Oleh: Zaenuddin Endy
Relasi antar generasi intelektual NU merupakan proses panjang yang menandai kesinambungan wacana keislaman, kebangsaan, dan kemasyarakatan dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Relasi ini tidak bersifat linear atau mekanis, melainkan dialogis, dinamis, dan kerap mengalami ketegangan kreatif antar generasi. Dari sini NU justru memperlihatkan daya hidup intelektual yang tidak beku oleh zaman.
Generasi intelektual NU klasik membangun fondasi wacana dengan bertumpu pada tradisi pesantren, kitab kuning, dan otoritas keilmuan ulama. Mereka meneguhkan Aswaja sebagai kerangka epistemologis dan teologis yang menjaga keseimbangan antara teks, akal, dan spiritualitas. Fondasi ini menjadi rujukan moral sekaligus epistemik bagi generasi berikutnya.
Generasi transisi, khususnya pada era kemerdekaan hingga Orde Baru, berada pada posisi strategis sebagai jembatan antara tradisi pesantren dan tuntutan negara-bangsa modern. Intelektual NU pada fase ini mulai aktif dalam perdebatan konstitusi, ideologi negara, pendidikan nasional, dan politik praktis. Di sinilah wacana NU mengalami perluasan dari ranah keagamaan ke ruang publik yang lebih luas.
Relasi antara generasi klasik dan transisi tidak selalu berlangsung mulus. Ada perbedaan gaya berpikir, medium ekspresi, serta orientasi praksis. Namun perbedaan itu tidak memutus kesinambungan, melainkan memaksa NU untuk melakukan reinterpretasi tradisi secara kontekstual tanpa kehilangan akar normatifnya.
Memasuki era modern dan reformasi, generasi intelektual NU mengalami ekspansi besar-besaran ke dunia akademik, media, dan masyarakat sipil. Mereka memperkenalkan pendekatan interdisipliner, teori sosial kritis, dan metodologi ilmiah kontemporer dalam membaca Islam dan realitas Indonesia. Di fase ini, tradisi NU diuji oleh globalisasi dan arus pemikiran transnasional.
Relasi generasi transisi dan modern berlangsung dalam bentuk pewarisan nilai, bukan penyalinan gagasan secara mentah. Prinsip tasamuh, tawassuth, dan tawazun diwariskan sebagai etos, sementara bentuk artikulasinya disesuaikan dengan konteks zaman. Hal ini menunjukkan fleksibilitas tradisi NU yang adaptif.
Kesinambungan wacana NU juga ditopang oleh institusi-institusi kaderisasi seperti pesantren, madrasah, perguruan tinggi, dan organisasi badan otonom. Di ruang-ruang ini, interaksi lintas generasi berlangsung secara alami melalui diskusi, pengajaran, dan praksis organisasi. Tradisi keilmuan tidak diwariskan secara dogmatis, tetapi melalui keteladanan.
Generasi muda NU di era digital menghadapi tantangan baru berupa fragmentasi otoritas keilmuan dan banjir informasi. Dalam konteks ini, relasi dengan generasi senior menjadi penting untuk menjaga kedalaman tradisi dan akurasi keilmuan. Kesinambungan wacana menjadi benteng dari simplifikasi dan populisme keagamaan.
Namun demikian, generasi muda NU tidak sekadar menjadi penerima warisan. Mereka juga produsen wacana baru yang mengangkat isu-isu hak asasi manusia, ekologi, kesetaraan gender, dan demokrasi substantif. Relasi antar generasi berlangsung dua arah: pewarisan dan pembaruan berjalan bersamaan.
Dialog antar generasi intelektual NU sering kali muncul dalam bentuk perdebatan konseptual yang sehat. Perbedaan pandangan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari tradisi ijtihad jamai. Kultur ini memperlihatkan kedewasaan organisasi dalam mengelola perbedaan.
Kesinambungan wacana NU juga terlihat dalam keberlanjutan narasi keislaman yang ramah terhadap kebudayaan lokal. Generasi lama meletakkan dasar, generasi baru mengartikulasikannya dalam bahasa global. Dengan demikian, Islam Nusantara berkembang sebagai wacana yang hidup, bukan slogan statis.
Relasi ini turut menjaga NU dari jebakan ekstremisme dan formalisme keagamaan. Generasi lama mengajarkan kedalaman spiritual, sementara generasi baru memperkuat analisis sosial dan struktural. Keduanya saling melengkapi dalam membangun Islam yang substantif.
Dalam konteks kebangsaan, kesinambungan wacana NU menjamin konsistensi sikap terhadap Pancasila, NKRI, dan demokrasi. Meski narasi dan strategi berubah, komitmen dasarnya tetap terjaga lintas generasi. Hal ini menjadi salah satu keunggulan intelektual NU.
Relasi antar generasi juga membentuk memori kolektif NU. Pengalaman sejarah, trauma politik, dan keberhasilan dakwah menjadi pelajaran bersama yang membentuk kebijaksanaan organisasi. Generasi baru tidak memulai dari nol, tetapi dari akumulasi pengalaman panjang.
Kesinambungan wacana ini tidak berarti menutup ruang kritik terhadap generasi sebelumnya. Justru kritik internal menjadi mekanisme koreksi yang memperkuat tradisi. NU tumbuh bukan karena ketaatan buta, melainkan karena keberanian berpikir dalam kerangka adab.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, relasi antar generasi intelektual NU menjadi penopang stabilitas pemikiran. Ia memastikan bahwa pembaruan tidak kehilangan arah, dan tradisi tidak berubah menjadi beban. Keseimbangan inilah yang menjaga NU tetap relevan.
Tantangan ke depan menuntut penguatan ruang dialog lintas generasi yang lebih sistematis. Forum intelektual, riset kolaboratif, dan publikasi ilmiah menjadi medium penting untuk mempertemukan pengalaman dan gagasan. Tanpa itu, kesinambungan wacana bisa melemah.
Relasi generasi dalam NU pada hakikatnya adalah relasi nilai. Yang diwariskan bukan sekadar pendapat, tetapi etika berpikir, keberanian bersikap, dan tanggung jawab sosial keilmuan. Inilah modal utama keberlanjutan intelektual NU.
Dengan demikian, kesinambungan wacana NU bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari relasi antar generasi yang terawat. Dialog, kritik, dan adaptasi menjadi mekanisme utama transmisi intelektual. Di sinilah NU menunjukkan dirinya sebagai tradisi hidup yang terus bergerak.
Relasi antar generasi intelektual NU memastikan bahwa NU tidak hanya besar secara struktural, tetapi juga matang secara intelektual. Kesinambungan wacana menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan, menjaga NU tetap berakar sekaligus menjulang. Wallahu A’lam Bissawab. (Wakil Ketua ISNU Kota Makassar)