Kultum (Kuliah Terserah Antum)
By ATM
Salah satu penyakit paling umum di zaman ini bukan maag, bukan kolesterol, tapi cinta dunia berlebihan. Gejalanya halus. Tidak demam, tidak pusing, tapi bikin hati lengket ke harta. Dompet dipeluk, tangan susah dilepas.
Ironisnya, penyakit ini jarang terasa sakit. Justru terasa nikmat. Makanya jarang diobati. Padahal diam-diam, ia menggerogoti iman.
Islam, seperti biasa, tidak membiarkan umatnya bingung. Allah menyediakan obatnya. Bukan obat mahal. Bukan terapi rumit. Namanya sederhana: infak.
Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Dalam ayat ini Allah tidak bicara kehilangan, tapi pertumbuhan. Bukan pengurangan, tapi pelipatgandaan. Artinya, infak itu bukan melemahkan, tapi menyehatkan.
Masalahnya, cinta dunia itu pintar menyamar. Dia pakai dalih kebutuhan. Pakai alasan masa depan. Pakai topeng kehati-hatian. Padahal di balik semua itu, sering tersembunyi satu rasa: takut miskin.
Anehnya, orang yang paling takut miskin justru kebanyakan orang yang sudah kaya. Tapi hatinya masih merasa kurang. Maka ditumpuk terus, dijaga ketat, seolah-olah harta itu tabung oksigen terakhir.
Infak datang untuk menampar ilusi itu. Saat kita memberi, kita sedang berkata pada diri sendiri: rezeki tidak berhenti di tangan saya. Dan kalimat ini berat bagi orang yang hatinya sudah terlalu cinta dunia.
Makanya infak itu menyakitkan di awal. Tapi menyehatkan di akhir. Seperti olahraga. Awalnya pegal, tapi lama-lama bikin bugar. Jiwa yang rutin berinfak biasanya lebih tenang. Tidak gampang panik. Tidak gampang iri.
Infak juga melatih kita untuk kalah. Kalah dari keinginan menimbun. Kalah dari nafsu memiliki. Dan dalam Islam, kekalahan melawan nafsu itu justru kemenangan sejati.
Banyak orang rajin berdoa minta dilepaskan dari cinta dunia, tapi malas berinfak. Ini seperti minta sembuh tapi tidak mau minum obat. Doanya khusyuk, tindakannya nihil.
Padahal cinta dunia itu tidak hilang dengan ceramah, tapi dengan latihan melepaskan. Dan infak adalah latihan paling praktis. Tidak perlu teori panjang. Cukup buka tangan.
Yang menarik, infak juga mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari membeli, tapi sering muncul saat memberi. Ada rasa lega yang tidak bisa dijelaskan. Seperti beban yang dilepas dari dada.
Orang yang jarang infak biasanya hidup dalam mode bertahan. Selalu waspada. Selalu takut kehilangan. Sedikit-sedikit dihitung. Hidupnya capek. Bukan karena kurang, tapi karena terlalu mencengkeram.
Sebaliknya, orang yang rutin infak cenderung lebih santai. Bukan karena hartanya tebal, tapi karena hatinya tidak bergantung. Ia tahu, yang mengatur rezeki bukan saldo, tapi Allah.
Ayat Al-Baqarah tadi memberi harapan besar. Bahwa setiap rupiah yang keluar di jalan Allah tidak pernah benar-benar hilang. Ia berubah bentuk. Kadang jadi rezeki tak terduga. Kadang jadi ketenangan. Kadang jadi keselamatan yang kita tidak sadari.
Infak itu obat murah. Tidak perlu resep dokter. Tidak ada efek samping. Yang ada justru efek jangka panjang: iman lebih sehat, hati lebih ringan, hidup lebih lapang.
Kalau hari ini kita merasa terlalu cinta dunia, jangan menyalahkan zaman. Jangan juga menyalahkan keadaan. Cukup tanya pada diri sendiri: kapan terakhir saya berinfak dengan ikhlas?
Karena bisa jadi, bukan dunia yang terlalu menggoda, tapi tangan kita yang terlalu menggenggam.
Dan infak hadir untuk mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa hidup ini bukan soal seberapa banyak yang kita simpan, tapi seberapa ikhlas yang kita lepaskan.
Wallahu A’lam. (ATM- Ashar Tamanggong)