160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Mantan Wartawan Pedoman Rakyat, Mas’ud Muhammadiyah Raih Professor di Unibos (1)

Prof.Dr.Drs.Mas’ud Muhammadiyah, M,Si (tengah). (Foto:ist)

Kampus di jantung Kota Makassar, Universitas Bosowa, Kamis, 12 Pebruari 2026 hari ini menghasilkan guru besar di bidang Linguistik Forensik. Dia adalah, Profesor Dr.Drs.H.Mas’ud Muhammadiyah, M.Si–mantan wartawan Harian Pedoman Rakyat Ujung Pandang di masanya. Semasa menjadi jurnalis di salah satu harian tertua di Indonesia itu, pria kelahiran Kota Niaga, Parepare itu mengasuh rubrik Pendidikan.

Saat bergelut di dunia kuli tinta saat itu, Mas’ud Muhammadiyah ‘bermata tajam’ akan masa depan yang cerah. Makanya, di sela sela peliputan, dia ikut ‘nyambi’ sebagai tenaga pendidik di kampus Universitas ‘45’. Kampus yang didirikan tokoh Sulawesi Selatan, Andi Sose itu di belakang hari berubah nama menjadi Universitas Bosowa—setelah berpindah tangan ke pengusaha beken, HM.Aksa Machmud.

Pengalaman berjurnalistik, bertransformasi luar biasa dalam diri Mas’ud Muhammadiyah. Ketika itu, dia menulis berita di ruang redaksi lantai dua Redaksi Pedoman Rakyat di Jalan Arief Rate No 31.

Selama di Pedoman Rakyat, Mas’ud memegang penanya sebagai jurnalis kawakan, menavigasi dunia media cetak. Di antaranya membedah berita berita berbau pendidikan, membuatnya mendapatkan reputasi untuk analisis yang tajam dan bakat untuk terhubung dengan kisah-kisah manusia terdidik.

Rekan-rekannya sering kali kagum dengan kemampuannya untuk mendengarkan secara mendalam, memanfaatkan keterampilan yang diasah selama bertahun-tahun dalam mewawancarai sumber sumber berita yang layak dan berkompoten.

Jurnalisme mengajarinya untuk mengajukan pertanyaan. Academia mengajarinya untuk mencari jawaban dengan ketelitian— dan membaginya dengan kerendahan hati.

Mas’ud Muhammadiyah sering mengingatkan bahwa, kata-kata yang pernah dirangkai dalam berita adalah warisan yang tak pernah dilupakan hingga saat ini. Itulah mengapa rekan rekannya yang menghadiri pengukuhan sebagai Guru Besar, Kamis hari ini, menyebut  Mas’ud Muhammadiyah bukan hanya seorang Maha Guru, melainkan adalah penjaga identitas Pedoman Rakyat.

Karir Mas’ud mulai dari mengungkap berita di ruang redaksi yang ramai, hingga mengungkap kompleksitas bahasa di dunia akademis— membuktikan bahwa, alat bercerita melampaui media itu membawanya meraih pendidikan tertinggi (doktor) di UNM, dan kini dihiasi lagi dengan gelar terhormat ‘Guru Besar Linguistik (Professor of Linguistics) di Unibos.

Dalam pidato pengukuhan Guru Besar, Mas’ud Muhammadiyah mengangkat judul  “Linguistik Forensik : Mengurai Pasal Karet UU ITE yang Memenjarakan Bahasa Indonesia”. Kesuksesan yang diraih menjadi inspirasi begitu penting. Karena, Redaksi Pedomanku,id menyajikan orasi pengukuhan sebagai Guru Besar, atau Profesor bagi Mas’ud  dalam beberapa kali secara bersambung.

Di hadapan Rapat Senat Terbuka, di hadapan para guru besar, dan di hadapan begitu banyak pasang mata, Mas’ud Muhammadiyah memulai dengan penyampaikan penghormatan, setidaknya kepada Kepala LLDIKTI Wil. IX Sultan Batara, Dr. Andi Lukman, M.Si., Founder Bosowa Corporindo, H.M. Aksa Mahmud, Ketua Yayasan Aksa Mahmud, Hj. Melinda Aksa, Ketua BPH Yayasan Aksa Mahmud, Asrul Hidayat beserta seluruh jajaran. Rektor Universitas Bosowa, Prof. Dr. Ir. Batara Surya, S.T., M.Si. beserta seluruh jajaran pimpinan, Ketua Dewan Profesor Universitas Bosowa, Prof. Dr. Andi Muhibuddin, M.P. beserta jajaran, anggota senat akademik, Profesor, dekan dan pejabat struktural, dosen dan tenaga kependidikan, mahasiswa yang saya banggakan.

Ucapan yang sama ditujukan kepada Bupati Kabupaten Barru,  Andi Ina Kartika Sari S.H., M.Si, Walikota Parepare H. Tasming Hamid, S.E., M.H.,Wakil Bupati Barru Adinda Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., Rektor Universitas “45” dan Bosowa pada masanya, Ketua Umum IKM Parepare Irjen Pol. (Purn.) Drs. Mas Guntur Laupe, S.H., M.H., Ketua Umum DPP KKDB H.M. Yasin Azis dan jajaran,  Ketua Harian IKM Parepare Drs. H. Fattah Maskur dan para pengurus,  Kakanda Prof. Dr. H. M. Said Karim, S.H., M.H., M.Si., CLA. dan saudara-saudara lainnya yang tidak disebut satu demi satu.

Hari ini, di ruang yang dipenuhi harapan dan doa, kita bersyukur. Bukan sekadar syukur yang diucapkan lalu berlalu seperti angin, melainkan syukur yang tertanam dalam — atas rahmat Yang Maha Kuasa, yang mempertemukan kita dalam sebuah momentum bersejarah “pengukuhan jabatan Guru Besar”.

Pencapaian ini, izinkan saya mengatakan dengan jujur, bukan mahkota untuk dinobatkan dengan sombong. Ini adalah tongkat estafet ilmu yang diwariskan generasi ke generasi, sebuah amanah akademik yang berat namun mulia — untuk terus menggali sumur pengetahuan lebih dalam, agar airnya dapat membasahi kekeringan kebodohan dan menyuburkan masa depan bangsa.

Sebelum kata-kata ini mengalir lebih jauh, perkenankanlah saya — dengan hati yang tulus dan penuh hormat — mengucapkan selamat kepada Ketua Yayasan yang telah menjadi nahkoda kapal besar bernama Universitas Bosowa, Bapak Rektor yang memimpin dengan visi dan dedikasi, para Dekan yang menjadi pilar-pilar kokoh di setiap fakultas, Guru Besar yang telah menerangi jalan dengan jejak keilmuannya, Dosen dan Tenaga Kependidikan yang tak kenal lelah menabur benih ilmu, serta mahasiswa — calon pewaris tongkat estafet ini.

Selamat atas segala pencapaian yang telah diraih dalam rentang waktu 39 tahun – Oktober nanti 40 tahun. Tiga puluh sembilan tahun — angka yang bukan sekadar hitungan kalender, melainkan saksi bisu perjuangan, keringat, air mata, dan tawa. Usia yang sudah matang, seperti pohon yang akarnya merambat dalam, siap tidak hanya berdiri tegak di tanah air sendiri, tetapi juga menjulang tinggi menembus langit kompetisi internasional.

Saya masih ingat tahun 1991 — ketika gedung-gedung kampus belum semegah ini, ketika teknologi belum secanggih sekarang, ketika saya pertama kali melangkahkan kaki sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra. Waktu itu, Universitas “45” yang kemudian bermetamorfosis menjadi Universitas Bosowa masih seperti remaja yang sedang mencari jati diri. Kini, ia telah tumbuh menjadi institusi yang disegani, dengan prestasi yang tak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Kemajuan luar biasa ini — bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dijaga dan ditingkatkan. Berkelanjutan, terus menerus, tanpa henti. Agar Universitas Bosowa bukan hanya menjadi kampus yang terpercaya di mata masyarakat, tetapi juga menjadi kebanggaan sejati bagi seluruh warga almamater — dari yang pertama kali mendaftar hingga yang terakhir lulus nanti.

Dan mudah-mudahan — kata yang penuh harap ini saya ucapkan dengan sepenuh hati — dari kampus ini akan terus menyebar ilmu yang berkah. Bukan ilmu yang mengambang di awan teori semata, melainkan ilmu yang membumi, yang amaliah, yang dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil di sudut-sudut negeri. Karena sejatinya, ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah — indah dipandang, namun tidak memberi makna. Mari kita mulai perjalanan ini dengan penuh harap dan tekad. Wallahu a’lam bishawab. (din pattisahusiwa-bersambung).

Facebook Comments Box

Baca Juga