Makassar, Pedomanku,id:
Bulan Mei tahun ini, Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar periode 2021-2026 berakhir. Karena itulah, Pemerintah Kota Makassar membuka peluang kepada ummat Islam yang memenuhi syarat untuk mendaftar.
Menjelang berakhirnya pimpinan BAZNAS di kota yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham itulah, Pedomanku,id menemui Dr.HM.Ashar Tamanggong–ketua lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan Teduh Bersinar No 5, Kecamatan Rapoccini, Rabu, 1 April lalu untuk wawancara khusus.
Sejumlah pertanyaan, mulai dari pengalaman memimpin BAZNAS lima tahun, BAZNAS ke depan, kepemimpinan yang tidak berpikir untuk diri sendiri, tidak berpikir untuk kenalan, pemimpin yang harus kuat dari tekanan-tidak gampang ditekan, tidak gampang disetir kepentingan tertentu, dan lainnya. Hasilnya dikemas dalam tulisan bersambung.
Selama kurang lebih lima tahun di BAZNAS Makassar, HM.Ashar Tamanggong memiliki segudang pengalaman, termasuk bersama jajarannya harus menghadapi prasangka prasangka yang tidak memiliki nilai nilai kebenaran. Pengalaman ber-BAZNAS itulah membuatnya tegar.
Ashar mengetahui persis bahwa, BAZNAS berdiri di persimpangan dua jalan. Yakni, jalan kemajuan yang memenuhi harapan ribuan mustahik, dan jalan keraguan, hingga berujung pada menurunnya zakat partisipasi. Karenanya, peran pemimpin yang berintegritas menjadi titik balik!
“Kita ketahui bersama bahwa, pimpinan BAZNAS itu berada di persimpangan, antara hati yang memberi dan tangan yang menyalurkan. Dengan demikian, jabatan di BAZNAS bukan sekadar “menyelesaikan tugas administratif”, melainkan menghidupkan amanah, menegakkan keadilan, dan mencontohkan etika kepemimpinan,” ujarnya.
Bagi ATM—sapaan akrab da’i kondang kelahiran Dusun Terang Terang, Desa Popo, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, 17 Februari 1973 itu, BAZNAS adalah cermin keadilan sosial. Jika cermin itu bersih, maka cahaya zakat yang mengalir akan menembus kegelapan, sekaligus memberi harapan baru, dan mengangkat ummat dari jeratan kemiskinan di masa datang. Jika cermin itu buram, maka berbahaya.
Karenanya, penulis buku “Langit tak Pernah Offline” ini berharap, pemimpin BAZNAS setelah dirinya, bukan semata mengisi jabatan administrasi, dan tidak hanya berada di belakang meja, melainkan dituntut bekerja keras, bekerja cerdas, sekaligus menegakkan dan menyalurkan rahmat Allah secara tepat kepada mustahik.
“Jika pimpinan BAZNAS melalaikan kerja keras, maka ketidakseimbangan akan terus meluas—orang kaya tetap menumpuk, sementara yang miskin terpinggirkan. Sebaliknya, pemimpin yang giat dan tekun mampu mengoptimalkan aliran dana zakat, infak, dan shedekah dengan baik dan benar,” ujarnya.
Menyinggung kerja keras, ayah dua orang anak dan suami dari Hj.Rugaya,ST ini menyebut, tidak berarti memaksa diri hingga lelah, melainkan adalah ikhtiar yang terarah, didasari niat ikhlas. Dengan demikian, pimpinan BAZNAS yang rajin bekerja meneladankan “Ukhuwah Fi Sabilillah”—persaudaraan dalam menegakkan jalan Allah. (din pattisahusiwa/tim media baznas makassar)