160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Kebangkitan Intelektual : Momentum baru ISNU Makassar

 

Oleh: Zaenuddin Endy

Pada Selasa, 14 Oktober 2025, Warkop Red Corner Makassar menjadi saksi hidup atas bangkitnya semangat baru di tubuh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Makassar. Di tempat yang sederhana namun sarat makna itu, berlangsung rapat persiapan pelantikan Pengurus Cabang ISNU Kota Makassar. Pertemuan tersebut bukan sekadar ajang teknis administratif, melainkan momentum kebangkitan intelektual dan gerakan akademik kaum sarjana Nahdliyin di kota yang menjadi jantung Sulawesi Selatan.

Kehadiran Ketua PC. ISNU Makassar, Prof. Dr. H. A. Marjuni, M.Pd., memberi energi baru bagi para kader dan intelektual muda yang hadir. Dengan pengalaman akademik dan kiprah panjangnya dalam dunia pendidikan tinggi, Prof. Marjuni menekankan pentingnya ISNU menjadi garda depan dalam membangun gerakan keilmuan yang berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia menegaskan bahwa kebangkitan ISNU bukan sekadar reaktivasi organisasi, tetapi juga revitalisasi peran intelektual NU dalam menjawab tantangan zaman.

Turut hadir pula Sekretaris PW. ISNU Sulawesi Selatan, Dr. Mulyadi, M.Pd., yang memberi arah strategis dan penegasan tentang pentingnya sinergi antara PW dan PC dalam menjalankan mandat organisasi. Ia menyampaikan bahwa ISNU harus tampil sebagai laboratorium pemikiran, tempat berseminya gagasan-gagasan besar yang mengakar pada tradisi, namun berpijak pada realitas sosial kontemporer. Dalam pandangannya, gerakan intelektual ISNU adalah jawaban atas kebutuhan zaman yang menuntut keseimbangan antara ilmu, iman, dan aksi sosial.

Rapat persiapan pelantikan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat. Diskusi mengalir dengan ide-ide konstruktif, mulai dari teknis pelaksanaan kegiatan hingga arah strategis pengembangan program pascapelantikan. Warkop Red Corner, yang biasanya menjadi tempat santai anak muda Makassar, sore itu berubah menjadi ruang dialektika intelektual yang hidup. Asap kopi yang mengepul seolah menjadi simbol kesadaran baru kaum sarjana NU yang siap berkiprah untuk umat dan bangsa.

Kebangkitan ISNU Makassar tidak hadir dalam ruang kosong. Ia merupakan kelanjutan dari kesadaran panjang akan pentingnya peran sarjana NU dalam membangun peradaban berbasis ilmu. Di tengah tantangan modernitas, ISNU hadir untuk mengembalikan nilai-nilai ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar alat untuk karier dan status sosial. Dalam semangat itu, pertemuan di Red Corner menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan intelektual Nahdliyin di Makassar.

Prof. Marjuni dalam arahannya menekankan perlunya gerakan intelektual yang tidak tercerabut dari akar tradisi pesantren. Ia mengingatkan bahwa keilmuan tanpa spiritualitas hanya melahirkan intelektual kering; sementara spiritualitas tanpa keilmuan berpotensi jatuh dalam dogmatisme. ISNU, menurutnya, harus menjadi ruang integratif yang memadukan keduanya: berpikir rasional dengan dasar moral yang kokoh.

Dr. Mulyadi menambahkan bahwa ISNU perlu menjadi ruang kolaborasi antar-disiplin ilmu. Ia mencontohkan pentingnya keterlibatan sarjana NU dalam isu-isu publik seperti ekologi, digitalisasi pendidikan, ekonomi keumatan, hingga rekonstruksi pemikiran Islam di ruang akademik. Bagi beliau, kebangkitan ISNU Makassar adalah bagian dari upaya memperkuat ekosistem intelektual Nahdlatul Ulama yang responsif terhadap perubahan zaman.

Rapat itu juga dihadiri oleh beberapa dosen muda, peneliti, dan praktisi pendidikan yang antusias untuk berkontribusi. Mereka memandang ISNU sebagai wadah strategis untuk menyalurkan gagasan dan aksi nyata di tengah masyarakat. Dari perbincangan santai, muncul ide-ide besar seperti pendirian pusat kajian, publikasi jurnal ilmiah, hingga pelatihan riset sosial berbasis kearifan lokal. Semua itu menandai bahwa ISNU Makassar tidak sekadar menghidupkan struktur, tetapi membangun kultur baru dalam berpikir dan bertindak.

Kebangkitan ISNU Makassar juga menjadi simbol bahwa gerakan intelektual tidak harus selalu berpusat di kampus atau ruang seminar formal. Ia bisa tumbuh dari tempat sederhana seperti warkop, tempat orang-orang berbagi pikiran secara egaliter. Di sanalah, nilai-nilai egalitarian Nahdlatul Ulama menemukan ruang hidupnya: berpikir tanpa jarak, berdiskusi tanpa sekat, dan berjuang tanpa pamrih.

Pertemuan di Red Corner juga mengingatkan kembali pada akar sejarah pergerakan NU yang lahir dari ruang-ruang dialog. Seperti halnya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang membangun peradaban dari pesantren Tebuireng, kini para sarjana NU di Makassar bertekad membangun kembali tradisi ilmu dengan wajah baru, wajah yang dialogis, kontekstual, dan solutif terhadap problem sosial.

Momentum ini menjadi penting karena Makassar adalah salah satu pusat intelektual dan kebudayaan di kawasan Timur Indonesia. Dengan kebangkitan ISNU, diharapkan lahir gagasan-gagasan segar yang mampu menjembatani antara ilmu modern dan nilai-nilai Islam tradisional. ISNU diharapkan menjadi pelopor dalam merumuskan arah baru pendidikan Islam yang progresif tanpa kehilangan ruh Aswaja.

Para peserta rapat sepakat bahwa pelantikan nanti bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang membangun gerakan keilmuan yang sistematis. ISNU Makassar akan diarahkan menjadi mitra strategis pemerintah daerah, kampus, pesantren, dan organisasi keagamaan lainnya. Tujuannya jelas: memperluas dampak sosial dan mengarusutamakan pemikiran keislaman yang moderat, toleran, dan berkemajuan.

Semangat yang terpancar sore itu menggambarkan wajah baru NU: generasi terdidik, berpikir kritis, namun tetap tawadhu terhadap tradisi. Mereka sadar bahwa tantangan terbesar bukan hanya kebodohan, tetapi juga fragmentasi pengetahuan dan pudarnya nilai kebersamaan. ISNU hadir sebagai perekat antara intelektualitas dan keumatan, antara tradisi dan modernitas.

Kebangkitan ISNU Makassar juga diharapkan menjadi inspirasi bagi cabang-cabang ISNU lainnya di Sulawesi Selatan. Dengan dukungan PW. ISNU yang visioner, gerakan ini akan menjadi gelombang baru kebangkitan intelektual Nahdliyin di seluruh wilayah. Di tangan para sarjana muda yang berpikir jernih dan berjiwa sosial tinggi, ISNU akan menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan.

Rapat sore itu berakhir dengan penuh optimisme. Doa dan komitmen bersama mengiringi langkah awal menuju pelantikan dan konsolidasi besar ISNU Makassar. Dalam senyum dan jabat tangan para peserta, tersirat tekad untuk menjadikan ISNU bukan hanya organisasi profesi, melainkan rumah besar bagi para sarjana NU untuk berjuang di jalan ilmu dan pengabdian.

Dari Warkop Red Corner Makassar, gema kebangkitan itu dimulai. Sebuah kebangkitan yang tidak hanya menyalakan semangat keilmuan, tetapi juga menghidupkan kembali cita-cita luhur Nahdlatul Ulama: membangun peradaban yang berkeadaban. Dan dari sinilah, ISNU Makassar melangkah pasti menuju masa depan yang penuh cahaya.

Facebook Comments Box

Baca Juga