160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


BAZNAS Makassar Bantu Musafir asal Tarakan

Makassar, Pedomanku.id

Di tengah hiruk pikuk Kota Makassar, tersembunyi kisah-kisah para Musafir. Mereka adalah para pejuang hidup yang merantau jauh dari kampung halaman, mencari rezeki, menggapai mimpi, atau sekadar menjalani takdir.

Namun, tak jarang, roda kehidupan berputar tak sesuai harapan. Ada masa ketika angin tak lagi berpihak, dan kerinduan akan pangkuan ibu, dekapan ayah, atau canda tawa anak anak, dan keluarga di kampung halaman.

Fadli Indra Praja, musafir asal Kota Tarakan, Kalimantan Utara salah satunya. Dia mendatangi Kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar. Kedatangan pria kelahiran Kelurahan Karanganyar RT 01 Tarakan Barat, 2 Februari 1986 itu malah sempat bermalam di teras lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar itu, malam tadi.

Maksud Fadli Indra Praja ke Kantor BAZNAS Makassar tidak lain meminta bantuan untuk kembali  ke kampung halamannya. Pasalnya, dirinya sudah tidak memliki biaya apapun di negeri orang. Dia berkeyakinan setidaknya ada kisah baru yang dimulai, kisah tentang ketegaran, harapan, dan kebaikan yang tak terhingga dari lembagamil terpercaya seperti BAZNAS Makassar.

Awalnya, kedatangannya ke Kota Parepare dengan segudang impian. Dia berjanji bekerja keras, meski sebagai peracik menu,  agar anak anaknya memiliki tabungan untuk masa depan. Tetapi, yang dihadapi adalah kekecewaan, dan keputus-asaan.

“Kedatangan saya ke Sulawesi Selatan ini, lantaran diajak teman untuk bekerja sebagai juru masak di Kota Parepare. Padahal sesampai di sana, ternyata rumah makan dimaksud baru dalam tahap perencanaan,” ujarnya kepada tim BAZNAS Makassar, Kamis, 22 Oktober pagi.

Selama enam hari lalu di kota kelahiran B.J.Habibie (presiden ketiga-RI) itu, anak semata wayang dari pasangan Zainal Abidin (kini Almr), dan Agusnia (muallaf) itu pun ditinggal rekannya, entah kemana. “Saya kaget setelah ditinggal teman yang entah kemana perginya. Hidup sayapun tidak menentu. Makan dan tempat tinggalpun tidak ada,” tuturnya.

Dalam suasana yang tidak menentu itulah, ayah dua orang anak (besar kelas 1 SMP dan kecil kelas 5 SD) itu akhirnya memilih bekerja sebagai pencuci piring di salah satu rumah makan di pinggiran jalan poros Parepare-Pinrang.

“Akhirnya kemarin, saya didatangi salah seorang supir angkutan umum dan menyarankan meminta bantuan ke BAZNAS. Makanya, malam tadi sayapun bersamanya langsung ke BAZNAS ini. Saya tiba jam 8 malam, dan memilih tidur di teras kantor ini,” ujarnya.

Setelah di asesmen tim BAZNAS Makassar, Fadli Indra Praja pun dibantu biaya kembali ke Tarakan, termasuk tambahan biaya akomudasi lainnya. Bantuan diserahkan Kepala Bagian II Nabil Salim mewakili pimpinan BAZNAS Makassar.

“Alhamdulillah, hanya itulah kata yang bisa saya ucapkan. Saya akhirnya bisa kembali ke kampung halaman saya. Terima kaish BAZNAS Makassar,” ujar mantan mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata NHAI Bandung tahun 2011 itu, sambil menetes air mata.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua BAZNAS Kota Makassar, H.M.Ashar Tamanggong mengemukakan, BAZNAS Makassar berdiri tegak, dan siap menjadi tiang penyangga, siap menjadi jembatan pulang, siap mengembalikan musafir yang betul betul kehabidan bekal, agar kembali ke pelukan orang-orang terkasih di kampung halaman.  (Din Pattisahusiwa/tim media baznas makassar)

 

Facebook Comments Box

Baca Juga