Makassar, Pedomanku, Id:
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman direncanakan mengukuhkan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Elang Timur Indonesia Februari mendatang. Pengukuhan Organisasi Massa (Ormas) yang dipimpin Imran itu bakal berlangsung di Claro Hotel.
Rencana pengukuhan itu diungkap Imran di sela sela bincang santai bersama sejumlah Pengurus DPP Elang Timur Indonesia, di antaranya Sekretaris Umum, Ahmad Rusli di Kedai Kopi Nyonya, Jalan Veteran Selatan, Rabu, 7 Januari, petang.
“Kami merencanakan pengukuhan dilakukan oleh Bapak Gubernur Sulawesi Selatan. Usai pengukuhan, baru kami akan meramu pembentukan kepengurusan di kabupaten/ kota se Sulawesi Selatan, kemudian di provinsi lainnya di tanah air,” tuturnya.
Sarjana Ekonomi Universitas Veteran-RI itu mengemukakan, kehadiran Elang Timur Indonesia di tanah Bugis-Makassar diilhami semangat solidaritas, sekaligus menginspirasi penguatan identitas unik kaum muda di tengah tengah modernisasi yang demikian maju saat ini.
Artinya, kehadiran Elang Timur Indonesia, sebagai penanda, “Elang dari Timur,” adalah inisiatif para pemuda Bugis-Makassar, dengan titik tekannya bukan pada program kerja tahunan semata, melainkan sebuah gerakan menjembatani, dan mencari jalan keluar permasalahan hukum, sosial-budaya, pendidikan, hingga pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Sekadar diketahui bahwa, Elang Timur Indonesia ini, bukan sekadar Ormas, melainkan sebuah ekosistem yang menumbuhkan solidaritas, memperkuat UMKM, dan menyuburkan keharmonisan sosial,” jelasnya.
Dengan sayap yang terus mengembang, Imran mengajak setiap warga Kota Makassar menjadi bagian dari migrasi kebangkitan bersama. Alasannya jelas, jika satu elang dapat menukik, maka seratusan elang bersama dapat mengubah lanskap langit. Dan, di setiap kepakan sayap Elang Timur selalu menebar harapan, kemandirian, dan persaudaraan yang tak pernah padam.
Pria kelahiran 40 tahun lalu itu juga menyebut, Ormas Elang Timur Indonesia ini sekaligus berfungsi sebagai platform untuk pengembangan keterampilan, keterlibatan masyarakat, dan dialog antar generasi, dengan tidak melepaskan pelibatan komunitas kelas bawah.
Makanya, ia menggambarkan, kehadiran Elang Timur Indonesia sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memposisikan Ormas ini sebagai model perubahan.
Imran mencontohkan, saat Ormas ini meluncurkan inisiatif pada kuartal pertama gelaran silaturahmi, dan konsolidari perdana di Hotel Max One, Jalan Palhawan, Selasa, 9 Desember silam, semua mata tertuju saat frasa “Solid, Tajam, Tangguh—-Elang Timur Indonesia, Jaya, Jaya, Jaya” digemakan. Frasa ini bersinergi menjadi satu kekuatan yang tak terbendung, hingga melambung tinggi, mengubah ambisi individu menjadi kemajuan kolektif.
Sebelum menutup komentarnya, Imran mengakui, meski baru seumur jagung—digagas kediriannya pada Juli, dan dipermantap pada bulan Sumpah Pemuda (Oktober) 2025 telah mengawal sejumlah kasus. Misalnya, mafia tanah, termasuk memulihkan pengutan liar di salah satu sekolah di Makassar. Kesuksesan ini, karena salah satu tujuan suci pendirian Elang Timur Indonesia adalah menghadirkan perubahan budaya.
Meski Elang Timur Indonesia mungkin belum sebesar organisasi massa lainnya, namun kehadirannya menjadi bukti bahwa, perubahan besar sering kali lahir dari tindakan kecil. Artinya, Ormas ini tidak segan segan menjembatani persoalan persoalan yang dihadapi masyarakat kecil, tanpa rasa takut.
“Dan pada waktunya, ketika masyarakat sudah tahu haknya, mereka sendirilah yang akan melanjutkan perjuangan. Bagaikan elang yang menerjang angin di langit tinggi, namun sesekali terbang rendah—namun kuat dan perkasa,” tutup Imran. (din pattisahusiwa)