160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Lima Tahun Terakhir, Dinkes Maros Temukan 165 Kasus HIV/AIDS

Maros, Pedomanku,id:

Kasus HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan peningkatan, terutama pada usia produktif (25-49 tahun) dan remaja, dengan angka yang signifikan di berbagai daerah. Kasus ini mengemuka seringkali disebabkan kurangnya kesadaran dan perilaku seksual berisiko, meskipun data pastinya sulit karena kasus tidak tercatat semua, dengan tren kasus baru terus muncul dan membutuhkan penanganan serta sosialisasi intensif. Di Maros salah satunya.

Di kabupaten beribukota Turikale itu, ditemukan sebanyak 165 kasus Kasus HIV/AIDS. Data Dinas Kesehatan Maros, terungkap pada peringatan hari AIDS di Ruang Pola, Kantor Bupati Maros, Senin, 1 Desember 2025.

Pada peringatan hari AIDS yang juga dihadiri Bupati Maros, Chaidir Syam di Ruang Pola, Kantor Bupati Maros, Senin, 1 Desember 2025 mengemuka, ada 165 Orang dengan HIV (Odha) on Obat antiretroviral (ARV) yang ditangani sepanjang 2021 hingga November 2025. Rinciannya, 2021 yakni 23 kasus, 2022 sebanyak 32 kasus, 2023 yakni 39 kasus, kemudian 2024 sebanyak 48 kasus dan November 2025 sebanyak 20 kasus. Faktor penyumbang peningkatan kasus HIV/AIDS adalah Lelaki Seks Lelaki (LSL).

Chaidir menghadiri kegiatan ini bersama  Kepala Dinas Sosial Sulsel, Abdul Malik Faisal dan sejumlah mahasiswa dan siswa sekolah di Kabupaten Maros, setelah melaksanakan upacara peringatan hari Korpri ke-54 tahun.

Menurutnya, peringatan Hari AIDS Sedunia ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kepedulian semua pihak dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS di tingkat desa, kelurahan, hingga kecamatan.

“Kita ketahui bersama bahwa, hari ini, alhamdulillah, dalam peringatan Hari AIDS Sedunia, kita mengukuhkan forum masyarakat peduli HIV/AIDS di tingkat desa, kelurahan, dan kecamatan. Ini menjadi langkah preventif untuk memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Maros,” jelasnya.

Bupati dua periode itu mengakui, pemerintah daerah akan memperkuat sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat luas. Terutama terkait bahaya perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas.

“Kita semua berharap, bisa memberikan edukasi dan sosialisasi secara masif agar masyarakat, khususnya generasi muda, terhindar dari bahaya HIV/AIDS, terutama yang berasal dari penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku seksual berisiko,” demikian bupati bergelar doktor tersebut.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faisal, memaparkan angka kasus HIV di Sulsel juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.”Pada 2020 tercatat 1.526 kasus, 2021 meningkat menjadi 1.881 kasus, 2022 sebanyak 2.575 kasus, 2023 mencapai 2.669 kasus, dan 2024 tercatat 2.486 kasus,” tutupnya. (adi)

Facebook Comments Box

Baca Juga