Makassar, Pedomanku,id:
Dua kelompok anak muda yang menamakan diri Anak Onta, serta Rajawali Bersatu (RBS) yang terlibat konflik berhasil didamaikan. Pendamainya bukan aparat keamanan berompi antipeluru, melainkan juga oleh anak muda yang memiliki kemampuan ‘pendengaran’ yang jarang dimiliki orang lain. Dia adalah Tasbih Mursalin– Wakil Ketua DPP-Angkatan Pembaharuan Pemuda Indonesia (APPI).
Tasbih Mursalin paham betul bahwa, mendamaikan pemuda dalam konflik tidak semata melalui jalur formalitas. Perlu ada pendekatan “kultur lokal”—ngobrol santai, menghargai masing-masing, dan tentunya memberikan ruang bagi mereka untuk merasa diakui.
Bekal pendekatan itulah, maka Tasbih Mursalin terjun langsung mendamaikan kedua kelompok pemuda ini (Anak Onta dan RBS) di kawasan Center Point of Indonesia—CPI, Ahad 26 Mei 2026.
Dalam pandangan Tasbih Mursalin, ketika dua orang pemuda bertikai, setidaknya tidak perlu dicari siapa yang paling benar, dan siapa yang salah. Tetapi, sejatinya adalah mengajak keduanya untuk “memperbaiki hubungan”.
Proses mediasi yang dilakukan Tasbih Mursalim adalah, mengedepankan dialog terbuka, sekaligus menanamkan pentingnya persatuan, dan solidaritas antar pemuda.
“Saya mau menegaskan bahwa, konflik hanya akan merugikan semua pihak dan menghambat kemajuan bersama. Saya juga bilang ke mereka, saya hadir untuk mendamaikan. Mengapa? Ya, karena saya Cinta Ki dan Sayangki semua ndi’-ndiku Saribattangku, saya tidak mau kalau ada yang saling melukai, baku Jagaki, Baku sayangki” jelasnya.
Model pendekatan persuasif yang dilakukan Tasbih Mursalin inilah, maka kedua kelompok anak muda sepakat menghentikan perselisihan, dan kembali menjaga kondusivitas lingkungan.
Kak ABI—sebutan akrab Tasbih Mursalin juga mengapresiasi sikap kedua kelompok yang bersedia duduk bersama dan menyelesaikan permasalahan secara damai. Pedamaikan kedua kelompok ini menjadi contoh positif bahwa, setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.
Langkah mediasi yang dilakukan Kak ABI patut diapresiasi sebagai bentuk kepemimpinan yang mengedepankan dialog dan penyelesaian konflik secara damai. Keberhasilan meredam ketegangan antara kedua kelompok menunjukkan bahwa, pendekatan persuasif dan komunikasi yang baik masih menjadi solusi efektif dalam menjaga ketertiban dan keharmonisan di tengah masyarakat.
Dengan tercapainya kesepakatan damai ini, diharapkan situasi kembali aman dan kondusif, serta tidak terjadi lagi konflik serupa di kemudian hari. Seluruh elemen pemuda juga diharapkan dapat lebih mengedepankan dialog, persaudaraan, serta sikap saling menghargai dalam menyikapi setiap perbedaan.
“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang turut membantu proses perdamaian, di antaranya Ada Mas Wandy, Pak Boghel, Pak Padomo, dan Pak Donald, yang telah berkontribusi hingga proses mediasi berjalan dengan baik,” urainya.
Sebelum mengakhiri pernyataannya, ABI mengajak seluruh masyarakat di kota yang kini dipimpin Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham ini untuk menjaga ibukota Sulawesi Selatan ini agar tetap aman, dan damai selalu.
“Ayo, mari kita semua menjaga Makassar ini. Semua orang tau, kalau Makassar ini, adalah kota dengan semangat yang berapi-api. Makanya, tugas kita semua, dan tentunya tugas APPI adalah memastikan cahaya api mengalirkan jalan bagi masa depan generasi muda yang lebih maju,” tutupnya. (rls-din pattisahusiwa)