kini dipimpin Penjabat Kepala Desa M.Rahayu Toisutta itu melakukan sejumlah mata lomba. Lomba yang dipusatkan di pelataran Masjid Baiturrahman, Kantor Desa, dan Rumah Adat (Baileuw) Tomagola Pailemahu itu dibuka Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Saparua Timur Andrev F Jasso. Turut hadir perwakilan KACABJARI Ambon Cabang Saparua, dan pejabat lingkup Kecamatan Saparua Timur dan Saparua.
Di sela sela pembukaan, Sekcam Saparua Timur, Andrev F Jasso, mengaku bangga atas pelibatan masyarakat dalam lomba memeriahkan HUT Kemerdekaan. Meski demikian, ia berharap seluruh peserta yang berpartisipasi selalu mengedepankan sportivitas.
Semangat sportivitas adalah cerminan dari karakter bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan. Sportivitas mencakup berbagai aspek, mulai dari mematuhi peraturan, menghormati keputusan juri, hingga memberikan penghargaan kepada lawan, baik dalam kemenangan maupun kekalahan.
Pesan yang disampaikan Sekcam Saparua Timur ini, demi memastikan setiap lomba tidak hanya menjadi arena perebutan kemenangan, tetapi juga wadah tumbuhnya nilai-nilai luhur persahabatan. Pasalnya, esensi dari perayaan kemerdekaan HUT melalui lomba sekadar mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan semangat kebersamaan, melainkan juga memupuk rasa persatuan antarawarga.

Pernyataan senada dikemukakan Penjabat Kepala Desa Siri Sori Islam, M.Rahayu Toisutta. Dia menambahkan, apa yang diharapkan Sekcam Saparua Timur perlu mendapat perhatian semua peserta. Sebab, lomba ini, bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana peserta berpartisipasi dengan penuh hormat dan integritas.
“Dan, yang perlu diketahui bahwa, kemenangan sejati bukanlah hanya tentang siapa yang mencapai garis finis pertama atau meraih poin tertinggi, melainkan bagaimana sesama peserta dapat berinteraksi sepanjang pertandingan, menghargai lawan, dan menjunjung tinggi aturan main,” ujarnya.
M.Rahayu Toisutta juga mengajak masyarakat, utamanya peserta lomba, agar menjadikan momentum kemerdekaan ke-80 sebagai ajang untuk menunjukkan jiwa besar sebagai warga negeri yang baik. “Bersainglah secara sehat, tunjukan kemampuan terbaik, namun jangan pernah melupakan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan,” harapnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Siri Sori Islam, Rahmat Kaplale mengakui, mata lomba yang berlangsung hingga 17 Agustus itu masing masing Tartil Al-Qur’an, Hipzil Al-Qur’an, puisi seputar hari Kemerdekaan menggunakan bahasa Siri Sori Islam, senam sehat, serta gawang mini dandut.
Rahmat Kaplale menambahkan, pada pembukaan tadi pagi, dimeriahkan dengan sejumlah penampilan yang sarat makna dan keindahan. Ada Tari Sawat, dan Cakalele.
Tarian Sawat misalnya, adalah salah satu warisan budaya tak benda yang kaya akan nilai-nilai luhur, khususnya yang diwariskan pada tradisi Islam. Tarian yang dilakoni gadis gadis cantik negeri asal Said Perintah—tokoh sentral dalam perang Pattimura itu juga seringkali ditemukan di komunitas muslim lainnya di berbagai daerah.

Gadis gadis yang masih menduduki bangku sekolah menengah MTS-N 4 Maluku Tengah itu menampilkan tarian ini dengan benar benar mencerminkan akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam yang telah lama mengakar di Siri Sori Islam. Tarian ini tidak saja tersirat nilai-nilai kerohanian, kebersamaan, dan ketangguhan yang terkandung di dalamnya, melainkan sekaligus menjadi medium yang tepat untuk menumbuhkan rasa cinta negeri, persatuan, dan kebanggaan akan warisan leluhur masa lalu.
Keberadaan Tari Sawat, sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan, menegaskan kembali bahwa, nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dapat bersinergi dengan harmonis, menciptakan keunikan. Ketua panitia lomba adalah Alfa Toekan. (din pattisahusiwa).