160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Menjelang Pendaftaran Pimpinan BAZNAS Periode 2026-2031 (4). Memahami Betul Zakat

Makassar, Pedomanku,id:

“Sesungguhnya zakat itu menegakkan keadilan, mengangkat derajat, dan menyejukkan hati.” Meski begitu, dalam dunia nyata, keadilan itu tidak dapat terwujud tanpa seseorang yang memegang kunci kebijakan, yaitu pemimpin yang mengabdikan diri di lembaga yang mengelola zakat, yakni Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Kepemimpinan BAZNAS dimaksud adalah, yang memiliki pengetahuan luas tentang zakat. Mengapa? Ya, karena bagi sebagian orang, zakat masih dipahami sebagai kewajiban semata, padahal sesungguhnya, zakat juga instrumen ekonomi, sosial, dan spiritual yang menggerakan seluruh jaringan bagi kesejahteraan ummat.

Karena itu, tanpa pemahaman mendalam tentang seluk beluk zakat, tentunya seorang pemimpin akan gagal mewujudkan harapan muzakki menjadi kenyataan. Nah, di sinilah perlunya pemimpin yang memahami betul zakat, memahami betul hukum syariah, hingga memahami bahasa hati mustahik.

Ketua BAZNAS Kota Makassar, HM.Ashar Tamanggong ditemui di ruang kerjanya, Senin, 1 April 2026 mengemukakan, pemimpin BAZNAS tidak hanya menjadi pengelola dana ummat, melainkan penjaga amanah yang harus menyelaraskan dua dimensi sekaligus. Akal (wawasan luas), dan hati (niat tulus).

Dua dimensi yang dimaksud ATM—sapaan akrab Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiah UMI (1997-1999) itu dapat ditularkan menjadi tiga pilar strategi. Pertama, zakat sebagai alat distribusi kesejahteraan, dimana zakat bukan sekadar “pemberian”, melainkan “redistribusi kekayaan”. Misalnya, zakat untuk pendidikan, zakat untuk kesehatan, dan zakat untuk kepentingan mustahik lainnya.

Kedua, zakat berbasis teknologi, yakni dengan mengoptimalkan informasi teknologi untuk memudahkan muzakki dan mustahik. Dan ketiga, pendidikan zakat yang menyeluruh, yakni dengan menyebarkan pengetahuan zakat sejak usia dini di setiap lapisan masyarakat Islam.

“Karena itu, tentunya kita berharap, setiap langkah pemimpin BAZNAS ke depan menjadi cermin keadilan, dan setiap muzakki merasakan kehangatan zakat yang mengalir tepat sasaran. Alasannya jelas, penyaluran zakat bukan sekadar kewajiban, melainkan cermin hati dalam menyeimbangkan hak dan tanggungjawab,” urai penulis buku ‘Langit tak Pernah Offline”—sebuah esai religi tentang Islam, manusia, dan zaman ini.

Di bagian lain ATM berharap, pemimpin BAZNAS dapat menyalakan amanah umat dengan tekun, meski angin kencang menguji sekalipun. Dan, perlu diingat, bila kepemimpinan itu tetap bersandar pada Al-Qur’an, Sunnah, dan nilai‑nilai kejujuran, maka cahaya itu tak hanya menyinari jalan hari ini, namun juga menuntun masa depan yang lebih adil, dan sejahtera di kalangan mustahik.

“Perlu diingat bahwa, pemimpin BAZNAS, muzakki, dan mustahik—merupakan bagian tak terpisahkan dari me-MULIA-kan ummat. Karena pada akhirnya, amanah hanyalah sebuah kata, tetapi kepercayaan adalah sebuah ikatan yang mengikat seluruh umat dalam satu tujuan MULIA, yaitu menegakkan keadilan sosial di bawah panji kasih sayang sang ilahi, Allah SWT,” tutupnya. (din pattisahusiwa/tim media banzas kota makassar)

Facebook Comments Box

Baca Juga