160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Raja Bone La Tenritappu dan Warisan Intelektual Tarekat di Bone

Zaenuddin Endy
Direktur Pangadereng Institut (PADI)

Dalam sejarah panjang kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, jarang ditemukan sosok raja yang tidak hanya memegang kekuasaan politik, tetapi juga menekuni jalan spiritual secara mendalam hingga melahirkan karya tulis keagamaan. Di tanah Bugis, figur itu menjelma dalam diri Mangkau ri Bone, La Tenritappu Sultan Ahmad Shaleh Syamsuddin, yang memerintah antara tahun 1775 hingga 1812. Ia bukan sekadar raja dalam arti administratif, tetapi juga seorang alim yang menempatkan dimensi batin sebagai inti dari kepemimpinan.

Kehadiran La Tenritappu dalam panggung sejarah Bone menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu identik dengan dominasi duniawi. Dalam dirinya, kekuasaan justru dipadukan dengan kesadaran spiritual yang tinggi. Ia memahami bahwa legitimasi seorang raja tidak hanya bertumpu pada garis keturunan atau kekuatan militer, melainkan juga pada kedalaman ilmu dan keteguhan dalam menjalani ajaran agama.

Sebagai seorang yang mendalami tarekat, La Tenritappu dikenal sebagai pengamal Tarekat Khalwatiyah Yusufiyah, sebuah aliran tasawuf yang memiliki akar kuat dalam tradisi spiritual Islam di Sulawesi Selatan. Tarekat ini, yang berkembang melalui pengaruh Syekh Yusuf al-Makassari, menekankan pentingnya penyucian jiwa, kedisiplinan spiritual, serta kedekatan seorang hamba dengan Tuhan melalui laku batin yang konsisten.

Penguasaan La Tenritappu terhadap ilmu tarekat tidak berhenti pada praktik individual. Ia melangkah lebih jauh dengan menuangkan pemahamannya dalam bentuk tulisan. Di sinilah letak keistimewaannya: seorang raja yang tidak hanya menjadi patron keilmuan, tetapi juga produsen pengetahuan. Ia menulis risalah-risalah agama yang berfungsi sebagai panduan spiritual bagi masyarakatnya.

Penulisan kitab oleh seorang raja menunjukkan adanya kesadaran epistemologis bahwa ilmu harus diwariskan dan didokumentasikan. Dalam konteks ini, La Tenritappu tidak hanya menjaga tradisi lisan, tetapi juga memperkuatnya melalui tradisi tulis. Hal ini menjadi penting dalam memastikan keberlanjutan ajaran tarekat di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berubah.

Dalam proses intelektual tersebut, La Tenritappu tidak berjalan sendiri. Ia didampingi oleh Kadi Bone, Arab Harun, seorang ulama yang memiliki otoritas keagamaan dan kapasitas ilmiah yang mumpuni. Kehadiran Arab Harun memperlihatkan adanya kolaborasi antara otoritas politik dan otoritas keagamaan dalam membangun peradaban berbasis ilmu.

Relasi antara raja dan kadi ini mencerminkan model ideal dalam tradisi Islam klasik, di mana umara dan ulama saling melengkapi. Raja menyediakan ruang dan dukungan struktural, sementara ulama memastikan bahwa arah kebijakan dan kehidupan masyarakat tetap berada dalam koridor syariat dan nilai-nilai spiritual.

Kitab-kitab yang ditulis oleh La Tenritappu tidak hanya berisi ajaran normatif, tetapi juga mengandung dimensi etika dan praksis. Ia memahami bahwa tarekat bukan sekadar ritual, melainkan jalan hidup yang menuntut integritas moral. Oleh karena itu, risalah yang ditulisnya menjadi jembatan antara ajaran tasawuf dan kehidupan sosial masyarakat Bone.

Dalam konteks lokal Bugis, ajaran tarekat yang dikembangkan oleh La Tenritappu juga berinteraksi dengan nilai-nilai kearifan lokal . Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hadir sebagai entitas yang terpisah dari budaya, melainkan bertransformasi dan berakulturasi tanpa kehilangan esensi ajarannya.

Kepemimpinan La Tenritappu dengan demikian dapat dibaca sebagai bentuk integrasi antara kekuasaan, ilmu, dan spiritualitas. Ia tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, tetapi justru menjadikannya sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Inilah yang membuat pemerintahannya tidak hanya dikenang sebagai periode politik, tetapi juga sebagai fase penting dalam perkembangan intelektual Islam di Bone.

Warisan intelektual yang ditinggalkan oleh La Tenritappu menjadi bukti bahwa tradisi literasi telah berkembang dalam lingkungan istana Bone. Ini sekaligus menantang asumsi bahwa pusat-pusat keilmuan hanya berada di pesantren atau kota-kota besar. Di Bone, istana juga berfungsi sebagai pusat produksi pengetahuan.

Peran Arab Harun sebagai Kadi Bone semakin mempertegas bahwa keberhasilan La Tenritappu dalam menulis dan menyebarkan ajaran tarekat tidak terlepas dari dukungan ulama. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem intelektual yang sehat, di mana diskursus keagamaan dapat berkembang secara dinamis dan bertanggung jawab.

Dalam perspektif sejarah Islam Nusantara, sosok La Tenritappu dapat ditempatkan sebagai bagian dari tradisi ulama-umara yang mengintegrasikan kekuasaan dengan kesalehan. Ia melanjutkan jejak para penguasa Muslim yang menjadikan tasawuf sebagai landasan etika dalam menjalankan pemerintahan.

Namun, yang membuatnya unik adalah kontribusinya dalam bentuk tulisan.
Tidak banyak raja yang secara langsung menulis kitab, apalagi dalam bidang tarekat yang menuntut kedalaman pengalaman spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa La Tenritappu bukan hanya seorang penguasa, tetapi juga seorang sufi dalam arti yang sesungguhnya.

Kehadirannya juga memperlihatkan bahwa tarekat Khalwatiyah Yusufiyah memiliki pengaruh yang signifikan dalam struktur sosial-politik Bone. Tarekat tidak hanya menjadi praktik individual, tetapi juga menjadi bagian dari konstruksi budaya dan identitas masyarakat.

Melalui risalah-risalah yang ditulisnya, La Tenritappu berupaya mentransformasikan nilai-nilai tasawuf menjadi pedoman hidup yang aplikatif. Ia menyadari bahwa masyarakat membutuhkan panduan yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam konteks kekinian, warisan La Tenritappu menjadi relevan untuk dikaji kembali. Di tengah krisis moral dan fragmentasi sosial, integrasi antara kekuasaan dan spiritualitas yang ia contohkan dapat menjadi inspirasi dalam membangun kepemimpinan yang beretika.

Lebih jauh, tradisi menulis yang ia bangun menunjukkan pentingnya literasi dalam menjaga keberlanjutan ajaran. Tanpa dokumentasi, banyak pengetahuan yang berpotensi hilang. Oleh karena itu, upaya La Tenritappu dalam menulis kitab harus dipandang sebagai kontribusi besar dalam sejarah intelektual Islam di Sulawesi Selatan.

La Tenritappu Sultan Ahmad Shaleh Syamsuddin tidak hanya dikenang sebagai Mangkau ri Bone, tetapi juga sebagai ulama, sufi, dan penulis. Ia adalah simbol dari kemungkinan ideal: ketika kekuasaan bersatu dengan ilmu, dan ketika politik berjalan seiring dengan kedalaman spiritual. Warisannya adalah pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya mengatur manusia, tetapi juga membimbing jiwa. Wallahu A’lam Bissawab.(*)

Facebook Comments Box

Baca Juga