160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT


Harlah Ansor ke-92: Setia Mengawal Ulama, Aswaja, dan NKRI

Oleh : Zaenuddin Endy

Hari lahir Gerakan Pemuda Ansor ke-92 pada 24 April 2026 menjadi momentum reflektif atas perjalanan panjang organisasi kepemudaan yang telah mengakar kuat dalam sejarah kebangsaan dan keislaman di Indonesia. Sejak didirikan pada 24 April 1934, Ansor tidak sekadar hadir sebagai organisasi pemuda, tetapi sebagai garda terdepan dalam menjaga nilai, tradisi, dan keberlanjutan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usia 92 tahun bukanlah rentang waktu yang singkat. Ia merupakan akumulasi pengalaman, pengorbanan, dan konsistensi dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga era digital saat ini, Ansor tetap teguh dalam menjalankan khittah perjuangannya yang berakar pada nilai-nilai keulamaan, keislaman, dan kebangsaan.

Terdapat tiga tugas utama yang menjadi fondasi gerakan Ansor, yakni menjaga ulama, merawat Aswaja, dan mempertahankan NKRI. Ketiganya bukan sekadar slogan, melainkan prinsip ideologis yang harus diinternalisasi dalam setiap gerak langkah kader. Ketika tiga pilar ini dijalankan secara konsisten, maka Ansor akan tetap relevan dalam setiap fase perubahan sosial.

Menjaga ulama menjadi tugas utama yang tidak dapat ditawar. Ulama adalah pewaris para nabi yang menjadi sumber rujukan keilmuan dan moral bagi umat. Dalam konteks ini, Ansor tidak hanya berperan sebagai pelindung secara fisik, tetapi juga sebagai penjaga martabat dan kehormatan ulama dari berbagai bentuk delegitimasi dan disinformasi.

Peran ini menjadi semakin penting di era informasi yang serba cepat, di mana otoritas keilmuan sering kali dipertanyakan oleh narasi-narasi instan yang tidak memiliki basis keilmuan yang kuat. Oleh karena itu, kader Ansor dituntut memiliki literasi yang memadai agar mampu membedakan antara otoritas yang sahih dan opini yang menyesatkan.

Tugas kedua adalah merawat Aswaja. Ahlussunnah wal Jamaah bukan hanya sebuah doktrin teologis, tetapi juga sistem nilai yang mencakup aspek akidah, syariah, dan tasawuf. Merawat Aswaja berarti menjaga keseimbangan antara teks dan konteks, antara normativitas ajaran dan realitas sosial.

Dalam praktiknya, merawat Aswaja dilakukan melalui pengamalan tradisi-tradisi keagamaan yang telah diwariskan oleh para ulama, seperti pembacaan barazanji, tahlilan, istighasah, serta ziarah makam para wali dan ulama. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi sarana internalisasi nilai spiritual dan historis yang menghubungkan generasi sekarang dengan akar tradisinya.

Ziarah makam, misalnya, mengandung dimensi edukatif yang mendalam. Ia mengajarkan tentang kefanaan hidup, pentingnya keteladanan, serta penghormatan terhadap jasa para pendahulu. Dalam perspektif ini, Ansor berperan sebagai agen pelestari tradisi yang sarat makna tersebut.

Selain itu, pembacaan barazanji dan praktik-praktik keagamaan lainnya menjadi medium untuk menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat. Nilai kebersamaan, solidaritas, dan spiritualitas tumbuh melalui praktik-praktik tersebut.

Tugas ketiga yang tidak kalah penting adalah mempertahankan NKRI. Ansor sejak awal telah menegaskan komitmennya terhadap keutuhan bangsa. Nasionalisme bagi Ansor bukanlah konsep yang bertentangan dengan agama, melainkan bagian integral dari pengamalan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga kemaslahatan bersama.

Dalam konteks ini, Ansor memandang NKRI sebagai konsensus final yang harus dijaga dari berbagai ancaman, baik yang bersifat ideologis, radikal, maupun disintegratif. Kader Ansor dituntut untuk memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi serta kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas sosial.

Komitmen terhadap NKRI juga tercermin dalam keterlibatan aktif Ansor dalam berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, dan kebencanaan. Hal ini menunjukkan bahwa Ansor tidak hanya hadir dalam wacana, tetapi juga dalam aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Lebih dari itu, kader Ansor sejatinya adalah pribadi yang memiliki karakter dan etika yang kuat. Karakter ini dibentuk melalui proses kaderisasi yang sistematis, yang menekankan pada integritas, loyalitas, dan tanggung jawab sosial. Etika menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik.

Kader Ansor harus mampu menjadi teladan di tengah masyarakat, baik dalam ucapan maupun tindakan. Mereka dituntut untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, kejujuran, serta sikap moderat dalam menyikapi perbedaan. Dengan demikian, Ansor dapat menjadi representasi Islam yang ramah dan inklusif.

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, tantangan yang dihadapi Ansor semakin kompleks. Namun, dengan berpegang teguh pada tiga tugas utama tersebut, Ansor memiliki pijakan yang kuat untuk tetap eksis dan berkontribusi dalam membangun peradaban.

Momentum Harlah ke-92 ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial, tetapi juga sebagai titik tolak untuk memperkuat konsolidasi organisasi dan meningkatkan kualitas kader. Evaluasi dan inovasi menjadi kunci untuk menjawab tantangan masa depan.

Ansor harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat untuk memperluas dakwah dan memperkuat jaringan, bukan sebagai ancaman yang menggerus nilai-nilai tradisional.

Akhirnya, Harlah ke-92 Gerakan Pemuda Ansor menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Menjaga ulama, merawat Aswaja, dan mempertahankan NKRI adalah tugas yang harus terus dilanjutkan oleh setiap generasi kader.

Dengan semangat yang terus menyala, Ansor diharapkan mampu menjadi pilar penting dalam menjaga keseimbangan antara agama dan negara, antara tradisi dan modernitas, serta antara spiritualitas dan kebangsaan. Inilah esensi perjuangan yang harus terus dirawat dan diwariskan. (Alumni Kader Ansor Sulawesi Selatan)

Facebook Comments Box

Baca Juga