Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Mengurus orang miskin itu pekerjaan sunyi.
Tidak viral. Tidak glamor. Tidak banyak tepuk tangan.
Kalau bagi-bagi sembako pas kamera menyala, itu baru ramai.
Tapi setelah kamera mati,
setelah spanduk diturunkan,
setelah caption “Alhamdulillah berbagi” diunggah…
kemiskinan tetap tinggal.
Di situlah pekerjaan sesungguhnya dimulai.
Banyak orang ingin jadi donatur,
tapi sedikit yang siap jadi pengelola.
Karena mengelola mustahik itu bukan cuma soal uang,
tapi soal sabar, telaten, dan sering kali… dicurigai.
Lucunya, kita mudah curiga pada pengelola zakat,
tapi jarang curiga pada gaya hidup kita sendiri.
Kalau ada lembaga zakat bangun kantor,
langsung ada yang komentar:
“Wah, duit umat nih.”
Tapi kalau kita ganti HP tiap tahun,
kita bilang:
“Ini rezeki, Ustaz.”
Standar curiganya tajam ke luar,
tapi tumpul ke dalam.
Padahal, jamaah sekalian…
Mengurus mustahik itu tidak sesederhana menyerahkan amplop.
Ada data yang harus diverifikasi.
Ada tangis yang harus didengar.
Ada kebohongan yang harus disaring,
dan ada kejujuran yang sering kalah oleh rasa malu.
Karena tidak semua orang miskin berani mengaku miskin.
Dan tidak semua yang mengaku miskin, benar-benar miskin.
Di sinilah jalan sunyi itu.
BAZNAS—dan lembaga sejenis—bekerja di wilayah yang tidak banyak orang mau masuk.
Wilayah abu-abu antara iba dan keadilan.
Antara ingin cepat membantu dan takut salah sasaran.
Kalau zakat salah sasaran, kita marah.
Kalau zakat lambat, kita marah.
Kalau zakat tepat, jarang kita komentar.
Karena yang benar memang jarang ramai.
Kita sering berpikir,
“Kenapa zakat tidak langsung saja saya bagikan?”
Boleh. Itu baik.
Tapi kemiskinan tidak selalu selesai dengan uang tunai.
Ada orang miskin bukan karena malas,
tapi karena tidak punya akses.
Tidak punya modal.
Tidak punya keberanian.
Kalau diberi uang hari ini,
besok habis.
Lusa kembali miskin.
BAZNAS mencoba mengubah itu.
Dari memberi ikan,
pelan-pelan mengajarkan cara memancing.
Dan itu tidak instan.
Tidak bisa semalam jadi.
Tidak bisa diposting sebelum hasilnya ada.
Makanya sepi.
Jalan sunyi memang begitu.
Yang lewat sedikit,
yang bertahan lebih sedikit lagi.
Ironisnya,
kita ingin hasil zakat cepat terlihat,
tapi kita sendiri lambat menunaikan zakat.
Kita ingin mustahik segera mandiri,
tapi muzakki masih bertanya:
“Nanti dulu, boleh nggak?”
Zakat itu 2,5%.
Tapi drama batinnya bisa 25%.
Kita rela bekerja keras 30 hari,
lembur, macet, capek,
demi 100% penghasilan.
Tapi diminta 2,5% untuk membersihkan sisanya,
kita minta waktu berpikir.
Padahal Allah tidak minta 50%.
Allah tahu kita berat.
Yang bikin berat bukan jumlahnya,
tapi rasa kehilangan.
Dan di sinilah BAZNAS sering jadi sasaran empuk.
Karena lebih mudah menyalahkan pengelola
daripada mengakui kita belum ikhlas.
Padahal, kalau zakat dikelola sendiri-sendiri,
yang kuat dapat,
yang lemah terlewat.
Yang pandai bicara kebagian,
yang pendiam terlupakan.
Zakat yang dikelola secara kolektif itu bukan mematikan empati,
tapi merapikan empati.
Supaya belas kasih tidak tergantung mood.
Supaya bantuan tidak tergantung siapa yang kita kenal.
Karena keadilan sosial tidak bisa bergantung pada perasaan semata.
BAZNAS bekerja dalam senyap.
Sering disalahpahami.
Kadang dipuji, lebih sering dicurigai.
Tapi kalau zakat umat benar-benar terkumpul dan terkelola,
yang berubah bukan cuma statistik,
tapi masa depan.
Mustahik hari ini,
bisa jadi muzakki esok hari.
Dan itu tidak akan terjadi
kalau kita hanya sibuk merasa paling peduli,
tapi enggan mempercayakan.
Jamaah sekalian…
Jalan sunyi itu tidak ramai,
tapi penuh pahala.
Mengelola zakat dengan amanah itu ibadah berat.
Lebih berat dari sekadar memberi.
Karena yang dipikul bukan hanya uang,
tapi harapan orang-orang yang hidupnya sudah lama kekurangan.
Maka, kalau kita ingin zakat kita tidak sekadar gugur kewajiban,
tapi benar-benar mengubah kehidupan,
percayakanlah pada jalan yang memang disiapkan untuk itu.
Karena zakat bukan soal kita sudah memberi,
tapi soal mereka benar-benar bangkit.
Dan sering kali,
kebangkitan itu lahir
dari kerja-kerja sunyi
yang tidak kita lihat,
tidak kita foto,
dan tidak kita sorakkan.
Tapi dicatat rapi oleh Allah.
Dan itu…
jauh lebih penting.
Wallahu A’lam. (ATM–Ashar Tamanggong, Ketua BAZNAS Kota Makassar)