Oleh: Zaenuddin Endy
Gerakan intelektual berbasis Ahlussunnah wal Jamaah memiliki potensi besar sebagai fondasi moral dan epistemologis bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam konteks NU yang selama ini menjadi penjaga utama tradisi keilmuan Islam Nusantara. Penguatan gerakan ini menjadi penting karena tantangan zaman tidak hanya bersifat ideologis, tetapi juga epistemologis dan sosial. Dunia digital, polarisasi politik, serta masuknya wacana keagamaan transnasional yang rigid menuntut hadirnya gerakan intelektual yang matang, moderat, dan mampu menjawab persoalan nyata umat. Aswaja dengan karakter tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal memiliki posisi strategis untuk menjadi kerangka kerja pemikiran yang produktif dalam menghadapi perubahan tersebut.
Gerakan intelektual berbasis Aswaja harus dimulai dengan mempertegas posisi akal dan tradisi dalam kerangka epistemologi Islam. Aswaja sejak awal mengakui peran akal sebagai alat untuk memahami wahyu dan membaca realitas sosial. Karena itu, penguatan gerakan intelektual ini harus mendorong proses-proses nalar yang terbuka, kritis, dan reflektif, tanpa meninggalkan adab ilmiah yang menjadi ciri pesantren. Kembali pada tradisi bukan berarti kembali pada masa lalu, tetapi menjadikan warisan klasik sebagai pijakan untuk bergerak maju.
Penguatan gerakan intelektual berbasis Aswaja juga menuntut penyadaran bahwa khazanah kitab kuning bukan sekadar teks yang dihafal, melainkan reservoir pengetahuan yang harus dibaca secara kontekstual. Ulama klasik telah memberikan kerangka metodologis yang luas melalui fikih, kalam, dan tasawuf. Para intelektual NU perlu menghidupkan kembali semangat metodologis ini, bukan hanya memproduksi fatwa, tetapi juga menghadirkan bacaan baru terhadap realitas kontemporer: kemiskinan, ekologi, pendidikan, dan relasi sosial yang semakin rapuh.
Di tengah arus globalisasi pemikiran, gerakan intelektual Aswaja harus tampil sebagai alternatif epistemologis yang tidak anti terhadap modernitas, tetapi tetap kritis terhadap dampaknya. Dalam hal ini, sikap NU yang sejak lama menggabungkan tradisi lokal dengan pemikiran Islam klasik dapat menjadi modal besar. Tradisi-tradisi pesantren seperti halaqah, bahsul masail, dan kajian naskah dapat diaktualisasikan kembali dengan pendekatan yang lebih sistematis, berbasis riset, dan terhubung dengan dunia akademik modern.
Pada saat yang sama, penguatan gerakan intelektual Aswaja memerlukan revitalisasi pesantren sebagai pusat produksi pengetahuan. Pesantren tidak boleh hanya menjadi pusat transmisi ilmu, tetapi juga pusat inovasi pemikiran yang membuka ruang bagi dialog antardisiplin. Kehadiran perguruan tinggi NU harus diposisikan sebagai perpanjangan tangan pesantren untuk mengintegrasikan ilmu agama, ilmu sosial, teknologi, dan humaniora dalam satu kerangka Aswaja yang menyeluruh.
Peran lembaga-lembaga dan Banom NU seperti Lakpesdam, RMI, ISNU dan LPTNU sangat penting dalam membangun ekosistem intelektual yang berkelanjutan. Mereka perlu memperkuat tradisi penelitian berbasis data dan analisis empiris agar produk intelektual NU tidak berhenti pada retorika normatif. Gerakan intelektual yang kuat lahir dari disiplin riset, keberanian menyodorkan gagasan baru, dan ketajaman membaca perubahan sosial.
Dalam ranah publik, intelektual Aswaja harus mampu menjadi penjaga nalar sehat agar masyarakat tidak terjebak pada fanatisme dan misinformasi. Kehadiran mereka di ruang digital bukan sekadar untuk berdakwah, tetapi juga membangun literasi keagamaan yang kritis. Gerakan ini harus menghadirkan narasi keislaman yang menenangkan, mendidik, dan membebaskan, bukan narasi yang memperuncing perbedaan atau memproduksi ketakutan.
Di tingkat praksis, penguatan gerakan intelektual berbasis Aswaja harus menegaskan kembali komitmen terhadap keadilan sosial. Para intelektual NU tidak boleh berhenti pada perdebatan wacana, tetapi turun tangan dalam isu-isu seperti redistribusi kesejahteraan, inklusi pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan perlindungan kelompok rentan. Nilai Aswaja mengajarkan bahwa keberagamaan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab sosial.
Hubungan antara intelektual dan ulama dalam gerakan Aswaja perlu dibangun secara seimbang. Ulama menjaga otoritas moral dan spiritual, sementara intelektual mengembangkan analisis kritis dan metodologi ilmiah. Jika keduanya bersinergi, Aswaja akan tampil bukan hanya sebagai doktrin teologis, tetapi sebagai pandangan dunia yang menawarkan solusi bagi kehidupan sosial-politik modern.
Selain itu, penguatan gerakan intelektual berbasis Aswaja harus memperhatikan kebutuhan generasi muda. Mereka hidup di tengah percepatan informasi, sehingga cara menyampaikan nilai Aswaja harus adaptif dan kreatif. Buku-buku digital, podcast, video pendek, hingga forum diskusi hibrida dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan intelektualisme Aswaja tanpa kehilangan substansi.
Gerakan intelektual Aswaja masa depan juga harus memperluas cakrawala keilmuan dengan memperkuat jejaring internasional. Pemikiran Islam moderat ala Nusantara dapat menjadi kontribusi besar bagi dunia Islam yang tengah mengalami fragmentasi. Intelektual NU perlu hadir di konferensi global, jurnal internasional, dan pusat-pusat kajian Islam dunia untuk memperkenalkan Aswaja sebagai paradigma yang damai dan inklusif.
Di sektor pendidikan, penguatan intelektual berbasis Aswaja perlu diwujudkan melalui kurikulum yang holistik. Santri dan mahasiswa harus diperkenalkan pada ilmu-ilmu modern tanpa kehilangan kedalaman spiritual. Pendekatan ini akan melahirkan generasi intelektual NU yang merdeka dalam berpikir dan teguh dalam nilai.
Penguatan gerakan intelektual Aswaja juga mencakup upaya membangun kemandirian ekonomi kelembagaan. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, gerakan intelektual akan mudah melemah dan kehilangan daya tahan. Pesantren dan lembaga NU harus mengembangkan usaha produktif yang bisa menopang kemandirian gerakan keilmuan.
Di bidang kebudayaan, gerakan ini perlu menghidupkan kembali tradisi lokal sebagai sumber inspirasi intelektual. Seni, sastra, ritual, dan praktik kebudayaan Nusantara adalah ruang penting untuk merumuskan teologi yang membumi dan estetis. Melalui pendekatan budaya, Aswaja dapat masuk ke hati masyarakat dengan cara yang lembut namun mendalam.
Penguatan gerakan intelektual Aswaja juga menuntut kehadiran etos keikhlasan dan integritas. Intelektual Aswaja harus menjaga kemurnian niat dan menjauhkan diri dari instrumentalitas politik. Jika mereka menjaga integritas, gerakan intelektual ini akan dihormati, dipercaya, dan diikuti.
Pada dasarnya, gerakan intelektual berbasis Aswaja hanya akan kuat jika dibangun atas kesadaran kolektif bahwa ilmu adalah cahaya dan peradaban adalah tanggung jawab bersama. Dengan sinergi antara tradisi dan inovasi, antara teks dan konteks, gerakan intelektual ini dapat menjadi pilar utama yang mengawal umat menuju masa depan yang beradab, inklusif, dan penuh rahmat. (Penulis Wakil Ketua ISNU Kota Makassar)