Makassar, Pedomanku,id:
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bukan sekadar lembaga administratif yang mengelola dana zakat, infaq, dan shadaqah, atau bahasa kerennya ZIS semata. Lembaga pemerintah nonstruktural ini justru menjadi benteng sosial Islam yang menegakkan keadilan ekonomi, menyalakan harapan bagi mustahik yang benar benar membutuhkan.
Dalam konteks keadilan ekonomi inilah, maka ZIS adalah cahaya yang menuntun umat menuju kesejahteraan. Nah, disinilah, Pimpinan BAZNAS, diharapkan tidak semata penjaga cahaya itu, dan tidak pula hanya menyalakan cahayanya semata, melainkan juga mengatur terangnya, agar menjangkau sudut‑sudut yang paling gelap.
Itulah mengapa, BAZNAS ke depan membutuhkan pemimpin yang kreativ, pemimpin yang menjadi lampu sorot, pemimpin yang memusatkan cahaya pada kebutuhan nyata, mengubah bantuan menjadi solusi, dan menjadikan mustahik menjadi muzakki.
Sebaliknya, jika pimpinan BAZNAS hanya berpegang pada pola pola lama, mungumpulkan, dan mendistribusikan secara manual, maka potensi sebesar “kekuatan ekonomi umat” apapun akan terbuang sia‑sanya.
Karenanya, Ketua BAZNAS Kota Makassar, HM.Ashar Tamanggong mengemukakan, jika pimpinan BAZNAS Makassar ke depan mampu berkreativitas, dan berani berinovasi, maka lembaga amil ini tidak hanya akan lebih adil—tetapi juga lebih cerah , mandiri , dan berkah.
“Kreativitas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan pertanda untuk menjawab harapan dan tantangan zaman. Ke depan BAZNAS menunggu sentuhan kreativitas pemimpinnya untuk disentuh,” ujarnya di ruang kerjanya, 1 April 2026.
Karena itu, HM.Ashar Tamanggong berharap, jika saja kreativitas dipadu dengan inovasi, maka ke depan pemimpin BAZNAS bersama staff amil, beramai ramai menyalakan cahaya zakat dengan cara yang belum pernah terlintas dalam pikiran sebelumnya.
Di bagian lain ATM—sapaan akrab da’i kondang ini mengemukakan, selain kreativitas, BAZNAS juga membutuhkan kepekaan terhadap akurasi distribusi. Pekerjaan keras menuntut survei lapangan dan verifikasi data lebih detil, lebih adil—semua ini demi meminimalisir kesalahan alokasi dana ummat.
“Jika transparansi ini termanej dengan jelas dan baik, tentunya memudahkan muzakki memantau donasinya, dan memperkuat kepercayaan publik,” tegas Doktor lulusan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, seraya menambahkan, BAZNAS wajib memiliki data yang jelas. Karena, tanpa data, maka kreativitas apapun yang dilakukan bisa menjadi “kreativitas kosong”. (din pattisahusiwa/tim media banzas kota makassar-bersambung)