160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Munafri Matangkan Revitalisasi Pedestarian dan Peluasan MCH

Makassar, Pedomanku.id:

Makassar adalah Kota Kreatif Indonesia yang dinobatkan pada tahun 2023 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pengakuan ini diberikan karena potensi ekonomi kreatifnya yang kuat, terutama subsektor kuliner seperti Coto Makassar dan didukung oleh berbagai industri lain seperti kriya, seni, dan fashion. Kota ini juga aktif mengembangkan ekosistem kreatifnya melalui program seperti Makassar Creative Hub dan berupaya masuk dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO

Guna memperkuat identitasnya sebagai kota kreatif tersebut, Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, didampingi Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Makassar, Hendra Hakamudin, pada Rapat Koordinasi (Rakor) revitalisasi pedestrian dan perluasan Makassar Creative Hub (MCH) di sejumlah kecamatan, Selasa, 18 November 2025 mengemukakan, pembangunan kota harus menghadirkan ruang hidup yang inklusif, nyaman, dan menggerakkan aktivitas warganya.

Di hadapan jajaran perangkat daerah dan tim perancang, Munafri menekankan, transformasi ruang publik tidak boleh berjalan setengah hati, karenanya,  revitalisasi pedestrian dan penguatan ekosistem kreatif adalah dua elemen penting yang akan menentukan wajah Makassar dalam beberapa tahun ke depan.

Walikota bergelar sarjana hukum itu menegaskan, pembangunan kota yang lebih inklusif, dan kreatif dalam rapat koordinasi revitalisasi pedestrian dan ruang-ruang publik, serta pembangunan MCH di sejumlah kecamatan.

Menurutnya, melalui Rakor revitalisasi pedestarian dan perluasan MCH itu, maka Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memprioritaskan pembangunan infrastruktur, tidak hanya sekadar memperbaiki fisik kota, tetapi menciptakan ruang hidup yang menggerakkan masyarakat.

Appi-sapaan akrab walikota berpasangan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham ini mengakui, saat ini, Makassar telah memiliki dua MCH, di Kawasan Jalan Nusantara dan Pantai Losari. Dua lokasi baru disiapkan di Kecamatan Biringkanaya dan Rappocini, lalu beberapa penjajakan lokasi sedang dilakukan di kecamatan lainnya, termasuk untuk wilayah kepulauan.

“Kita ketahui bersama bahwa, MCH bukan sebatas proyek bangunan, tetapi ekosistem kreatif yang harus berfungsi. Ia menuturkan pengembangan cabang MCH harus mampu menghidupkan ruang ide dan sosial sesuai dengan potensi wilayah. Begitu bangunan jadi, staffnya juga harusnya sambil dibangun, SDM-nya sudah dilatih. Begitu MCH selesai, aktivitas bisa langsung jalan,” ujarnya seraya menekankan pentingnya standar hospitality bagi pengelola MCH seperti kesiapan dan kualitas SDM.

Di sisi lain, Appi melihat, selain pedestrian dan MCH, Munafri memperkenalkan pendekatan akupuntur arsitektur, yakni menciptakan ruang interaksi kecil dan strategis di tengah kepadatan kota. Karenanya, ia menyarankan kemungkinan pembebasan beberapa rumah di titik tertentu untuk dijadikan ruang napas warga.

Misalnya, dua, atau tiga rumah dibeli, kemudian dijadikan ruang publik. Tempat seperti ini akan jadi titik temu masyarakat. Makanya, ia mengharapkan, dinas terkait menjadi motor penggerak, bukan hambatan.

“Saya berharap, dinas tidak boleh main main, melainkan harus saling mensupport. Mereka ini anchor-nya. Kalau pondasinya kuat, programnya jalan. Dengan dmeikian apa yang kita harapkan akan tercapai,” jelas suami Melinda Aksa ini.

Rapat tersebut menghadirkan IAI Principal Arsitek, Yulianti Tanyadji, yang memaparkan konsep revitalisasi pedestrian di empat koridor utama. Diantaranya kawasan Hasanuddin, Pattimura, Thamrin, dan Kajaolalido.

Dalam paparannya, Yulianti menyoroti sejumlah persoalan teknis yang harus ditangani mulai dari pelebaran trotoar, perbaikan drainase menjadi jalur pedestrian hijau, penataan titik lampu jalan dan kabel udara, hingga penataan ulang pepohonan.

“Penghijaun harus tetap menjadi prioritas. Pohon yang masih sehat kita pertahankan, yang mati kita ganti. Kita ingin koridor ini bukan hanya rapi, tapi hidup,” tutup Yulianti. (din)

Facebook Comments Box

Baca Juga