160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Saat Ruh Kaderisasi Terhenti

 

Oleh: Zaenuddin Endy
Koordinator Instruktur PKPNU Sulawesi Selatan

Mungkin tidak banyak yang percaya bahwa salah satu faktor yang ikut menyumbang kegaduhan dan berbagai kekisruhan yang muncul di tubuh PBNU pada periode ini adalah terputusnya salah satu ruh gerakan Nahdlatul Ulama, yaitu kaderisasi PKPNU. Sebab, yang terlihat di permukaan sering kali hanya dinamika politik organisasi, sementara akar persoalannya bisa saja berada pada melemahnya proses pembentukan kader yang selama ini menjadi penyangga utama kehidupan jam’iyah.

Sejak sekitar tahun 2012, PKPNU berkembang menjadi gerakan kaderisasi yang sangat masif. Di berbagai daerah, pelatihan kader dilaksanakan secara berkelanjutan dengan semangat yang luar biasa. Ribuan kader lahir dari proses tersebut dan menjadi penggerak organisasi di tingkat ranting, anak cabang, cabang, hingga wilayah.

PKPNU bukan sekadar forum pendidikan organisasi. Di dalamnya terdapat proses penanaman nilai, penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta pembentukan karakter kepemimpinan yang berorientasi pada khidmah. Melalui proses itulah lahir kader-kader yang memahami NU bukan hanya sebagai organisasi, tetapi juga sebagai jalan pengabdian.

Ketika kaderisasi berjalan secara teratur dan massif, organisasi memperoleh pasokan energi baru yang terus mengalir. Setiap angkatan melahirkan kader yang siap bekerja, siap menggerakkan jamaah, dan siap menjaga marwah organisasi. Kaderisasi menjadi jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh organisasi.

Sebaliknya, ketika jantung itu melemah, dampaknya mungkin tidak langsung terasa. Namun perlahan-lahan akan muncul kekosongan kader penggerak yang memiliki pemahaman ideologis mendalam. Organisasi tetap berjalan, tetapi daya dorongnya tidak lagi sekuat sebelumnya.

Karena itu, ada pandangan yang menyebut bahwa moratorium PKPNU telah memutus salah satu mata rantai penting regenerasi NU. Ketika kaderisasi utama berhenti, maka ruang pembentukan kader ideologis juga ikut menyempit. Akibatnya, muncul kesenjangan antara kebutuhan organisasi dan ketersediaan kader yang siap menjalankan tugas-tugas perjuangan.

Mungkin pula tidak banyak yang percaya bahwa setiap kegiatan PKPNU sesungguhnya memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan pelatihan organisasi biasa. Banyak kader merasakan adanya kekuatan spiritual yang menyertai setiap proses kaderisasi tersebut. Ada semangat yang sulit dijelaskan dengan ukuran-ukuran administratif semata.

Dalam keyakinan banyak warga Nahdliyin, setiap kegiatan yang bertujuan menjaga dan mengembangkan perjuangan NU tidak pernah berjalan sendirian. Para muassis NU yang telah meletakkan fondasi jam’iyah ini diyakini hadir menyaksikan perjuangan kader-kader penerusnya.

Kehadiran para muassis itu tentu bukan dalam pengertian fisik, melainkan dalam makna spiritual dan historis. Jejak perjuangan mereka hidup dalam nilai-nilai yang diajarkan, dalam tradisi yang diwariskan, dan dalam semangat yang terus ditanamkan kepada setiap peserta kaderisasi.

Berita Terkait

Karena itulah banyak kader PKPNU mengikuti proses pendidikan dengan kesungguhan yang tinggi. Mereka merasa sedang menyambung mata rantai perjuangan yang telah dirintis oleh para ulama pendiri NU. Kesadaran inilah yang melahirkan rasa memiliki dan tanggung jawab yang besar terhadap organisasi.

PKPNU sesungguhnya tidak hanya melahirkan kader yang mampu menghidupkan struktur organisasi. Lebih dari itu, PKPNU membentuk kader yang memiliki kemampuan membaca kebutuhan masyarakat dan menerjemahkannya ke dalam program-program nyata. Karena itu, keberhasilan kaderisasi tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan pelatihan yang dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana kader mampu menggerakkan perubahan sosial di lingkungan sekitarnya.

Dalam banyak pengalaman di berbagai daerah, kader-kader hasil PKPNU berhasil menjadikan struktur organisasi NU lebih aktif, dinamis, dan terorganisasi. Kepengurusan tidak hanya tercantum dalam surat keputusan, tetapi benar-benar bergerak melalui rapat rutin, program kerja yang terukur, administrasi yang tertib, serta agenda organisasi yang berjalan secara berkesinambungan.

Keberadaan kantor sekretariat yang hidup juga menjadi salah satu indikator penting. Kader-kader penggerak yang lahir dari proses kaderisasi biasanya memiliki kesadaran kuat bahwa organisasi tidak boleh hanya hadir menjelang konferensi atau pemilihan pengurus. Organisasi harus hadir setiap hari melalui pelayanan kepada warga dan masyarakat.

Lebih jauh lagi, PKPNU melahirkan kader yang memahami bahwa NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga gerakan sosial yang harus menjawab berbagai persoalan umat. Karena itu, energi kaderisasi sering kali bermuara pada lahirnya berbagai lembaga pendidikan yang menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia masyarakat.

Tidak sedikit sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi yang berkembang karena digerakkan oleh kader-kader yang memiliki semangat pengabdian hasil proses kaderisasi. Mereka memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan utama dalam membangun peradaban dan memperkuat posisi umat di masa depan.

Di bidang kesehatan, kader-kader penggerak NU juga terbukti mampu menghadirkan berbagai layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Berawal dari klinik sederhana, banyak yang kemudian berkembang menjadi balai kesehatan, rumah bersalin, hingga rumah sakit yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kelompok tertentu.

Fenomena berkembangnya rumah sakit NU di berbagai daerah menunjukkan bahwa kaderisasi yang baik tidak hanya menghasilkan aktivis organisasi, tetapi juga melahirkan entrepreneur sosial yang mampu membangun institusi pelayanan publik yang berkelanjutan. Mereka tidak berhenti pada diskusi dan seminar, melainkan bergerak membangun fasilitas yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dalam bidang ekonomi, pengaruh kaderisasi bahkan lebih terlihat. Kader-kader yang memiliki visi pemberdayaan umat berupaya membangun kemandirian ekonomi melalui berbagai instrumen kelembagaan. Dari sinilah lahir koperasi, BMT, BPR, usaha bersama, jaringan perdagangan, hingga berbagai bentuk usaha produktif lainnya.

Di sejumlah daerah, kader-kader NU berhasil mengembangkan supermarket, pusat distribusi kebutuhan pokok, usaha pertanian dan perkebunan, bahkan mengelola unit usaha strategis yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Semua itu berangkat dari kesadaran bahwa dakwah tidak cukup dilakukan melalui mimbar, tetapi juga melalui penguatan kesejahteraan masyarakat.

Tidak mengherankan jika muncul keyakinan bahwa kaderisasi yang kuat akan melahirkan organisasi yang kuat secara kelembagaan. Ketika kader memiliki kapasitas kepemimpinan, manajemen, dan visi pemberdayaan, maka organisasi tidak akan hanya sibuk dengan urusan internal, tetapi mampu menjadi kekuatan sosial yang berpengaruh di tengah masyarakat.

Bahkan dalam konteks politik kebangsaan, kaderisasi memiliki dampak yang sangat besar. Politik dalam pengertian ini bukan sekadar perebutan jabatan, melainkan kemampuan memengaruhi arah kebijakan publik agar berpihak kepada kepentingan umat, bangsa, dan nilai-nilai keadilan sosial yang diperjuangkan NU.

Kader-kader yang lahir dari proses kaderisasi yang matang biasanya memiliki kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat sipil. Jaringan yang luas inilah yang kemudian memperbesar pengaruh sosial dan politik organisasi.

Karena itu, ketika PKPNU berjalan secara massif, yang lahir sesungguhnya bukan hanya kader pengurus. Yang lahir adalah penggerak pendidikan, penggerak kesehatan, penggerak ekonomi, penggerak sosial, sekaligus penggerak kebangsaan. Mereka menjadi motor yang menghubungkan nilai-nilai Aswaja dengan kebutuhan konkret masyarakat.

Dalam perspektif ini, PKPNU bukan sekadar program kaderisasi, melainkan investasi strategis jangka panjang bagi masa depan NU. Dari ruang-ruang kaderisasi itulah lahir gagasan, jaringan, kepemimpinan, dan berbagai inisiatif yang mampu memperkuat posisi NU dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kebangsaan.

Oleh sebab itu, kerinduan sebagian kader terhadap hadirnya kembali PKPNU bukan semata-mata nostalgia terhadap sebuah program kaderisasi. Kerinduan itu sesungguhnya merupakan harapan agar ruh penggerakan yang pernah menghidupkan organisasi, memberdayakan masyarakat, membangun lembaga-lembaga strategis, serta memperluas pengaruh sosial NU dapat kembali tumbuh dan berkembang demi kemaslahatan umat yang lebih luas.

Di Sulawesi Selatan, dampak positif PKPNU pernah terlihat sangat nyata. Banyak kader muda lahir dari proses kaderisasi tersebut dan kemudian menjadi penggerak berbagai aktivitas NU. Mereka hadir di pesantren, kampus, majelis taklim, lembaga pendidikan, serta berbagai ruang pengabdian lainnya.

Kader-kader hasil PKPNU tidak hanya aktif dalam struktur organisasi. Mereka juga menjadi penghubung antara NU dan masyarakat. Mereka menghidupkan kegiatan keagamaan, memperkuat tradisi Aswaja, serta menjaga hubungan harmonis antara NU dan berbagai elemen sosial.

Jika gerakan PKPNU terus berjalan tanpa moratorium, sangat mungkin Sulawesi Selatan akan melahirkan lebih banyak lagi kader penggerak NU. Basis kaderisasi yang telah terbentuk sejak awal akan berkembang semakin luas dan menjangkau lebih banyak generasi muda.

Setiap pelaksanaan PKPNU sejatinya merupakan investasi jangka panjang organisasi. Hasilnya memang tidak selalu terlihat dalam hitungan bulan atau tahun. Namun dalam rentang waktu yang panjang, kaderisasi akan melahirkan pemimpin, penggerak, pemikir, dan pelayan organisasi yang berkualitas.

NU sebagai organisasi besar tidak dapat hanya mengandalkan tokoh-tokoh yang telah ada. Regenerasi harus terus berlangsung agar estafet perjuangan tidak terputus. Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu melahirkan generasi penerus secara terus-menerus.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kekuatan NU selalu bertumpu pada kaderisasi. Para ulama pendiri membangun organisasi ini bukan hanya dengan gagasan besar, tetapi juga dengan menyiapkan kader-kader yang akan melanjutkan perjuangan mereka di masa depan.

Oleh karena itu, upaya menghidupkan kembali semangat kaderisasi bukanlah sekadar kebutuhan teknis organisasi. Ia merupakan kebutuhan strategis untuk memastikan bahwa nilai-nilai, tradisi, dan orientasi perjuangan NU tetap terjaga dari generasi ke generasi.

Karena itu, jika ruh gerakan NU ingin kembali bangkit dengan kekuatan yang lebih besar, maka menghadirkan kembali PKPNU sebagai gerakan kaderisasi yang aktif, terstruktur, dan massif merupakan langkah yang layak dipertimbangkan. Sebab dari ruang-ruang kaderisasi itulah lahir para penggerak yang akan menjaga NU tetap hidup, berkembang, dan menjadi pelita bagi umat serta bangsa.

Facebook Comments Box

Baca Juga